Desain Belanda

Jika berbicara tentang desain secara umum, Desain Belanda tidak boleh terlupakan. Pergerakan desain abad 20 banyak diwarnai oleh desain fenomenal karya desainer Belanda seperti kursi “Red and Blue Chair” karya Gerrit Rietveld (1917), dan lukisan “Composition with Yellow, Blue, and Red” karya Piet Mondrian (1937-1942) yang mewakili pergerakan De Stijl. Karakter lucu dan unik Miffy (1955) pun menjadi ikon karakter yang kanonik hasil rancangan desainer Belanda, Dick Bruna.

Desain Belanda

Sampai dengan hari ini, para desainer Belanda terus berinovasi dan bersaing di peta desain internasional. Di dunia produk desain, Droog asal Belanja menjadi salah satu ikon desain kontemporer. Di dunia arsitektur, biro desain OMA menjadi avant garde arsitektur dekontruksi. Sebagai lulusan arsitektur, saya pun bermimpi suatu saat bisa bekerjsama dengan OMA. Di dunia industri, Philips menjadi salah satu perusahaan dengan strategi inovasi desain terdepan di dunia. Aroma kejenakaan, kesederhanaan, fungsionalitas, dan keterbukaan (welcoming) untuk publik menjadi nyawa dari desain Belanda.

Desain bukan merupakan elemen sekunder untuk rakyat Belanda. Budaya Belanda tidak mengenal stigma ‘karya seni hanya untuk dipajang di museum’ (Design Council, 2012). Desain mampu menyatu dan membaur dalam etos dan kehidupan masyarakat Belanda. Desain memberikan nilai tambah untuk kehidupan publik dan industri. Pemerintah Belanda menyadari hal tersebut dan mendukung sepenuhnya posisi desain dalam kehidupan masyarakat dengan cara mendirikan lembaga untuk meningkatkan dan menumbuhkan iklim desain, menyokong asosiasi desainer, dan membantu desainer untuk mempopulerkan karya mereka ke kancah internasional.

Sinergi Desain Belanda

Selain dukungan langsung dari pemerintah, satu hal yang membuat Desain Belanda selalu hidup adalah sinergi. Sinergisme ini terjadi di lingkup sekolah dan industri yang notabene adalah aspek dasar kehidupan manusia (pendidikan dan ekonomi). Seorang mahasiswa S-2 di TU Delft akan terlibat di tiga departemen selama kuliah, yakni Industrial Design, Design Engineering, and Product Innovation & Management (Design Council, 2007). Hal yang sama juga terjadi di TU Eindhoven, dimana dasar pijakan kuliahnya adalah integrasi dari displin ilmu bisnis, desain, dan teknologi dengan mengambil tempat kuliah berpindah-pindah dari satu departemen ke departemen lainnya. Di lingkup industri, perusahaan seperti Philips sangat menekankan kolaborasi lintas displin. Philips menyatakan bahwa tak ada faktor dominan sebagai formula keberhasilan. Keberhasilan adalah kombinasi komunikasi dan kompetensi dari elemen bisnis dan desain. Fungsi desain tidak hanya hadir pada divisi kreatif atau produk, tapi menyentuh semua level eksekutif. Dengan mengolaborasikan berbagai pihak dan displin, Philips menargetkan produk-produk mereka inovatif dan kreatif.

Sinergi

Bagi saya, Desain Belanda tidak hanya menunjukkan makna sebuah karya seni dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga menerangkan bagaimana desain seharusnya diperlakukan. Satu kata yang sering lupa diaplikasikan oleh negara-negara yang ingin mengangkat dunia desain mereka adalah sinergi. Desain harus diperlakukan melebur dan lekat dalam setiap elemen kehidupan dan bisnis. Mustahil desain dapat diapresiasi sebegitu hebatnya oleh masyarakat jika desain hanya berdiri sendiri tanpa disertai kolaborasi menyeluruh. Desain Belanda menunjukkan bahwa kombinasi antara sinergi multidisplin dan sifat desain yang jenaka, kreatif serta terbuka mampu menghasilkan karya-karya terbaik.

Pustaka
Design Council. (2007). Lessons from Europe. London: Design Council.
Design Council. (2012). Design in the Netherlands: http://www.designcouncil.org.uk/resources-and-events/schools-and-education/for-schools/design-around-the-world1/netherlands/
Mofette. (2011). Dutch Design Manual: http://issuu.com/mofette/docs/dutchdesignmanual

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to Top