Pertamax Gan!

Pertamax adalah motor gasoline Tanpa Timbal dengan kandungan aditif lengkap generasi Mutakhir yang akan membersihkan Intake Valve Port Fuel Injector dan Ruang Bakar dari Carbon deposit dan mempunyai RON 92(Research Octane Number). Pertamax ditujukan untuk kendaraan yang mempersyaratkan penggunaan bahan bakar beroktan tinggi dan tanpa timbal (unleaded) serta untuk kendaraan yang telah menggunakan teknologi setara dengan electronic fuel injection dan catalytic converters.

Pertamax memiliki nilai oktan 92 dengan stabilitas oksidasi yang tinggi dan kandungan olefin, aromatic dan benzene-nya pada level yang rendah sehingga menghasilkan pembakaran yang lebih sempurna pada mesin. Dilengkapi dengan aditif generasi 5 dengan sifat detergency yang memastikan injector bahan bakar, karburator, inlet valve dan ruang bakar tetap bersih untuk menjaga kinerja mesin tetap optimal. Pertamax sudah tidak menggunakan campuran timbal dan metal lainnya yang sering digunakan pada bahan bakar lain untuk meningkatkan nilai oktan sehingga Pertamax merupakan bahan bakar yang sangat bersahabat dengan lingkungan sekitar.

 Itulah gambaran dari Pertamina mengenai produk mereka, pertamax. Namun, jika dibandingkan dengan saudaranya yang lain, Premium, ternyata Pertamax tidak begitu “laku” di Indonesia. Dari data Pertamina, hingga akhir semester pertama 2009, total penjualan Premium mencapai 9.900.000 KiloLiter, sedangkan Pertamax hanya mencapai 2.064 KiloLiter (bisnis.vivanews.com). Jika diprosentasekan, maka bisa dikatakan bahwa 99% penggunaan BBM Retail berasal dari penggunaan Premium.

Dalam RAPBN 2010, belanja subsidi premium / premium bio dialokasikan sebesar 24,3 triliun rupiah. Pada tahun 2009 sendiri, APBN menunjukkan bahwa alokasi subsidi premium / premium bio mencapai 14,4 triliun rupiah namun ternyata penggunaan kuota volume premium bersubsidi melonjak sekitar 3-5% (per desember) akibat adanya disparitas harga subsidi dengan non-subsidi. Sebuah nominal subsidi yang sangat besar!

Indonesia termasuk negara pensubsidi BBM terbesar di dunia. Memang, per liter premium di Indonesia masih kalah dengan di Venezuela, Arab Saudi atau Iran. Di Venezuela, harga premium per liter adalah Rp 279. Di Arab Saudi, harga premium per liter adalah Rp 1.116. Dan di Iran, harga premium per liternya adalah Rp 4.092. Namun, jika dilihat dari jumlah penduduk Indonesia yang mencapai angka 230 juta penduduk, dan jumlah kendaraan bermotor mencapai 20 juta-an kendaraan, maka sangat besar volume premium yang harus disubsidi oleh pemerintah melalui dompet fiskal.

Untuk mengurangi adiksi pengguna kendaraan bermotor terhadap premium, Pertamina selaku agen tunggal distribusi premium bersubsidi harus berfikir keras untuk dapat mengalihkan penggunaan premium. Ada beberapa cara yang digunakan oleh Pertamina untuk “mengangkat” harkat pertamax, yang selalu saya ingat karena sangat berkesan buat saya. Cara yang sangat “normal” yang ditempuh oleh Pertamina untuk mengangkat harkat Pertamax adalah melalui media massa. Seringkali kita lihat di media televisi atau media cetak, terdapat iklan Pertamina yang mengajak consumer kepada penggunaan pertamax. Pada iklan tersebut, dideskripsikan mengenai keunggulan dan ketangguhan Pertamax sebagai bahan bakar kendaraan. Namun, bukan cara yang itu yang berkesan di hati saya.

