Lantai dasar sebagai Ruang Publik

Ada satu hal yang sangat saya sukai dari London, yakni tata kotanya. Menurut saya, kota London ini sangat walkable alias sangat dapat dinikmati dengan jalan kaki. Kota London tidak memberikan perhatian yang besar untuk mobil pribadi layaknya di Jakarta. Transportasi massal dioptimalisasikan demi masyarakat umum. Selain itu, kota London ini sangatlah hijau. Bayangkan, dua pertiga kota London itu terdiri atas ruang hijau! Dua pertiga loh, dengan komposisi 23.9% taman di rumah-rumah dan 38.3% ruang hijau untuk publik seperti taman. Perpaduan sifat kota yang walkable,  Ruang Publik yang layak dan pendekatan hijau ini membuat saya sangat mengagumi London.

Lantai Dasar sebagai ruang publik

Dan yang paling saya cintai dari tata kota London ini tipe pengkonsentrasiannya. Tidak seperti Jakarta yang suka mengkonsentrasi pergerakan masyarakat pada satu gedung saja seperti mal, Pemerintah London mengkonsentrasi pergerakan masyarakat dalam bentuk distrik (zoning). Jadi jika kita berkunjung ke distrik/daerah Oxford Street atau Barbican, tidaklah mungkin anda menemukan satu bangunan yang isinya hanya kantor saja atau satu bangunan yang isinya hanya tempat belanja saja. Ketersebaran fungsi terkonsentrasi dalam satu distrik, bukan dalam satu gedung. Hampir seluruh lantai dasar pada gedung-gedung di distrik tersebut difungsikan untuk publik seperti restoran, cafe, pub, apotik, bank, toko baju, toko alat olahraga, toko elektronik, dan lain sebagainya. Barulah pada lantai 1 (disini, lantai di atas lantai dasar disebutnya sebagai lantai 1 bukan lantai 2), difungsikan sebagai kantor atau fungsi privat. Karena itulah, lantai dasar dan trotoar di kota-kota London tidak pernah mati. Trotoar dan lantai dasar gedung-gedung menjadi ruang publik yang dapat diakses oleh siapa saja.

Ruang Publik

Pada jam-jam istirahat, ruang publik tersebut ramai karena dipenuhi oleh para karyawan yang mencari makan dan berbelanja. Diluar jam istirahat makan siang, ruang publik itu tetaplah hidup dan super ramai karena gantian turis dan  masyarakat yang berjalan-jalan mencari baju atau handphone baru. Di Jakarta, seseorang mencari makan, mencari baju, dan mencari handphone, ya di dalam gedung a.k.a di dalam mal. Ruang publik di Jakarta seolah dipaksa harus berbentuk mal, alhasil ruang di luar mal seperti di trotoar atau jalanan menjadi rawan karena tidak terjangkau oleh pengawasan publik.

Sebenarnya, jika kita melihat di belakang gedung-gedung megah pada Jl. Sudirman atau Kuningan alias di gang-gang perumahan, seringkali jalanan disulap menjadi ruang publik yang bersahaja pada saat makan siang. Semua karyawan (yang pasti bukan level top management) memilih makan di warteg dan tumpah ruah berkeliaran di sekitar situ mencari tempat makan yang terenak dan termurah. Semua karyawan kenal tak kenal saling menyapa di ruang publik dadakan ini. Kondisi ini ‘memaksa’ lahirnya pengawasan publik secara bersama-sama yang mempersempit ruang gerak kriminalitas. Namun sayang, setelah waktu makan siang berakhir, jalanan ini menjadi sepi kembali dan tak berada di dalam jangkauan pengawasan publik. Keamanan pun kembali hanya menjadi milik mal.

Lantai Dasar sebagai ruang publik

Di London, sangat jarang anda menemui satu bangunan yang isinya ramai fungsi seperti mal. Setahu saya, London hanya memiliki 2 shopping mal raksasa yakni Westfield di Shepherd’s Bush dan Westfield di Stratford City. Saya sendiri tidak tahu kenapa bisa ada 2 shopping mal besar itu di London. Mungkin dikarenakan konspirasi politik atau ekonomi antara si pengusaha Westfield dan pemerintah. Yang pasti, selain di dua titik mal tersebut, London mengusung pengkonsentrasian dengan basis distrik. Hampir semua kantor yang pernah saya datangi, pasti di lantai dasarnya adalah untuk milik publik. Karena fungsi lantai dasarnya ditujukan untuk publik, maka trotoar sebagai aksesnya sangat diperhatikan oleh pemerintah, baik itu ukurannya, materialnya, maupun kebersihannya.

Ketersebaran toko-toko publik pada suatu wilayah ini pada akhirnya memaksa masyarakatnya ya berjalan kaki dari satu titik ke titik lainnya. Habis makan di pangkal jalan Regent St, ya masyarakat menjadi harus berjalan kaki atau ‘terpaksa’ menggunakan transportasi publik seperti bus atau tube (yang tidak murah) untuk menuju ke ujung jalan Regent St, katakan untuk belanja atau kembali ke kantor. Mobilisasi dan heterogenitas masyarakat di trotoar ini membuat ruang publik terbuka di London tidak terbatas hanya pada definisi taman. Ruang publik berupa trotoar pinggir jalan ini selalu hidup dari pagi sampai malam dan mampu menghadirkan sebuah pengawasan bersama yang mungkin dapat mengurangi niat buruk seorang penjahat.

“Not TV or illegal drugs but the automobile has been the chief destroyer of American communities” (Jacobs, Dark Age Head)

Di Jakarta, sepanjang jalan Sudirman atau Kuningan, mungkin ada beberapa kantor yang lantai dasarnya mengandung fungsi untuk publik. Namun, fungsi untuk publik tersebut seolah terputus akibat adanya jalur untuk mobil melakukan drop off bagi sang majikan atau terputus oleh kehadiran pagar berduri. Mobil menjadi dewa di tata kota Jakarta. Tidak ada desain yang manusiawi yang menghubungkan fungsi publik pada kantor tersebut dengan trotoar. Semua desain sudah berorientasi pada automobile. Masyarakat Jakarta sudah dipenuhi dengan ketakuran atau paranoid akan kiriminalitas. Kesenjangan yang tinggi menyebabkan beberapa pihak terpaksa meninggikan ego-nya demi nama keselamatan.

Menutup artikel ini, saya ingin mengutip tulisan Jane Jacobs, “Streets and their sidewalks, the main public places of a city, are its most vital organs. Think of a city and what comes to mind? Its streets. If a city’s streets look interesting, the city looks interesting; if they look dull, the city looks dull”. Jakarta menawarkan jalanan yang nyaman untuk mobil pribadi dan mengurangi peluang untuk pejalan kaki, sedangkan London menawarkan ruang publik yang nyaman untuk pejalan kaki dan mengurangi peluang untuk pengguna mobil pribadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top