Menikmati Siaran Televisi

Menikmati Siaran Televisi.
Sekitar beberapa minggu yang lalu, saya diminta tolong oleh Paman (Oom) saya untuk mendesainkan rumahnya. Ketika kita sedang berbicara tentang organisasi ruang, Om saya meminta kepada saya bahwa nanti di ruang keluarganya jangan sampai ada TV. Paman saya berkata, “Ya, selama ini ruang keluarga selalu identik dengan TV. Om tidak mau ada TV di ruang keluarga karena menurut Om, TV itu lebih banyak merusak (bersifat mudharat) daripada edukasinya. Lebih baik ruang keluarga dihabiskan untuk hal-hal yang bersifat positif”. Walau tidak menginginkan ada TV di ruang keluarga, Om saya tetap meminta ada ruangan lain (berukuran kecil) khusus untuk menonton TV, karena bagaimanapun juga TV tetap dibutuhkan sebagai sarana penyampaian informasi (berita).

Menikmati Siaran Televisi

Menurut saya, cara Om saya untuk mengapresiasi kehadiran TV sedikit ekstrem. Tapi saya akui bahwa perkataan Om saya mengenai sisi buruk tayangan TV ada benarnya. Untuk mencoba memahami hal ini, saya mencoba mengambil sampel jumlah tayangan TV dalam satu hari (saya mengambil case hari senin), yang ditayangkan oleh perusahaan TV swasta (No.1). Di bawah ini, dapat dilihat grafik jumlah durasi tayangan TV tersebut (axis y berfungsi sebagai penanda durasi waktu dalam dimensi jam atau per 60 menit) :

Menikmati Siaran Televisi

Saya membagi tayangan-tayangan TV tersebut ke dalam 7 klasifikasi yakni Tayangan Berita, Spiritual, Kartun, Reality Show, Sinetron, Hiburan (seperti musik, sulap, dan sejenisnya) dan yang terakhir infotainment. Bisa kita lihat pada figure di atas, jumlah tayangan yang terbanyak adalah Sinetron (ditayangkan 8 jam dalam satu hari). Juara ke-2 nya adalah tayangan hiburan ( 5 jam per hari) dan tayangan berita menduduki posisi ke-3 (hanya 3 jam per hari). Yang menjadi juru kunci adalah Tayangan Spiritual (semoga ini menunjukkan bahwa bangsa ini memang sudah pada tingkat spiritual yang baik, sehingga tayangan spiritual memang tidak perlu terlalu banyak). Bahkan, kalau kita mau menggabungkan 4 kelas terkanan, yakni tayangan-tayangan yang bersifat entertain (Reality Show, Sinetron, Hiburan dan Infotainment); jelas sudah 70% tayangan TV dikuasai oleh dunia entertainment.

Andaikata Sinetron dan teman-temannya lebih banyak mengandung nilai edukasi daripada nilai komersial yang cenderung negatif, menurut saya prosentase tayangan TV di atas wajar-wajar saja. Hanya saja, jika ternyata nilai komersial (yang negatif) mengalahkan kepentingan edukasi, sungguh sangat disayangkan prosentase tersebut. Menjadi sebuah kesalahan untuk menikmati Siaran Televisi.

Selain isu tayangan TV yang dipertanyakan nilai edukasinya, isu lain yang membuat kredibilitas media TV patut untuk dipertanyakan adalah mengenai kesantunan pers. Pers berita, di masa demokrasi ini, sering bertindakkelewat batas. Berita-berita ditampilkan terkadang tanpa disertai proses edukasi ke masyarakat. Contoh teraktual, ketika Tim Densus 88 berhasil melumpuhkan seorang teroris di rumah Muh Zahri, Temanggung. Semua berita di TV Indonesia awalnya mengatakan dengan tegas, Noordin M. Top Tewas, tanpa disertai embel-embel “orang yang diduga Noordin M. Top”. Padahal, yang terjadi tidak seperti itu; sampai akhirnya TV-TV tersebut menggunakan kata “orang yang diduga..”, setelah mendapat himbauan dari kepolisian. Bahkan pers sering terlihat lebih “ganas” mencari informasi ke pihak-pihak terkait, dibandingkan pihak kepolisian. Pernah terekam, pers dari salah satu TV swasta mendatangi rumah keluarga, dan kemudian memaksa untuk mewawancarai keluarga; sampai akhirnya mengirimkan kertas melalui celah bawah pintu, yang menurut saya jelas-jelas mengganggu kenyamanan seseorang.

Kalau semua sudah seperti ini, mungkin akan banyak sekali orang-orang yang bertindak seperti Om saya. Semoga ke depannya, TV-TV Indonesia dapat bertindak sebagai avant garde edukator dan pelopor budaya unggul bangsa kita. Semoga nilai-nilai kesantunan, kemanusiaan dan kedewasaan dapat ditampilkan oleh TV-TV kita sebagai teladan dan pengiring masyarakat Indonesia menuju demokrasi yang dewasa. Semoga Menikmati Siaran Televisi menjadi sebuah pembelajaran yang berguna, tak hanya sekedar membuang waktu percuma. Hidup kebebasan Pers yang bertanggung jawab!

Menikmati Siaran Televisi

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to Top