Mengejar Mimpi berteman Kreativitas

Sebuah pepatah mengatakan, “Apa yang membedakan diri anda sekarang dengan lima atau sepuluh tahun mendatang adalah dengan siapa anda bergaul dan buku-buku apa yang anda baca”. Susunan kata-kata yang terbalut indah tersebut selalu terngiang di pikiran saya. Iya, dengan siapa saya bergaul dan buku apa yang saya baca merupakan bagian dari sekolah kehidupan. Semakin banyak saya bergaul dengan orang-orang terbaik dan semakin banyak saya membaca buku, yang merupakan kumpulan pengalaman seseorang, maka semakin luas pula pengetahuan dan wawasan saya.

Hal di atas lah yang terus mengusik dan menggoda saya untuk konsisten mengembangkan diri, dimana salah satunya melalui pengenyaman pendidikan di luar negeri. Dengan mengenyam pendidikan di luar negeri, saya, sebagai seorang pengelana ilmu, akan bergabung dengan para pengelana ilmu lainnya dari seluruh dunia. Senang sekali rasanya bila bisa berkomunikasi dan bergaul dengan orang-orang yang berasal dari negara lain, yang memiliki perspektif hidup dan budaya yang berbeda dengan saya.

Selain terjun dalam kehidupan bersosialisasi di kampus, saya sebagai seorang peserta proses pendidikan sudah pasti dituntut untuk memiliki buku panduan akademis yang notabene merupakan hasil tulisan dari orang-orang yang mumpuni di bidangnya. Secara tidak sadar, proses edukasi formal memberikan “stimulus paksa” yang mengharuskan saya membaca, memahami dan menelaah buku-buku yang padat makna tersebut. Proses bertukar pandangan hidup dan proses membaca inilah yang dapat memperkaya khasanah pengetahuan saya. Oleh karena itu, kuat sekali keinginan saya untuk bisa meneruskan pendidikan ke luar negeri. Bukan untuk sekedar mengejar gelar; namun untuk mengembangkan diri saya dan untuk memperluas jejaring secara global.

Cukup lama setelah lulus dari kehidupan kuliah sarjana (2007), saya berfikir negara mana yang akan menjadi pemberhentian saya berikutnya dalam mengembangkan diri. Sudah pasti itu adalah negara yang dapat mendukung cita-cita saya dan dapat merangsang saya untuk tetap bahagia dalam mengarungi hidup. Ternyata tidak mudah menentukan destinasi pembelajaran. Setelah dua tahun banyak membaca dan berbincang dengan orang-orang, dengan yakin saya memutuskan bahwa destinasi tempat saya menggapai mimpi berikutnya adalah United Kingdom (UK).

Sebagai seorang lulusan sekolah arsitektur dan pecinta dunia kreativitas, sudah pasti saya akan memilih negara yang dapat mengapresiasi desain dan kreativitas. Sebagai seorang visioner menjadi enterpreneuer, sudah pasti saya akan memilih negara yang mendukung pengembangan dasar mengenai seluk-beluk dunia bisnis. Dan jika saya tarik benang merah antara kreativitas dan bisnis, maka didapatlah kata industri kreatif, sebuah industri yang menekankan pada penggunaan dan pemanfaatan daya kreativitas individu dalam menghasilkan karya cipta yang produktif.

Saya memilih UK sebagai pelabuhan edukasi saya berikutnya, karena ada cita dan visi yang ingin saya capai disana. UK, melalui Deparment for Culture, Media and Sport (DCMS), merupakan negara pertama yang melakukan analisis mengenai pengaruh industri terhadap PDB (Produk Domestik Bruto). Klasifikasi 13 Sektor Industri kreatif yang dihasilkan oleh DCMS menjadi suatu referensi yang ditiru dan dikembangkan oleh negara-negara lain. Pada tahun 2007, sektor Industri kreatif meyumbangkan hampir mendekati 10% terhadap Produk Domestik Bruto UK (Jorn Hartlet, From the Consciousness Industry to Creative Industries, h.11). Sektor Industri kreatif tumbuh sangat pesat di UK.  Dari Technology Strategy Board (www.innovateuk.org), dikatakan UK merupakan negara penghasil konten TV dan Radio terbesar di Eropa (bahkan untuk dunia, hanya Amerika yang menghasilkan konten lebih banyak). UK juga menjadi pemain utama dalam dunia periklanan, games (Inggris memiliki studio pengembangan games terbanyak di Eropa), dan teater (London’s Theaterland merupakan teater dengan jumlah pemasukan terbesar di dunia).

