Penomoran yang tak rapi

Hari sabtu kemarin, “berjalan-jalan” ke kantor Pos Indonesia yang beralamat di Jl RS Fatmawati. Mau mengambil kiriman barang dari US. Ternyata biaya kirim dari US ke Indonesia tidak semahal yang saya bayangkan. Dan saya baru tahu bahwa harus membayar bea masuk. Syukurlah, nominalnya (lagi-lagi) tidak sebesar yang saya bayangkan. Tapi bukan hal ini, yang menjadi sesuatu yang menarik buat saya di hari sabtu.

Yang menjadi menarik pada hari sabtu ini adalah penomoran kavling / tanah di Jl. RS Fatmawati, Jakarta. Seperti yang tertera pada surat dari PT Pos Indonesia, bahwa paket dapat diambil pada alamat : Jl. RS Fatmawati No.16. Maka, bergegaslah saya meluncur di Jl. RS Fatmawati mencari No.16, yang katanya adalah kavling PT Pos Indonesia.  Hmm, perjalanan mencari Pos Indonesia ini ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Setelah melewati perempatan dari arah Abuba Cafe (menuju arah selatan), saya melihat nomor kavling bangunan di sebelah kiri jalan semakin merendah, dari 40, lalu menjadi 37, dan seterusnya. Dan di seberang jalan, nomor bangunan gedung juga terus meningkat dari 6 lalu ke 9, dan seterusnya. Hal ini menyakinkan saya bahwa saya berada pada jalur yang tepat. Destinasi saya, yakni No.16, pasti akan saya lewati, hanya saja mungkin muncul resiko harus memutar terlebih dahulu. Tapi itu tidak masalah buat saya. Dan akhirnya saya melihat bangunan Bank Danamon, dengan alamat Jl. RS Fatmawati No.14. “Ahaa… sudah no.14 nih, artinya sedikit lagi  nih, atau jangan-jangan saya kelewatan ya”, dalam hati saya berkata. Tapi tidak masalah, saya tinggal parkir dan mencari PT Pos Indonesia.

Tapi setelah satu dua gedung terlewati, nomor itu menjadi aneh. Bukan menjadi No. 12 atau 16, tapi menjadi No. 7. Dan saya pun memarkirkan mobil, sembari bertanya ke penjual makanan disana. “Bang, Jl. Fatmawati No.16 dimana,bang? Tuh Danamon no.14, kok nomor 16 nya hilang”. Si abang pun menjawab, “Tempat apa tuh,mas? Kalo nomor mah disini ga urut. Ngacak!”. Saya menjawab, “Kantor Pos Indonesia, Jl. Fatmawati No.16?. Si abang kembali menjawab, “Oh kantor Pos di sana (sembari menunjukkan jaarinya ke arah selatan) ,masih agak jauh . Di seberang fly over”.

Perjalanan pun kembali saya lanjutkan dan akhirnya sampai di PT Pos Indonesia. Kurang lebih menempuh jarak 300-400 meter dari Bank Danamon yang bernomor 14. Dalam hati berkata, “aneh sekali penomoran kavling di jalan ini. Kok bisa, cuma beda 2 nomor, tapi jaraknya beda 300-400 meter. Ada apa ini?”

Hal ini membuat saya menjadi aware terhadap penomoran-penomoran di Jalanan Indonesia. Ada jalan, no. 5A, lalu disebelahnya 5B, lalu disebalahnya No.6, lalu disebelahnya lagi No.7, disebelahnya lagi No.8A, lalu disebelahnya lagi No.9B, dst. Ada jalan yang nomor kavling nya “bebas”, mungkin menganut faham liberalisme. Aneh… Saya sangat ingin mengetahu bagaimana proses penomoran kavling  di Indonesia dan di luar negeri. Dengan mengadakan perbandingan, kita dapat mengintrospeksi diri dimana kekurangan dan kelebihan kita. Standardisasi seperti apa yang dipakai di kota ini, dalam proses penataan kota.

Menurut saya, pengurutan penomoran itu penting, mengingat posisinya sebagai titik ukur penanda suatu tempat. Dan sudah selayaknyalah penomoran ini dibuat berurut, sehingga memudahkan orang untuk mencari suatu tempat. Hal ini mungkin sepele, buat orang yang sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini. Tapi buat orang yang asing (misalnya saja turis dari Jepang ato Manhattan), mereka pasti akan sangat bingung melihat dan mengalami proses penomoran kavling yang “kreatif” ini. Semoga tata kota Jakarta semakin mendekati standardisasi kota-kota besar di dunia, seperti Singapore, London, Tokyo, dan sejenisnya, sehingga semakin menarik para turis asing untuk melihat dan mengalami pengalaman ruang di Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to Top