Kedip Mata…

Kedip Mata alias main mata konon berarti genit apalagi jika dilakukan oleh lawan jenis. Pada awal-awal masa kuliah di London, saya punya teman cewek yang sering melakukan kedip mata pada beberapa pembicaraan kami. Pertama kali mendapatinya, saya terkejut sembari berucap dalam hati “astaga, ini cewek main mata”. Namun, kedip mata itu saya anggap angin lalu alias tak saya balas dengan kedip mata juga.

Waktu pun berlalu hari demi hari. Setelah saya amati, ternyata nih cewek sering kedip mata dengan beberapa student lainnya entah laki-laki atau perempuan. Bukan hanya tuh cewek, ternyata beberapa cowok juga sering kedip mata dengan saya. Awalnya sempet mikir, “udah gila nih dunia. Saya digenitin cowok dan cewek sekaligus”. Selidik punya selidik, ternyata kedip mata disini dapat diartikan sebagai pertanda ‘okay‘ atau ‘I agree with you‘ atau dalam bahasa Indonesia, menyatakan sip! Ooh, akhirnya saya menyadari bahwa tuh cewe kedip mata karena dia mengekspresikan rasa setujunya, bukan karena dia genit.  Ah, ternyata kedip mata disini tidak sama dengan kedip mata di Indonesia.

Kedip Mata

Bukan cuma itu, suatu hari saya pernah nelpon dengan seorang customer services dan di akhir pembicaraan, saya berucap ‘bye-bye‘ dengan lembut. Kebetulan seorang saudara yang lagi berlibur dari Indonesia mendengar dan berkata, ‘ih, mesra amat pake bilang bye segala. Keanehan itu juga saya rasakan ketika pertama kali ketemu dengan orang sini yang mengucap ‘bye’ di akhir perjumpaan. Romantis sekali kedengaraannya. Apalagi orang sini mengucapkan bye-nya dengan nada yang lembut dan bersahabat. Ya, kalau di Indonesia, kayak denger kalau ada cowo bilang bye ke cewenya di akhir telefon atau perjumpaan. Ngucapin bye disini adalah sesuatu yang sangat lumrah. Jadi meskipun ada embel-embelnya, bye darling, ya intinya sebagai salam perpisahan. Sebenarnya hampir sama dengan bilang ‘daaah’ di Indonesia. Cuma ya jadi aneh karena bye-bye itu kesannya romantis untuk diucapkan oleh orang Indonesia untuk orang yang tidak dikenal sama sekali.

Kedip mata dan ngucapin bye-bye adalah salah dua dari banyak contoh perbedaan budaya di Indonesia dan Inggris. Pepatah ‘Lain padang, lain belalang’ itu benar dan harus bisa kita respon dengan bijak. Kasus rasisme yang dilakukan oleh pemain sepakbola Liverpool asal Uruguay Luis Suarez semata-mata karena dia tidak mampu melihat dan merespon dengan bijak budaya di Inggris, sehingga salah mengucapkan apa yang dianggapnya baik di negara asalnya tapi buruk di negeri Ratu Elizabeth ini.

Budaya kedip mata dan ngucapin bye-bye romantis ini sebaiknya tidak saya bawa ke Indonesia. Kalau nanti di Indonesia saya sering kedip mata (meskipun maksudnya untuk mengekspresikan setuju), takutnya saya dianggap genit oleh sesama jenis atau lawan jenis. Begitu pula kalau saya bilang, bye-bye ama mbak-mbak atau mas kasir, ntar takutnya saya dianggap genit. Ya, biarlah menjadi adaptasi budaya selama disini.

Jadi jika ingin menikmati pengalaman menikmati budaya ini seperti kedip mata dan ber-bye bye ria, ya silakan berkunjung ke Inggris dengan cara menjadi pelajar, pekerja, atau turis. Oke? Bye! (sambil berkedip mata)

Kedip Mata

19 Responses

  1. Hehehehe lucu juga ya pak,perbedaan gerak gerik ternyata membuat arti yang berbeda beda di suatu negara,makasii infonya yaapak

  2. Saya sampai senyum-senyum membacanya… :)) sharingnya bakal bermanfaat sekali jika berkunjung ke london, giri, trims.

  3. Hihi, lucu juga cerita ttg kedip-kedip itu. Dulu, kalau contact dengan jurnalis inggris, suka kaget karena di akhir telpon mereka selalu ngomong “bye bye…” kirain mereka sok ikrib gitu. Tahunya setelah nonton-nonton film inggris, baru nyadar, itu hal yang wajar. ^^!
    Share dong Gie, hal-hal unik lain yang berkaitan dengan komunikasi lintas budaya selama tinggal di London.

    1. Terima kasih telah mampir, Cici.
      Hmm, ceritanya sering contact2an ama jurnalis Inggris nih? Dashyat gila! Hehehe..
      Ya, mudah2an bisa dishare ya.
      Cheers.

  4. Lucu dan menarik artikelnya Mas Giri. Mungkin nanti saya perlu perhatikan hal ini pas saya berkunjung ke London.
    Kalau dulu saya punya pengalaman naik bis ke arah liverpool street dan supir bisnya bilang hello saat naik. Saat turun supir bisnya bilang cheers sambil tersenyum. Wah…..senang banget. Jarang2 naik bis disapa supir.Plus supirnya ganteng….Sampai lupa turun deh…He…he….Mas Giri, apakah ada tempat yang menarik yang baru di London ? saya kemungkinan akan ke sana Okt ini. Terakhir saya berkunjung lebih dari 10 tahun yang lalu. Terima kasih.

    1. Wah, seru juga tuh kl mbak Yuli bikin blog cerita-cerita tentang masa lalunya.
      Sekarang di London ada The Shard, gedung tertinggi di UK bahkan di Eropa Barat. Bisa naik dan moto2 skyline kota London. Aku ga tau apalagi yang sudah di London sejak 10 tahun yang lalu. Ya, selamat mengeksplorasi mbak.
      Salam,
      Giri

  5. Mas Giri. Terima kasih. Bagus juga idenya. Saya udah punya blog tetapi ga terpikir buat cerita-cerita yang dulu di London.
    Oh iya, Kalau masuk The Shard bayarnya lumayan mahal ya. Padahal pingin juga mampir. Kelihatannya seperti di Namsang Tower Seoul. Tetapi di korea tiket masuknya murah. Kalau foto the Shard dari luar aza gratis khan? He….he…Soalnya tiket masuknya hampir sama dengan tiket ke Cambridge. Coba ada diskon ya. Kalo bilang kepenjaganya saya kenal Giri, bisa dapat diskon ga ya?

    1. Ya, bayar mbak. Mahal ato ga ya relatif. Relatif terhadap ‘value’ yang didapat 🙂
      Foto dari luar boleh donk dan pastinya gratis. Dan ga kan dilarang2 oleh satpam layaknya di Indonesia. Hehe..
      Cobain aja, mbak, bilang ke penjaga bahwa kenalan Giri. Mudah2an ga dapat diskon. Hehe..

      1. Wah…kalau diingetin sama value yang didapat rasanya jadi pingin banget ke the Shard. Makasih ya udah diingetin. Tp kalo foto view di sana agak susah ya mas? pengalaman dulu di namsang tower fotonya sukses gelap karena yang kelihatan kaca aza. Sekarang sich udah coba belajar basic fotografi tp sayang pelajarannya belum sampai foto architecture. Mas Giri boleh tanya emailnya ga? saya perlu tanya2 transportasi dari heathrow nich. Dan ada beberapa pertanyaan tentang tranportasi dan juga untuk persiapan ke london oct ini. Mudah2an ga keberatan share informasi ya.

  6. Selamat malam mas Giri. Saya punya kenalan lewat facebook dr London dan hampir sebulan ini kita komunikasi setiap hari. Dia bilang ibunya (alm) orang lampung, dan dia ingin ke Indonesia utk liat negara asal ibunya. Dia bekerja sbg assistant sales executive for vodafone Uk london branch (handling united states vodafone accounts), tinggal di Morley street dan kuliah di Morley Academy. Yg ingin saya tanyakan, apakah Morley street dan Morley academy ada di London? Terima kasih ya mas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to Top