Menikmati Jakarta

Suatu waktu di teater salihara, teman saya bertanya, “kenapa kok bisa ada kota metropolitan sebesar Jakarta yang dibangun begitu salah, entah apa yang salah, tapi kok bisa begitu salahnya kota ini?”. Sangking bingungnya dia dengan kota ini, dia tidak tahu harus menggunakan kata apa untuk mewakili begitu salahnya kota ini dibangun.

Jakarta, ibukota negara ini, memang menjadi magnet yang luar biasa bagi warga Indonesia. Dalam bukunya Kota Rumah Kita, karya Marco Kusumawijaya, “daya tarik” kota Jakarta ini dijabarkan dengan kritis oleh sang penulis. Sedap dan tajam rasanya membaca buku ini. Jakarta secara tidak langsung bersalah atas dirinya sendiri dalam proses pengkotaan Jakarta kini. Jakarta seharusnya bisa menjadi sebuah kota metropolitan yang bersahabat dengan warganya. Jakarta harus bisa menjadi miniatur Indonesia yang dibangun dengan proses dan hasil yang baik. Seperti slogan Jakarta-tourism,, enjoy Jakarta, seharusnya Jakarta bisa dinikmati, tak hanya oleh warganya sendiri, tetapi juga oleh warga asing ataupun warga lokal lainnya.

 Jakarta saat ini merupakan lumbung perekonomian Indonesia. Dari sisi penyebaran uang, 57% Dana Pihak Ketiga Perbankan ada di kota ini. Rp 678 Triliun (Per April 2008, sumber : SPI) ada di bank-bank di kota Jakarta. Jelas, penyebaran uang sejalan dengan perkembangan ekonomi. Jadi, jika penyebaran uang terkonsentrasi di sebuah kota, maka perkembangan ekonomi juga tersentralisasi di kota tersebut. 9% dari PDB (Produk Domestik Bruto) Nasional berasal dari satu kota ini. Terlihat bahwa Jakarta menjadi pusat perekonomian Indonesia. Pembangunan Jakarta memang sebuah anomali. Meskipun banyak hal negatif yang terjadi di jakarta, seperti tingkat kemacetan yang luar biasa parah, tingkat polusi udara yang cukup tinggi, hadirnya banjir musiman, ataupun kesemrawutan kebijakan pemda; Jakarta tetap terus membangun dan membangun. Jakarta, sekali lagi, terus menjadi pusat kehidupan ekonomi bangsa ini.

Grafik (pie chart) di kiri diolah berdasarkan data BPS (Jakarta dalam Angka) pada tahun 2006. Terlihat bahwa menurut penggunaan lahan, paling besar porsi nya untuk perumahan, yang mencapai 64%; dan yang cukup menyedihkan adalah porsi untuk taman, yang hanya mencapai 2%. Seharusnya porsi untuk taman dapat diperbanyak sehingga menghasilkan kota yang tetap hijau, kota yang memberikan kenyamanan untuk warganya menikmati indahnya ruang terbuka. . Jakarta harus berbenah. Banyak PR yang harus dibenahi Jakarta. Dan memang, “Jer Basuki Mawa Beya” kata orang Jawa, yang artinya Bahwa untuk mencapai sesuatu diperlukan pengorbanan. Untuk mencapai mimpinya menjadi sebuah kota metropolitan yang ideal, Jakarta membutuhkan pengorbanan, baik materiil maupun nonmateriil. Meskipun tidak seharusnya kita mengkambinghitamkan budget dalam proses pembangunan, namun kenyataannya keterbatasan anggaran merupakan salah satu faktor yang membuat Jakarta belum menjadi kota ideal.

