Belkitakbolang, Sebuah Pendekatan Humanis

Kata Belkitakbolang pertama kali saya dengar dari sahabat hidup saya, Myra Sapphira Tyagita. Belkitakbolang merupakan akronim dari “Belok Kiri Tidak Boleh Langsung!”. Hmm, sebuah akronim yang sedikit aneh, tetapi perlahan lezat untuk diucapkan.

Baru-baru ini, muncul peringatan belkitakbolang yang ditujukan kepada para pengguna kendaraan. Peringatan belkitakbolang ini tertuang dalam UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Umum. Pada pasal 112, ayat 3 disebutkan : “Pada persimpangan Jalan yang dilengkapi Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas, Pengemudi Kendaraan dilarang langsung berbelok kiri, kecuali ditentukan lain oleh Rambu Lalu Lintas atau Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas”.

Dari berita-berita yang saya baca, ada 3 alasan mengapa muncul peringatan belkitabolang. Alasan pertama, untuk memberikan jaminan keselamatan ke penyeberang jalan. Kedua, geometrik persimpangan-persimpangan yang ada di wilayah Jakarta tidak semuanya diperbolehkan untuk belok kiri langsung. Dan ketiga, penerapan aturan tersebut untuk menumbuhkan kepatuhan terhadap rambu-rambu lalu lintas dan marka jalan. Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Pol Condro Kirono mengatakan bahwa di beberapa negara maju seperti Jepang dan Singapura, aturan tersebut sudah diterapkan sejak lama dengan alasan mitigasi terhadap kecelakaan.

Sebagai mantan pejalan kaki dan (kini) pengguna kendaraan pribadi, saya sangat menyukai dan menghargai adanya peringatan belkitakbolang. Belkitakbolang, buat saya, merupakan sebuah pendekatan yang dirancang untuk memberikan penghormatan dan pengutamaan terhadap pedestrian (pejalan kaki). Selama ini, dengan kendaraan dapat langsung berbelok kiri, menjadi sebuah ketakutan tersendiri untuk pedestrian melangkahkan kaki menyeberang pada zebra cross. Zebra cross seringkali diletakkan di pangkal jalan atau dekat dengan perempatan, sehingga jika kendaraan dapat melaju kencang ketika berbelok kiri, keamanan dan kenyamanan menggunakan zebra cross menjadi suatu hal yang diragukan hasilnya. Hal ini mungkin menjadi salah satu penyebab zebra-cross kini hanya menjadi sebuah lukisan kubisme hitam-putih di atas kanvas aspal.

Belkitakbolang memberikan kesempatan yang sangat manusiawi kepada pedestrian. Sebuah pendekatan yang humanis dalam menciptakan kerukunan hidup berlalu lintas di Indonesia. Semoga semakin banyak pendekatan-pendekatan humanis yang diterapkan pemerintah untuk kehidupan urban Indonesia.

—————————————————————————————————————

Beberapa hari yang lalu, saya sempat menghabiskan satu malam di kota parahyangan, Bandung. Sebuah kejutan visual buat saya ketika melewati Jalan Dago. Suasana yang cukup berbeda dibandingkan ketika saya masih berkuliah disana. Sepanjang jalan dago, saya melihat keramaian manusia mengisi ruang-ruang publik. Berbagai komunitas menikmati malam di ruang-ruang terbuka tanpa perlu menonjolkan dan mengangkat identitas masing-masing. Komunitas bikers, komunitas anak punk, komunitas anak gaul, komunitas mahasiswa; semuanya membaur tanpa perlu mencitrakan sebuah dikotomi status. Bahkan, median jalan pun dipenuhi oleh segerombolan manusia, entah itu dari komunitas mahasiswa, komunitas punk, atau memang gelandangan, yang mencoba peruntungan menjajakan alunan suara mereka kepada para pengguna mobil.

Di masa ketika saya kuliah, keramaian ini memang sudah ada, namun belum seramai sekarang. Jalanan dan ruang-ruang publik kini dipenuhi oleh aktivitas intramanusiaRuang-ruang kosong di trotoar dan taman, diisi dengan aktivitas saling berbagi. Diiringii oleh cuaca yang sejuk, menambah semarak kebahagiaan malam bagi para penikmat ruang publik Bandung. Sebuah pemandangan yang sangat jarang untuk dinikmati di kota Jakarta.

Saya pribadi sangat menyenangi suasana humanis di Jalan Dago, Bandung. Manusia, sebagai insan Tuhan, berada pada kodratnya untuk saling berbagi, saling berkomunikasi, saling membuar dalam sebuah lingkungan besar. Meskipun terkadang terjadi disorientasi legalitas dan apresiasi, masih ada nikmat hati untuk memberikan tolerir kepada disorientasi tersebut. Damai sekali melihat ada kehidupan masyarakat yang terbuka ini. Kaki-kaki manusia berjalan pada lantai-lantai taman. Senyum dan tawa menghiasi gelapnya malam.  Sangat berbeda dengan kota Jakarta, dimana kaki-kaki manusia tergantikan oleh ban-ban mobil di jalanan. Jalanan pun dihiasi dengan emosi dan keinginan berkompetisi ingin salip-menyalip. Di sebagian Jakarta, Budaya untuk membaur tergantikan oleh budaya going to mall. Kedai kopi modern menjadi tempat nongkrong yang menyediakan ruang-ruang personal nan karismatik secara prestise. Tidak terasa adanya pembauran antar komunitas. Hambar dari sisi humanis!

Saya berharap, bangsa ini bisa selalu memperhatikan nilai-nilai manusiawi dalam kehidupan sehari-hari. Semoga elemen-elemen di ruang publik dapat diutamakan bagi para penikmat jalan dan ruang terbuka. Semoga semua sarana dan prasarana yang dihasilkan di bumi Indonesia ini bisa menyentuh sisi humanis manusia. Semoga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *