Minum Bir

Tulisan ini berawal dari lamunan pada jumat sore di sebuah kantor di daerah Oxford Circus London. Setiap jumat, orang di kantor merayakan budaya minum bir sore. Semua karyawan minum bir yang telah disediakan oleh kantor dengan cuma-cuma. Hanya ada satu orang yang tidak minum bir. Dalam hati saya, cupu sekali orang itu. Sayangnya orang itu adalah saya. Saya tidak minum bir bukan karena agama saya kuat.  Saya tidak minum bir karena saya tidak suka rasanya. Saya minum Coke saja untuk merayakan kebersamaan di jumat sore.

Minum bir itu kemudian menjadi lamunan saya di tube dalam perjalanan pulang ke rumah. Dari hasil studi oleh Mintel yang pernah saya baca, hanya 15% dari populasi dewasa di UK yang tidak minum bir atau minuman beralkohol. Angka tersebut konon telah bertambah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Beberapa hal yang diyakini menjadi faktor bertambahnya populasi yang tidak minum bir adalah tren hidup sehat dan semakin meningkatnya imigran (yang kebanyakan tidak minum karena urusan religi).

Kembali ke suasana di kantor, semua karyawan termasuk cewek-cewek yang terlihat pemalu pun pada minum bir. Bagi orang UK, minum bir itu adalah budaya. Toh, tidak semua orang yang minum bir bisa digolongkan pemabuk. Minum satu atau dua gelas bir itu mungkin tidak memabukkan (kecuali bagi orang-orang tertentu yang sensitif ama alkohol). Jadi  minum bir itu budaya untuk bersosialisasi, merayakan dan menikmati sesuatu. Terlalu naif jika minum bir diidentikan dengan mabuk-mabukan. Tapi buat yang menganut kepercayaan bahwa minum minuman beralkohol itu haram, berpeganglah pada ajaran agama kalian dengan teguh.

Dari ngobrol dengan orang dan baca-baca artikel, alasan orang minum bir itu ada banyak. Pertama, tentang rasa. Konon rasa bir itu tidak enak untuk orang yang masih dalam tahap pengenalan minum bir. Semakin sering orang minum bir, konon rasanya semakin enak di lidah. Nah, karena saya masih di tahap perkenalan, jadinya bir tidak enak di lidah saya. Mungkin kalau saya sering minum bir, rasanya bakal lain di mulut. Selain soal rasa, menurut studi oleh Mintel, alasan terbesar orang beli bir ketika sedang makan di restauran itu adalah soal harga. Katanya, harga bir itu termurah dibandingkan minuman beralkohol lainnya seperti wine, spirit, vodka, dsb. Alasan lainnya lagi adalah faktor sosial dan identitas. Slogan You are what you drink! dan “Ga Minum, Ga Rame” mungkin cocok menggambarkan faktor ini. Adapula yang bilang bir itu menyehatkan (mengalirkan darah lebih cepat dan bervitamin), menyegarkan, dan mampu menenangkan fikiran kalau lagi suntuk atau capek. Dan masih banyak lagi alasan lain. Silakan membaca jurnal-jurnal dan hasil riset untuk mendapatkan hasil yang lebih reliable.

minum bir

Bir merupakan minuman alkohol yang paling banyak dikonsumsi dibandingkan tipe minuman beralkohol lainnya seperti wine atau spirit. Hal tersebut dapat dilihat pada grafik di atas (sumber: Euromonitor International, 2011). Bir sendiri dapat dikategorikan menjadi 4 jenis, yakni Stout, Lager, Dark Beer, dan Low/Non-Alcoholic Beer. Untuk mengetahui perbedaannya, silakan membeli jenisnya satu persatu dan mencobanya. Menurut data Mintel, tiga besar brand  bir di UK (dari sisi value) di tahun 2010 adalah Foster’s, Carling, dan Stella Artois. Industri bir ini tidak bisa dipungkiri memberikan added value yang besar untuk perekonomian di UK. Ya mungkin sama halnya seperti industri rokok di Indonesia. Kita bisa lihat banyak sekali event-event olahraga, tidak hanya di UK tetapi juga di US dan Eropa, yang disponsori oleh bir seperti Carling Cup untuk sepakbola, Heineken untuk rugbi di Eropa, atau Budweiser di US. Maka, mustahil melarang budaya minum bir disini. Selain faktor budaya, faktor ekonomi menjadi alasan untuk mempertahankan industri ini. Toh, selama minum bir masih dalam tahap wajar, tidak ada pihak yang dirugikan. Karena itulah iklan-iklan disini sangat menekankan slogan  ‘drink responsibly‘.

UK termasuk salah satu negara pengkonsumsi bir terbesar. Secara volume per kapita, UK termasuk negara lima besar peminum bir. Tujuh persen dari total volume bir yang dijual on-trade dan off-trade di seluruh dunia pada tahun 2010 ada di UK (sumber: Euromonitor International, 2011). Menurut data Mintel, Volume Bir per capita di UK tahun 2010 adalah 74 liter. Bandingkan dengan Indonesia yang volume bir per capitanya yang ‘hanya’ mencapai 0.9 liter. Karena itulah, kadang-kadang suka serem kalau pulang malam di London. Banyak ketemu orang yang mabuk. Menurut laporan Design Council, ada 973,000 tindakan kekerasan akibat mabuk di tahun 2008 dan itu memakan biaya pengobatan dan perawatan sebesar 2.7 milyar poundsterling (kan disini biaya kesehatan ditanggung oleh negara). Cukup besar ya pengeluran negara untuk merawat yang menderita luka atau cedera akibat diserang orang mabuk. Berhati-hatilah jika pulang malam-malam di London dan buat yang minum alkohol, drink wisely!

7 Responses

    1. Wah, sayang banget belum pernah minum,ri. Cobain deh sedikit. Agak2 pahit, sepet, tajem baunya. He3..
      Kapan balik? Segera lah. Demi bangsa dan negara 🙂
      Btw, naha hadiariawan.web.id suspended?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top