Dari sisi transportasi, kita melihat bahwa Jakarta saat ini sangat mengalami ketertinggalan dibandingkan kota metropolitan negeri tetangga, Singapore atau Kuala Lumpur. Transportasi massal Indonesia belum direncanakan dan dipersiapkan dengan matang. Busway yang menjadi senjata andalan dalam mengusir kemacetan belum berjalan sebagaimana yang diimpikan. Semula busway diharapkan dapat membuat pengguna kendaraan pribadi bisa beralih ke moda transportasi massal ini, namun yang kini terjadi, pengguna busway tetap saja pengguna bus-bus umum yang dulu. Jadi busway seolah hanya menjadi substitusi pengguna bus umum menjadi busway. Kurangnya armada pengangkutan busway,waktu tunggu di halte yang cukup lama dan tidak menentu, kepadatan penumpang pada jam-jam sibuk (peak hour), jalur busway yang ternyata tidak bebas dari mobil pribadi, dan belum adanya teknologi canggih (seperti easylink di Singapore – kesatuan dan sinkronisasi transportation tools) membuat busway belum se-garang lambangnya (seekor burung elang yang menggambarkan kecepatan dan keuletan) Monorail yang di awal tahun 2003 sangat diidamkan dapat menjadi moda transportasi massal yang baru, ternyata mengalami kemandekan. Kolom-kolom monorail yang telah dibangun kini menjadi kumpulan-kumpulan tugu tak bertuan. Lagi-lagi, hal ini disebabkan karena keterbatasan biaya. Semoga semangat untuk membangun kembali monorail kembali membara. Bagi saya, Infrastruktur jalan atau aksesibilitas transportasi publik merupakan hal penting pertama yang harus dibenahi di Jakarta. Itulah kenapa saya membicarakan busway dan monorail dulu di atas. Tanpa bermaksud mengenyampingkan isu lain, isu transportasi Jakarta sudah terlalu menggunung, bahkan menyentuh lapisanExosphere . Selama ini Jakarta sudah sangat identik dengan kemacetan. Bahkan Jakarta diberikan “gelar” oleh majalah TIME sebagai Tempat Melatih Kesabaran di Asia Tahun 2009. Kemacetan membuat banyak hal produktif hilang dengan sia-sia. Kemacetan membuat kendaraan-kendaraan lebih banyak menghabiskan bahan bakarnya di jalan. Kemacetan membuat polusi udara berkumpul dan menjadikan Jakarta sebagai Kota No.3 Berpolusi udara terkotor (World Bank). Kemacetan membuat psikis dan fisik seseorang terkuras selama perjalanan. Saya yakin petinggi-petinggi disana adalah orang pintar dan ahli pada bidangnya. Ayo ciptakan terobosan untuk mengatasi kemacetan. Jangan jadikan keterbatasan anggaran sebagai penghalau mimpi. Buat slogan enjoy Jakarta benar-benar nikmat dari sisi transportasi.

Selain masalah transportasi, masalah kepadatan penduduk juga harus menjadi perhatian khusus. Tingkat kepadatan (density) yang semakin tinggi seharusnya bisa diatasi dengan sistem vertikalitas. Ketika sistem horizontalitas terlalu memakan space tanah yang besar, sudah saatnya pembangunan tidak melebar ke samping tetapi ke atas dan bawah, memanfaatkan ruang vertikal yang kosong. Jika empat rumah berlantai satu dapat digabung menjadi satu rumah vertikal dengan 4 lantai (dengan luas lantai yang sama), kita bisa mendapatkan lahan-lahan kosong, yang dapat diperuntukkan untuk ruang terbuka atau fasilitas publik lainnya. Winy Maas, seorang arsitek dari Belanda, mengatakan bahwa dengan jumlah penduduk dunia yang semakin hari semakin padat, seharusnya sistem vertikalitas dapat menjadi solusi pemecahan masalah kepadatan ini. Bukan hanya residence yang dapat dibangun dengan vertikal, segala aspek dalam manifesto fisik kehidupan dapat dibuat dengan sistem vertikal juga. Sebuah taman, peternakan, hutan, dapat dihasilkan secara vertikal melalui proses sintesis desain yang kreatif. Jika saja Jakarta punya anggaran tak terbatas, mungkin mudah rasanya membangun apartemen gratis untuk dijadikan sebagai kompensasi pengganti tanah horizontalitas penduduk. Semakin banyak apartemen berlantai banyak (baca : lebih dari 2) dapat menggantikan rumah-rumah 1 lantai sehingga menghasilkan banyak ruang kosong, yang bisa digunakan porsi peruntukkan taman. Dari semula hanya 2% bisa menjadi 34% (dengan asumsi porsi perumahan yang semula 64% karena dibangun vertikal bisa berkurang porsinya hingga menjadi 32%). Tapi saya yakin dengan segala kebodohan dan keterbatasan saya, ini mungkin hanya merupakan mimpi utopia. Pemerintah dengan segala pertimbangan, baik teknis maupun non-teknis, pasti lebih mengerti how to solve it. Faktor legalitas, faktor fisik seperti lingkungan, air tanah, dan kekuatan lahan, faktor aksesibilitas, dan faktor-faktor lain bisa menjadi hambatan dalam mewujudkan mimpi ini. Mari bersama kita berikan dan dukung langkah pemerintah untuk mewujudkan Jakarta yang dapat dinikmati.

Dan hal penting lainnya yang harus dipersiapkan Jakarta adalah masalah perairan, baik itu sanitasi air ataupun banjir. Dalam bukunya Asia Future Shock karya Michael Backman, Jakarta dianggap sebagai kota metropolitan di Asia Tenggara yang tertinggal. Sanitasi Jakarta dianggap masih sangat jauh dari higienis. Tidak seperti di Singapore, yang air ledengnya bisa langsung diminum; di Jakarta, air tanahnya sangat jauh dari ukuran “siap minum”. Air tanah di Jakarta setelah diukur dengan berbagai indikator, dianggap banyak mengandung zat-zat logam yang berbahaya untuk tubuh manusia. Inilah dampak dari tidak terencananya dengan baik sistem perairan di Jakarta. Sistem sumur resapan dan septic tank diperumahan-perumahan tidak diawasi dengan baik oleh pemerintah, sehingga kebocoran-kebocoran kotoran sangat rawan terjadi dan mengotori air tanah Jakarta. Untuk mengubah sesuatu yang sudah settle, cukup berat rasanya. Namun jika digabung dengan resolusi sistem vertikalitas, yang mengindikasi adanya pembangunan ulang, jelas kota ini dapat merencanakan ulang sistem penataan airnya dengan baik dan sheat. Lain masalah sanitasi air, lain pula masalah banjir. Banjir merupakan fenomena musiman yang terjadi di Jakarta. Mitos banjir besar 5 tahunan datang menyerang Jakarta. Banjir seperti telah menjadi teman untuk warga Jakarta. Lambatnya pembangunan Kanal Timur membuat daerah resapan air semakin sedikit. Pengalihan fungsi dari daerah resapan air menjadi rumah tinggal, mall, ataupun kantor membuat Jakarta tidak memiliki lagi tempat untuk menampung air. Sehingga jika datang hujan dan kiriman air dari Bogor, maka jalanan dan perumahan lah yang menjadi tempat penampungan air sementara alias banjir. Penataan ulang Jakarta mutlak diperlukan untuk mengatasi banjir ini.

Mimpi-mimpi di atas, sekali lagi, dapat terwujud jika kota ini memiliki anggaran yang memadai dan adanya dukungan penuh dari pihak operator, regulator dan user (pengguna). Keterbatasan anggaran membuat Jakarta mengalami stagnasi dalam bergerak. Dan ketidaksinkronan pandangan dari operator, regulator dan user membuat perjalanan pembaharuan ini mandek. Seperti terkurung dalam sebuah bola, Operator berjalan ke arah selatan, Regulator berjalan ke arah Barat Laut dan User berjalan ke arah Timur Laut. Jelas sang bola sama sekali tidak bergerak ke arah mana-mana. Jakarta merupakan kota impian yang diincar oleh para pekerja di negeri ini. Semoga dengan berkumpulnya para pekerja di kota ini, pemikiran-pemikiran yang segar dan kreatif dapat lahir sebagai resolusi Jakarta dalam menghadirkan kenikmatan (enjoyment). Semoga kelak; kita, turis lokal ataupun mancanegara benar-benar bisa menikmati Jakarta (enjoy jakarta) dengan segala kemudahan aksesibilitas transportasi, dengan tampilan kota yang hijau dan berkelanjutan (sustainable), dan dengan segala kebutuhan air yang mencukupi; melalui pengolahan anggaran belanja yang optimal dan dengan kesatuan pandangan dari operator, regulator dan user akan makna pembangunan kota.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to Top