Banyak sekali karya-karya maestro Industri Kreatif UK yang telah dinikmati penduduk dunia, termasuk di Indonesia. Para arsitek Indonesia sudah pasti mengenal karya-karya biro arsitek yang berpraktik di UK, seperti Sir Norman Foster, Will Alsop dan Zaha Hadid (Wanita pertama yang memenangkan Pritzker Award). Karya-karya arsitektur di UK sering menjadi referensi kanonik untuk desain high tech dan energy-efficient housing. Untuk urusan desain produk, beberapa perusahaan raksasa dunia seperti Samsung, Yamaha Music, Nissan dan Motorola mendirikan Pusat Desain di UK untuk terus melakukan inovasi terhadap desain produk mereka. Musisi UK juga tidak kalah garang seperti sektor lainnya. The Beatles, Rolling Stones, James Blunt dan Franz Ferdinand semuanya berhasil menunjukkan taji musiknya. Bahkan Coldplay berhasil menjadikan album X&Y sebagai album terlaris sepanjang masa. Dan salah satu masterpiece dari UK yang sangat terkenal dan berhasil menghipnotis para penggilanya di seluruh belahan dunia adalah Harry Potter. Karya JK Rowling ini berhasil menjadi salah satu contoh produk industri kreatif UK yang bersinar di bidang publishing dan film.

Terbayang di impian saya, bahwa hidup di negara yang memiliki kekuatan di sektor industri kreatif akan memberikan dampak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebagai negara dengan vitalisasi pada sektor industri, UK pasti terus menghasilkan kebijakan dan melakukan terobosan inovatif untuk memperkuat sektor industri dalam mengawal proses kehidupan di UK. Menjadi bagian dari pengembangan industri kreatif akan memberikan nilai edukasi yang tidak ternilai untuk saya. Bergaul, bersosialisasi, serta mengalami dimensi ruang dan waktu bersamaan dengan perkembangan industri kreatif sudah pasti memberikan gambaran kepada saya mengenai “swot” (strenghts-weaknesses-opportunities-threats) terkini dari industri kreatif. Setiap moment of  truth dari pengalaman ruang kreatif akan mengetuk otak saya untuk bisa menangkap stimulus-stimulus bisnis dan budaya.  Oleh karena itu, saya bercita harus ke UK untuk bisa mempelajari dan menjadi bagian dari Industri Kreatif di UK.

Kelak, ketika saya sudah merasakan dan mengalami banyak asam garam mengenai industri kreatif di UK, saya berangan untuk kembali ke tanah air untuk membangun industri kreatif di Indonesia. Proses pembelajaran di UK sudah pasti memberikan pengalaman edukasi yang berharga yang bisa saya gunakan untuk mendorong industri kreatif Indonesia dengan tetap menampilkan lokalitas dan nilai budaya bangsa. Indonesia yang memiliki potensi dan ragam budaya yang kaya merupakan sebuah anugerah yang harus bisa diangkat dengan bijak dan tepat. Sudah saatnya industri kreatif bisa memberikan dampak yang signifikan untuk Reinventing Indonesia.

4 Responses

  1. .Bisa tolong share tips untuk mendapatkan pendidikan di UK..??
    .Entah itu dari beasiswa atau bukan
    .Tapi kalau ada beasiswa soalnya itu mungkin salah satu kesempatan yang bisa saya buru mulai sekarang
    .Soalnya saya dari dulu tertarik banget untuk bisa sekolah di UK
    .Saya mohon penjelasannya
    .Terima kasih

  2. Dear Mas Giri
    Salam kenal..
    Nama Saya Rezky, sekarang sedang menempuh sekolah S2 di PPM. Saya Tertarik untuk sekolah ke Luar negeri, Sebaik nya Mencari beasiswa untuk S3 atau S2 kembali, Teman saya menyarankan Jika Ingin Di company sebaiknya ambil saja lgi program master jdi memiliki double master karna lebih aplikatif. jika ingin di akademik sebaiknya ambil untuk s3.
    Mohon untuk pencerahan dan informasi nya mas.
    terimakasih
    Best regards
    Rezky

    1. Dear Rezky,
      Ga selamanya loh S3 itu jalurnya di akademik. Alexander Rusli, CEO & Presdir Indosat, punya gelar S3 (PhD). Saran saya, tentukan cita-cita yang ingin Mas Rezky capai. Nah, buatlah path untuk menggapai mimpi tersebut. Kl memang perlu S2 lagi utk mencapai mimpi tsb, ya silakan ambil S2 lagi. Ato kl ternyata S3 yang menjadi jawaban, ya silakan mengambil S3.
      Semoga membantu.
      Salam,
      Giri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top