Pernah suatu hari, saya melihat sebuah SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) di daerah Jakarta Selatan memasang poster besar (baligho) yang bertuliskan “Orang Mampu Beli Pertamax!”. Dalam hati saya, “berani juga ya Pertamina menuliskan kata-kata tersebut”. Namun, selang berapa minggu dari kejadian itu, saya membaca berita di sebuah media elektronik bahwa ada sekumpulan masyarakat yang mendemo SPBU tersebut untuk menurunkan poster itu dengan alasan poster tersebut bernada diskreditasi. Dan benar, setelah berita itu, saya melihat sudah tidak ada lagi poster “Orang Mampu Beli Pertamax” yang terpajang di SPBU tersebut. Meskipun kontroversial, cara ini sangat berkesan buat saya karena sungguh menggelitik, dan bahkan sebenarnya ironis untuk masyarakat kita.

Setelah lama tidak melihat gebrakan visual dari Pertamina, saya tersontak melihat strategi baru Pertamina untuk “mengangkat” harkat Pertamax. Saya sungguh menyenangi strategi baru dari Pertamax. Meskipun harus mengeluarkan cost, daya tarik reward untuk pembelian Pertamax sangat menggoda hati. Sekitar pertengahan 2009, ketika saya mengisi Pertamax di SPBU HR Rasuna Said, ada sebuah reward yang ditawarkan oleh Pertamina jika saya membeli pertamax di atas sekian liter. Hadiahnya memang tidak terlalu besar (karena saya hanya mendapatkan teh kotak), namun sangat berkesan buat saya, mengingat SPBU lain seperti Shell sudah menawarkan sebuah bentuk reward berupa diskon. Dan dari bulan November 2009 s.d Januari 2010; SPBU Pertamina kawasan Jakarta Selatan kembali menawarkan bonus reward kepada consumeryang membeli Pertamax di atas 25 liter (untuk mobil). Hadiahnya kali ini lebih besar karena menawarkan BlackBerry Gemini yang diundi setiap minggu-nya. Sungguh luar biasa!

Saya sendiri menggunakan Pertamax, bukan karena keuntungan pertamax sebagai fuel yang ramah lingkungan atau bahan bakar yang berkualitas, namun semata-mata karena idealisme saya untuk membantu negara. Sederhana untuk saya; apapun yang bisa saya lakukan untuk negara ini, baik menambah pendapatan negara, mengurangi pengeluaran negara, atau terlibat dalam bentuk dedikasi yang lain, saya pasti akan lakukan untuk Indonesia!

Memang berat bagi  Pertamina untuk mengajak pengguna kendaraan pribadi secara inisiatif menggunakan Pertamax. Konversi Minyak Tanah ke bentuk LPG pun harus di-”paksa”-kan melalui campur tangan pemerintah. Jika Pertamina harus berjuang sendirian, sudah pasti membutuhkan waktu yang lama untuk mengedukasi dan mengadiksi consumer akan keuntungan Pertamax. Pemerintah sebagai lembaga eksekutif belum bisa memberlakukan ketentuan penggunaan pertamax sebagai  bahan bakar wajib kendaraan pribadi dengan alasan dampak inflasi dan multiplier effect-nya, serta alasan subsidi premium sebagai salah satu outputdari pemasukan pajak dan migas.

Seperti yang telah saya singgung sebelumnya, sebenarnya subsidi yang dikeluarkan oleh Pemerintah untuk Premium / Premium Bio sangatlah besar. Akan sangat disayangkan jika subsidi yang semula ditujukan untuk segmentasi bawah, malah dinikmati oleh sebagian besar segmentasi menengah ke atas. Buat saya, subsidi berjumlah triliun-an tersebut akan lebih produktif jika digunakan untuk pembangunan sarana edukasi, belanja negara untuk infrastruktur, penyediaan jaringan telekomunikasi, informasi, dan multimedia untuk kepentingan nasional, penggunaan smart card untuk membatasi penggunaan subsidi energi, dan berbagai hal positif lainnya. Saya berharap penggunaan subsidi di negeri ini bisa tepat sasaran guna menunjang kehidupan bernegara yang makmur nan sejahtera.

Semoga, Pertamax Pertamina akan menjadi pilihan pertama, layaknya kata “Pertamax” yang sering digunakan sebagai posting pertama pada forum-forum di blogspehere Indonesia. Pertamax,Gan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *