Apakah kamu sebahagia diriku?

Ada sebuah kisah yang selalu saya ingat dari Prie GS, seorang sastrawan penggoda Indonesia, mengenai kebahagiaan. Saya tidak begitu ingat detail kisahnya. Hanya saja makna atau gambaran besar dari kisah tersebut selalu saya ingat. Kisah tersebut bermula dari proses Kang Prie mencari keindahan nyanyian dari seekor burung.

Suatu hari, kang Prie mencari burung yang bisa mengeluarkan suara-suara dan nyanyian merdu; sampai akhirnya bertemulah dengan seorang penjual burung. Penjual tersebut menawarkan sepasang burung yang dapat menyanyikan suara-suara merdu dengan syarat, pasangan burung tersebut tidak boleh disatukan dalam satu kandang. Kedua burung tersebut harus dipisahkan guna dapat menghasilkan suara-suara merdu. Mendengar persyaratan dan dampak yang dapat dihasilkan, Kang Prie pun membeli sepasang burung tersebut.

Hari demi hari berlalu, kedua burung tersebut dipisahkan ke dalam kandang yang berbeda dan hasilnya benar seperti kata sang penjual, menghasilkan suara-suara nan merdu. Senang sekali rasanya Kang Prie bisa menikmati alunan nada-nada dari sepasang burung tersebut. Namun sayang, pada suatu hari, burung tersebut harus digabungkan ke dalam satu kandang karena ada masalah teknis dengan kandang yang satunya. Sambil menunggu kandang yang satunya diperbaiki, Kang Prie pun terpaksa menggabungkan sepasang burung tersebut ke dalam satu kandang.

Dan apa yang terjadi setelah sepasang burung tersebut disatukan? Hening! Kedua burung tersebut malas bersuara. Keduanya seperti orang yang sedang kasmaran. Duduk tersipu malu; Tanpa suara; hanya saling menatap mengisi kekosongan hati. Geram hati Kang Prie melihat dan mendengarnya. Sudah dikasih makan, sudah dikasih minum, tapi tetap tidak bersuara. Bingung Kang Prie melihat hal ini.

Beruntunglah tak lama berselang, masalah pada kandang yang satu telah selesai sehingga sepasang burung tersebut dapat diletakkan terpisah ke kandangnya masing-masing. Setelah hal tersebut dilakukan oleh Kang Prie, ya benar kedua burung tersebut kembali mengeluarkan suara-suara merdu.

Tiba-tiba terlintas di fikiran Kang Prie, “kenapa burung-burung ini malah diam ya jika saya gabungkan, akan tetapi malah berkicau indah ketika saya pisahkan?”. Bertanya dan berkonklusi di dalam hati, mungkin kicau yang selama ini didengar sebenarnya merupakan luapan emosional dari terpisahnya burung-burung tersebut. Suara yang terdengar indah itu sebenarnya tak lebih dari sebuah ratapan dan realisasi audial sebuah perasaan rindu. Yang selama ini di dengar indah dan merupakan kebahagiaan oleh Kang Prie, ternyata merupakan sebuah kesedihan dan tangis dari burung-burung tersebut.

Yap, kurang lebih seperti itu kisah dari Prie GS mengenai kebahagiaan. Sebuah kisah yang sangat aspiratif dan menyentuh untuk saya. Mengingatkan kita bahwa kita seringkali tersenyum dan bahagia, yang secara tidak langsung malah menginjak dan membuang kebahagiaan orang lain.

Kisah di atas sering membuat saya berfikir, apakah kebahagiaan saya merepotkan kebahagiaan orang lain? Saya tidak tahu jawabnya. Yang bisa saya lakukan sekarang adalah mencoba untuk membaca dan mengerti kehadiran orang lain guna menghasilkan sebuah kebahagiaan bersama.

Jangan mengganggu kebahagiaan orang lain demi kebahagiaan pribadi!
Hargai yang harus dihargai!
Hidup itu indah ketika masing-masing kita berdiri pada peran yang tepat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top