Sekolah Bisnis S2 terbaik

Suatu hari, ada orang bertanya ke saya menanyakan tentang sekolah bisnis S2 terbaik di Indonesia. Dia bertanya hal tersebut dikarenakan dia ingin mengambil S2 bisnis di Jakarta. Karena saya tidak mengambil S2 di Jakarta, jujur saja awalnya saya tidak mempunyai gambaran siapa-siapa saja yang layak digolongkan sebagai sekolah bisnis S2 terbaik di Indonesia, tepatnya di Jakarta.

Ketika dulu saya mau mengambil S2 di UK, banyak sekali referensi yang saya baca. Saya pernah baca salah satu artikel (saya lupa judulnya), beberapa faktor utama seseorang memilih sekolah MBA: Reputasi, Akreditasi, Ranking (pemeringkatan), Kurikulum, dan karir setelah lulus sekolah. Word of Mouth (referensi) dan kesuksesan para alumninya menggambarkan tingkat reputasi sebuah kampus. Untuk akreditasi dan kurikulum, kita dapat melihatnya di website masing-masing sekolah bisnis. Nah untuk sistem ranking, banyak sekali lembaga di luar negeri yang melakukan pemeringkatan MBA seperti FT, Forbes, The Economist, QS, dan lain-lain. Meski ranking tidak menjamin sebuah reputasi sekolah, besar sekali pengaruh ranking untuk memberi cap sekolah bisnis S2 terbaik. Kelima faktor di atas sangat mudah untuk kita peroleh sehingga sangat membantu seseorang memilih  sekolah bisnis S2 terbaik di luar.

Di Indonesia bagaimana nasibnya? Yang pasti, belum ada lembaga nasional yang melakukan pemeringkatan MBA di Indonesia. Jika kita menggunakan  sistem pemeringkatan MBA global, sekolah-sekolah bisnis S2 terbaik Indonesia juga belum tentu masuk karena secara resmi, gelar MBA di Indonesia harus diganti dengan MM (hal yang sama terjadi ketika Insinyur diganti Sarjana Teknik, Drs diganti Spd, dll). SWA magazine konon pernah mengeluarkan sistem pemeringkatan MM/MBA di Indonesia pada tahun 2009, namun sayang kini tak berjalan lagi.

Untuk reputasi, jika kita membaca blog-blog atau forum, ada 2 kampus yang cukup sering dibicarakan sebagai sekolah bisnis S2 terbaik di Jakarta, bahkan di Indonesia. Kedua kampus tersebut adalah Prasetiya Mulya dan UI  (urutan tidak menggambarkan tingkat reputasi loh). Kedua kampus tersebut menawarkan kisah alumni, kesempatan kesuksesan (setelah lulus), dan kurikulum yang terbaik (kalau kata mereka sendiri). Ada yang bilang (di blog Tsabita), kurikulum Prasetiya Mulya lebih sesuai dengan kebutuhan pasar dan MM UI lebih cenderung ke arah akademis dan text book based. MBA ITB juga sering muncul dalam pembicaraan sekolah bisnis S2 terbaik. Jadi ya berdasarkan Top of  Hearing saya, ya tiga sekolah bisnis S2 terbaik adalah Prasetiya Mulya, UI, dan ITB. Jika anda tidak suka, ya beda pendapat itu boleh. Ini negeri demokrasi, bung!

Sekolah Bisnis S2 terbaik
Suasana di salah satu Sekolah Bisnis S2 terbaik

Untuk mengetahui akreditasi dan kurikulum, kita bisa berkunjung ke masing-masing website kampus tersebut. Untuk Prasetiya Mulya, bisa berkunjung ke http://pmbs.ac.id/s2/ ; UI di http://mm.fe.ui.ac.id/ dan ITB di http://www.sbm.itb.ac.id/mba.  Untuk segi tampilan, saya suka website UI dan Prasetiya Mulya. Untuk kurikulum dan pengembangan kemampuan diri, rasanya masing-masing kampus menawarkan rasa (flavour) sendiri.

Jadi, kalau saya ditanya oleh teman saya, menurut kamu sekolah bisnis S2 terbaik di Indonesia apa ya? Jawaban saya Prasetiya Mulya, UI, dan ITB. Kalau ditanya lebih detail lagi, saya akan jawab, ikuti tes seleksi masuk kampus-kampus tersebut, nah yang mana yang kamu tidak lulus, itulah sekolah bisnis S2 terbaik. Karena menurut kacamata saya, sekolah bisnis terbaik sudah pasti akan menyaring mahasiswa dengan super ketat. Setelah gagal tes, ya coba ikut lagi gelombang berikutnya! Kalau dua-duanya lolos gimana, coba cari tahu education background S2 atasan-atasanmu. Apakah kebanyakan Prasetiya Mulya, ITB, atau UI. Kalau masih sama juga, baca dengan super teliti website MM Prasetiya Mulya, UI, dan ITB; cari tahu kampus mana yang sejalan dengan passion kamu. Masih sama juga, ya mohon petunjuk dari Yang Maha Kuasa.

Buat apa kita memilih MM (yang pasti harganya tidak murah. Kalau harganya murah, so pasti kita harus curiga) di sekolah bisnis nomor 2 terbaik. Kesempatan mengambil MM itu hanya sekali, jadi pastikan kamu memilih sekolah bisnis terbaik Nomor 1. Yang pasti, dalam hidup terkadang ada banyak faktor yang harus dipertimbangkan selain karena urusan kualitas. Jadi pilihlah apa yang memang terbaik untukmu dan orang-orang kamu sayangi! Kejar mimpimu dan saya doakan sukses selalu.

Sekolah Bisnis S2 terbaik

222 Responses

  1. Wah, kebetulan bgt gw mau kuliah S2 bisnis di Jakarta. Trima kasih informasinya. Btw, mnurut mas giri, lebih baik mengambil S2 di Indonesia atau di luar negeri?

    1. Dear Mas Rahmad,
      Terima kasih telah berkunjung ke blog saya. Mengambil S2 bisnis di luar negeri atau dalam negeri itu ada plus minus masing-masing. Dalam pandangan saya, S2 bisnis di luar negeri itu Positifnya:
      – Belajar budaya baru yang mungkin 180 derajat berbeda dengan Indonesia
      – Belajar ilmu-ilmu dan terapan bisnis yang terbaru
      Nilai Negatif:
      – Biaya cenderung lebih mahal
      – Jauh dari keluarga, rumah, dll
      – Kadang2 ilmu yg kita dptkan di luar blm tentu bisa diterapkan di Indonesia krn faktor SDM & Teknologi
      Sedangkan untuk S2 bisnis di Indonesia, nilai plusnya:
      – Ilmu-ilmu yang didapatkan cenderung aplikatif krn sudah diolah oleh pengajarnya (pd bbrp kampus tertentu, misalnya Prasetiya Mulya)
      – Dekat dengan bisnis atau keluarga di Indonesia
      Nilai Negatifnya:
      – Ya, ga mengalami suatu hal yang baru terkait kultur budaya.
      Itu pandangan dari saya. Ya, ada banyak hal lain lagi sebenarnya. Coba Mas Rahmad cari-cari di Google, melalui buku, atau tanya teman. Semoga membantu.
      Salam,
      Giri

  2. Salam kenal mas Giri,
    Kebetulan saya berencana melanjutkan ke MBA Brunel University tempat mas ambil MBA. Mungkin bisa kasih testimoni juga mas..
    Thx

    1. Hi Devy,
      Selamat berkuliah di Brunel University. Semoga sukses.
      Iya, di artikel ini, saya hanya fokus pada S2 bisnis dalam negeri. Mudah2an next time bisa nulis sekolah s2 bisnis terbaik di dunia. Good luck ya!
      Salam,
      Giri

  3. Wah nemu artikel ini, kece.
    Mas Giri, saya Insha Allah akan diwisuda akhir juni tahun ini, rencana mau lanjutin ke S2 bisnis. Atas review di atas, pertanyaan saya, bisakah saya (misalnya kalau suda approved di sekolah bisnis S2 itu, Amiiin Yaa Rabb), sambil kerja? Karena setau saya sekolah Double Degree itu cuma di 2 atau 3 hari di week end. Bisakah saya sambil kerja atau buka usaha, Mas Giri? Yaaa nambah biaya hiduplah, gitu Mas.
    Thx in advance, Mas!

    1. Dear Mas Sasli,
      Terima kasih telah berkunjung. Selamat ya Juni ini diwisuda.
      Setahu saya, UI dan Prasetiya Mulya itu menawarkan MM/MBA Full Time (Penuh waktu) dan part time. Saya ga tau persis persyaratannya apa. Tapi biasanya utk yg fresh graduate itu bisa mengambil yang Full Time. Biasanya jika ingin mengambil Part Time, harus ada pengalaman kerja. CMIIW
      Menurut saya, Tidak mgkn Mas Sasli bisa bekerja di perusahaan orang lain sambil mengambil kuliah Full Time. Soalnya waktunya tabrakan. Tapi, jika Mas Sasli sambil buka usaha, ya bisa mengambil MM Full Time. Biasanya masa kuliah MM Full Time lebih cepat jadi Mas Sasli bisa cepat juga fokus ke bisnisnya.
      Itu saran saya. Semoga membantu.
      Salam,
      Giri

    1. Hi Toni,
      Salam kenal juga. Wah, kl ditanya S2 bisnis dulu baru kerja atau kerja dulu baru S2 bisnis, ya tergantung tujuan dari Toni ya. Ini jawaban singkat saya ya.
      Jika Mas Toni merasa background S1-nya belum cukup untuk bekerja / jd enterpreneur di bidang yang diinginkan dan tnyt S2 bisa menjadi salah satu opsi, ya saran saya ambillah S2 bisnis sebelum bekerja. Dengan begitu, Mas Toni punya bekal S2 sebagai tools untuk bekerja atau berbisnis kelak. Contoh, Mas Toni S1nya dari teknik (engineering), tapi ingin berbisnis dan merasa blm terlalu paham dengan bisnis, ya ambillah S2 bisnis. Selama kuliah, Mas Toni akan belajar teori, aplikasi dan pengalaman para pebisnis. Dengan begitu, bisa mengurangi trial&error (mistake dari learning by doing) melalui learning from the experts.
      Jika Mas Toni memiliki latar belakang S1 yang rasa sudah sesuai dgn passion dan kriteria tempat kerja, ya coba kerja dulu dan nikmati. Kl trnyt setelah kerja, merasa perlu mengambil S2, silakan ambil S2. Atau Mas Toni merasa perlu mempertajam ilmu dan mendapatkan promosi, mengambil S2 merupakan salah satu opsi yang bisa dipertimbangkan.
      Semoga jawaban singkat saya bisa membantu.
      Salam,
      Giri

    1. Halo Mbak Reni,
      Terima kasih telah berkunjung. Kalau ditanya UI atau Prasmul dari kacamata saya, ya saya belum bisa jawab karena saya belum mengambil S2 bisnis di UI atau Prasetiya Mulya. Jd saya ga bisa bilang prefer yang mana. Artikel yang saya tulis hanyalah merupakan analisis singkat saya. Maaf jawabannya masih belum clear. Saran saya, coba Mbak Reni lakukan seperti apa yang ada pada artikel saya.
      Semoga membantu.
      Salam,
      Giri

      1. Hehe.. Jawabanmu diplomatis skali, Mas. Sebagai alumni prasmul, aku yakin sekolah bisnis yg terbaik ya Prasmul. MM/MBA terbaik yg ngasih experience + teori dan aplikasi dgn seimbang. #bukanjualanloh

    1. Hi Mega,
      Sepemahaman saya, di Indonesia secara resmi gelar Magister Manajemen atau S2 bisnis adalah MM. Silakan mencari informasinya di dikti. Pada tahun 1993, terjadi penggunaan baku gelar sarjana antara lain Insinyur menjadi Sarjana Teknik, Drs menjadi Spd, dan sebagainya. Sebelum tahun 1993, banyak sekali sekolah-sekolah yang menawarkan MBA. Penyebarannya bak jamur yang tersebar bahkan di ruko-ruko. Penggunaan baku gelar akademik juga terjadi pada MBA, yang akhirnya ‘terpaksa’ menggunakan MM.
      Jadi, menurut saya, di Indonesia, resminya menggunakan MM. Menjadi janggal jika andaikata di Indonesia, tiba-tiba kita melihat sebuah universitas menawarkan gelar Insinyur di saat seperti. Akan tetapi, sangat mungkin jika satu sekolah menawarkan dual degree MM-MBA seperti yang dilakukan UI. Mereka memberikan gelar MM dari UI dan MBA dari Grenoble, Universite Piere Mendes. Jadi jika satu uni menawarkan MBA, coba Mas Mega liat apakah mereka bekerjasama dengan universitas dari luar atau tidak.
      Jika ditanya kurikulum MM dan MBA itu sama atau tidak, saya jawab dengan tegas, ya sama. Saya pernah melihat kurikulum di UI dan Prasetiya Mulya, dan saya bandingkan dengan yang saya di London, ya secara garis besar mata kuliahnya sama. Meskipun dalam kuliahnya, akan banyak kasus-kasus bisnis atau pendekatan bisnis yang berbeda (menyesuaikan dengan konteks Indonesia).
      Semoga jawaban saya membantu.
      Salam,
      Giri

      1. Mas,kalo lulusan hubungan internasional nyambung gak ya untuk lanjut MM? Apa MM itu hanya berlaku untuk para lulusan jurusan yang berbau ekonomi dan engineering aja?
        Thank you Mas!

        1. Halo Tari,
          MM bisa untuk lulusan S1 jurusan apapun kok. Ga harus selalu ekonomi atau teknik. Dari lulusan kedokteran ingin memperdalam ilmu manajemen bisnis pun bisa ambil MM. Intinya, melanjutkan MM itu harus sejalan dengan passion Tari. Semoga membantu.
          Salam,
          Giri

  4. Mas Giri, terimakasih sebelumnya atas respon di atas.
    ternyata masih ada beberapa pertanyaan lagi, mas.
    soal karir mas, seorang Fresh Graduate(FG), yang langsung melanjutkan ke S2, MBA, prospek karir ke depannya di dunia karyawan (perusahaan) akan jadi (di posisi) apa, mas? kira-kira.
    Saya baca di sebuah artikel, katanya gini, seorang FG yang langsung lanjut studi S2, tanpa bekerja (nyari pengalaman 1/2tahun) terlebih dahulu, nantinya ketika dia akan apply job ke sebuah perusahaan pake ijazah S2-nya, perusahaan itu akan kebingungan untuk menggaji si S2 itu karena ketidak adanya pengalaman kerja yang dimiliki, betulkah seperti itu, Mas?
    kalau lulusan S2 MBA (lanjutan FG), bagusnya jadi seorang pebisnis (mendirikan perusahaan), atau bekerja di perusahaan, Mas?
    kalau saya mau punya usaha mas, sukur kalau bisa jadi biz consultant yg nolong pemilik usaha level umkm yang Potential Sleeping Market (PMS), supaya makin besar dan banyak cabang. passion saya disitu mas, punya usaha dan nolong pemilik PMS itu.. gimana tuh, Mas? 😉

    1. Hi Sasli,
      Pesan saya cuma satu kalimat: follow your heart, listen to your passion, and do what you love.
      Tidak masalah FG mengambil S2 bisnis lalu mau bekerja sbg profesional atau entrepreneur. Selama itu dikerjakan sesuai dengan nurani dan panggilan hati, pasti Sasli akan memiliki kinerja cemerlang.
      FG, yang lalu mengambil MM, terkadang diapresiasi lebih oleh beberapa perusahaan. Memang tidak semua perusahaan. Tapi, ada bbrp perusahaan yang sgt mengapresiasi seseorang yg telah mengambil S2 bisnis. Jadi, saya tidak menggeneralisir jawaban Sasli.
      Jika ingin menjadi biz consultant utk UMKM, menarik sekali. Itu akan sangat membantu potensi mereka sebagai penggerak perekonomian menjadi semakin baik. Rasanya banyak juga biz consultant, bahkan bbrp bank, tak hanya menawarkan kredit ttp juga memberikan konsultasi. Selain itu, ada jg yang namanya venture capital, yang tak hanya memberikan konsultansi bisnis, tetapi juga memberikan modal. Selamat berkontemplasi.
      Semoga membantu. Salam
      Giri

  5. Pesan saya cuma satu kalimat: follow your heart, listen to your passion, and do what you love. <– Thank you for this Mas.
    Insha Allah saya akan tetap melanjutkan pendidikan saya dalam waktu dekat. Soal masa depan, pendidikan memang belum tentu membuat kita kaya raya dgn harta berlimpah, tp saya yakin dengan pendidikan, insha Allah saya bisa bermanfaat banyak bagi orang lain. "Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang" Nabi Muhammad SAW, bermanfaat bagi orang lain, bukan perusahaan apalagi partai politik 😉
    Terimakasih Mas Giri.

  6. kalau yang saya baca, MBA ITB yang lebih berprestasi . MBA ITB Menang juara Loreal Business Competition, malah mengalahkan MBA di seluruh dunia. Untuk UI dan Prasmul saya malah belum melihat prestasi internasionalnya. MBA dan MM menurut saya beda, MBA lebih aplikatif , lebih case based. MBA lebih untuk mencetak pebisnis jadi menurut saya mahasiswa memang harus di rangsang untuk pemberian solusi. MBA ITB yang katanya mengadopsi dan memakai case based nya Harvard Business School lebih menarik sepertinya.

    1. Halo Pengamat Sekolah (senang sekali jika mau menulis nama asli),
      Setahu saya, mahasiswa prasetiya mulya pernah memenangkan GSVC, salah satu kompetisi global yang lumrah dimenangkan oleh sekolah bisnis MBA di US seperti Stanford, Harvard, dll. Mahasiswa MM UI mungkin pernah memenangkan kompetisi global lainnya namun tak terekspos oleh media (mudah2an ada mahasiswa MM UI yg mau ngasih komentar). Menurut saya, menang di kompetisi hanya salah satu indikator sekolah bisnis yang baik. Untuk menilai sekolah bisnis itu berprestasi, rasanya dan bijaknya ada banyak faktor yang harus dipertimbangkan selain menang di kompetisi global.
      Untuk aplikasi teori, saya tidak menjamin. Saya mengambil MBA di UK. Saya melihat kurikulum MM di UI, ITB, dan Prasmul. Setelah saya bandingkan, saya boleh bilang 70% hampir sama. Silakan Mas pengamat sekolah membuka website MBA sekolah-sekolah bisnis ternama dan mulai membandingkan. Jadi kalau pembedanya adalah kurikulum, saya rasa tidak juga. Tapi kalau pembedanya adalah proses pengajaran, itu yang tidak bisa saya jawab karena saya tidak pernah mengambil MM di UI, ITB, maupun Prasmul sehingga saya tidak bisa membandingkan. Dan menurut saya (menurut saya loh ini), semua sekolah MM di Indonesia menggunakan US Business School sebagai referensinya. Sehingga bukan cuma MBA ITB yg mgkn mengadopsi Harvard, MM lainnya seperti UI, Prasmul, Binus, IPMI, atau PPM juga memiliki opportunity utk melakukan hal yang sama.
      Semoga membantu.
      Salam,
      Giri

  7. Saya juga bukan mahasiswa bisnis di indonesia, saya cuma hasil baca2 saja dan kebetulan ada teman yang sekolah disana. barusan baca2 juga di link ini http://kampus.okezone.com/read/2013/03/19/373/778105/prodi-mba-itb-diakui-dunia kalau di indonesia untuk sekolah bisnis sepertinya itu sih gan . kalau konsepnya MM ya untuk mencetak researcher , kalau konsepnya MBA yang untuk mencetak pebisnis . simple . saya dulu kuliah di bidang financial engineering karena memang saya suka hal-hal yang bersifat quantitative.yang pasti belum ada bidang ini di Indonesia. sekarang saya bekerja sebagai derivatives trader di sebuah bank asing di indonesia.

    1. Hi Mas Pengamat sekolah
      Tampaknya pengamat sekolah ini pro ITB sekali ya. Silakan kok mas berpendapat. Kan kita negeri demokrasi :). Btw, kok alamat emailnya gonta-ganti ya? Saya akan sangat senang jika mas pengamat sekolah berkenan berdiskusi dengan nama dan alamat email yang asli.
      Merespon berita dari Mas, ada banyak kok badan pemberi akreditasi sekolah bisnis. Yang terkenal dan bonafide ya AASCB, AMBA, Equis. Jika bisa dapat tiga-tiganya disebut Triple Accreditation. Di dunia ini, masih di bawah 100 sekolah yang mampu mendapatkan Triple Accreditation. Dan sayangnya, belum ada satupun sekolah bisnis di Indonesia yang mendapatkan Triple Accreditation. Jika ada sekolah bisnis di Indonesia yang mampu mendapat tiga akreditasi tersebut, percayalah saya akan berada di garda terdepan mendukung bahwa sekolah bisnis itu adalah sekolah bisnis MM/MBA terbaik di Indonesia. Oh ya, di US juga belum ada sekolah bisnis yang mendapatkan Triple Accreditation. Kenapa begitu? Karena pada umumnya mereka fokus pada akreditasi AASCB (akreditasi di US & Kanada) dan tidak bgitu fokus dengan validasi dari badan akreditasi lain seperti dari Eropa (Equis) atau UK (AMBA). Di Indonesia, bahkan belum ada satupun sekolah bisnis yang mendapat AACSB Business Accredited. Jika ada yang berhasil, lagi-lagi saya akan berada di garda terdepan mendukungnya menjadi sekolah bisnis terbaik di Indonesia 🙂
      Maka, jika berbicara mengenai akreditasi, mari kita tunggu antara UI, ITB, Prasetiya Mulya, dan sekolah-sekolah bisnis S2 lainnya untuk bisa menjadi sekolah bisnis pertama di Indonesia yang mendapatkan Triple Accreditation.
      Sukses selalu mas
      Giri

      1. Mas Giri
        Setau saya di Indonesia yang sudah dapat AACSB dengan UGM? bagaimana dengan UGM mas Giri.. kan saat ini juga sudah ada di Jakarta Kampusnya, Kebetulan saya mau lanjut juga setelah 5 tahun saya kerja… ya tentunya juga disesuaikan dengan Budget…mohon masukannya mas?
        Salam Hormat
        Aryaditya Triwaluyo

        1. Halo Mas Arya,
          Ya betul sekali. Di Indonesia, yang sudah mendapatkan akreditasi AACSB baru UGM. MM UGM sangat layak dipertimbangkan bersama dengan UI, ITB, atau Prasmul. Saya lebih suka menyarankan mahasiswa / calon mahasiswa untuk melihat kurikulum dari MM/MBA tersebut, baru kemudian memutuskan. Jadi jangan hanya melihat dari akreditasi atau peringkat. Misalnya Mas mencari MM yang kuat di entrepreneurship, mungkin kampus ITB atau Prasmul bisa menjadi pilihan. Ya, masing-masing MM punya flavour khusus, meskipun memiliki kesamaaan di silabus misalnya. Jadi, lihat, baca, dan telaah dengan detail kurikulum masing2 sekolah dan lihat bagaimana program/dosen/lingkungan bisa mendukung visi sekolah tersebut.
          Salam,
          Giri

    1. Hi Stephen,
      Terima kasih link nya. Sangat memperkaya diskusi. Disitu terlihat, kelebihan ITB apa, UI apa, dan Prasetiya Mulya apa. Dan biarlah publik yang menilainya karena setiap orang punya ideologi dan cara pandang masing-masing.
      Salam,
      Giri

  8. Mas Giri, mau tanya nih, menurut mas, prefer kerja dulu baru lanjut S2 di MM atau setelah lulus S1 langsung kuliah S2 MM? Jujur saya ingin kuliah lagi nanti.. Sama satu lagi, klo background kita engineer, apakah sulit buat belajar tentang S2 di MM, klo sulit hal apakah yang harus dipersiapkan sebelumnya? Terima kasih..

    1. Halo Ted,
      Sebenarnya Ted bisa membaca di salah satu comment di atas. Pernah saya bahas juga. Namun, saya coba tambahkan hasil diskusi saya dengan teman saya di sekolah bisnis mengenai keunggulan kuliah S2 MM langsung:
      1. Bisa memahami knowledge di banyak bidang dan berbagai industri yang diperoleh dari kelas-kelas, para expert, melalui sharing, dan sebagainya.
      2. Mendapatkan basic sampai aplikatif knowledge. Dengan mengambil MM terlebih dahulu, bisa langsung belajar (katakan Ilmu Marketing) dari dasar atau hal-hal yang berbau fundamental hingga pengaplikasiannya. Sehingga ketika masuk kerja, bisa mengakselerasi karir atau bisnis.
      3. Area untuk menggali interest. Kadang2 setelah lulus S1, ada mahasiswa yg blm tau mau bekerja di industri apa atau menjadi apa. Dengan mengambil MM yang membahas banyak industri, itu akan membuka pengetahuan seseorang dan menjadi kesempatan untuk dia mengenali apa passionnya, di industri apa yg dia senangi, dan bagaimana bisa sukses di industri tsb. Dengan begitu, mengambil MM sebelum bekerja itu layaknya pembekalan senjata yang super lengkap sebelum berperang.
      Perihal sulit belajar lagi MM, there’s a will there’s a way. Tidak ada yang susah kok. Memang butuh penyesuaian, tetapi jika memang ada kemauan dan kemampuan, bisa beradaptasi dengan cepat.
      Semoga membantu,
      Giri

  9. Salam mas.
    Saya mhs MBA ITB. mgkn bisa nimbrung sharing.
    SBM ITB merupakan PTN pertama di Indonesia yang memberikan gelar MBA. skarang UGM sudah menawarkan MM jadi MBA.
    Saya dulu pilih MBA ITB ktimbang MM UI karena :
    1) bbrp alumni MM UI bilang dosennya UI sibuk banget sama proyek sampe sering gak ngajar dan mbimbing.
    2) biaya MBA ITB 68 jt dan MM UI 100 jt.
    3) Bagaimanapun, MM dan MBA berbeda. MM stahu saya tuk ilmu, teori, keilmuan, dibanyak kampus mirip MSM nya ITB/UI. cocok buat dosen. kalau profesional, ya MBA. krn bbasis kasus.
    terima kasih

    1. Nah, ini yang saya suka, langsung mahasiswa-nya yang berbicara. Mudah2an ada mahasiswa dari UI atau Prasetiya Mulya yang bisa ikutan nimbrung berdiskusi.
      Terima kasih, Mas Agung, atas sharing-nya. Btw, menurut saya MSM berbeda dengan MM. MSM itu research-based karena itulah namanya Magister SAINS Manajemen. MM itu tidak research-based loh. Silakan buka seluruh kurikulum MBA di sekolah-sekolah terbaik US dan bandingkan dengan MM UI atau Prasetiya Mulya. Saya yakin 70% sama. Jangan buka kurikulum saja, baca sampai silabus dan tugas akhirnya. Mas Agung akan menemukan persamaan MM dan MBA.
      So, kalau ada yang bilang, MM itu teori dan MBA itu berbasis kasus, saya akan menyanggahnya. Silakan Mas Agung berkunjung ke kampus UI atau Prasetiya Mulya dan menanyakan hal tersebut. Masalah menjadi dosen atau tidak, menurut saya lulusan MM atau MBA juga bisa. Tataran yang dibicarakan bukan menjadi dosen atau tidak, tetapi lebih menjadi researcher atau professional. MSM arahnya mungkin menjadi researcher, sedangkan MM dan MBA untuk professional.
      Silakan mas berdiskusi. Saya 100% terbuka kok.
      Salam,
      Giri

    2. Halo Mas Agung Purnomo.
      Salam kenal, saya Dina, saya mau tanya, kalau untuk kuliah di MBA ITB, kira-kira referensi buku2nya apa saja ya? judul buku dan nama pengarangnya? mohon bantuannya ya.
      Dear Mas Giri.
      mohon maaf ya, saya nimbrung di blognya 🙂
      Terima kasih.

  10. Bgmn dgn MM/MBA UGM? Koq gak disebut” nih….. Padahal kl liat di websitenya MM/MBA UGM sedang memasuki tahap akhir proses akreditasi dari AACSB yang insya Allah akan diperoleh pada thn 2014 sehingga akan menjadi sekolah bisnis pertama di Indonesia yang berakreditasi internasional. Lulusan sekolah bisnis UGM pun akan menyandang gelar MBA bukan lagi MM.

    1. Hi Mbak Nita,
      Terima kasih sudah mampir. Hehe.. Syukurlah kalau MM/MBA UGM sudah hendak memasuki tahap akhir akreditasi AACSB. Btw, boleh minta link-nya terkait hal itu? Jadi bisa memberikan kepastian kepada teman-teman pembaca yang lain. Saya doakan UGM bisa sukses menjadi sekolah bisnis pertama di Indonesia yang meraih akreditasi AACSB.
      Oh ya, UGM ga saya sebut2 karena spt yg saya bilang, top of mind saya menyatakan bahwa MM UI dan MM Prasetiya Mulya yang ada di peringkat teratas. Bisa saja UGM jauh lebih bagus dibandingkan kedua kampus tersebut. Belum ada satu patokan atau referensi atau perhitungan akurat yang bisa menjawab hal tersebut.
      Semoga membantu.
      Salam diskusi
      Giri

  11. Salam Mas Giri,
    Salam kenal,
    Mau nanya, apakah ada di Indonesia yang menyelenggarakan S2 online?
    Saat ini saya bekerja diluar Indonesia, TKI di Arab Saudi.
    Mohon responnya dikirimkan ke email saya juga.
    Terima kasih mas.
    Salam,
    Fariz

    1. Halo Mas Fariez,
      Terima kasih sudah berkunjung. Mohon maaf sebelumnya, saya tidak tahu apakah ada institusi di Indonesia yang menyelenggarakan S2 bisnis online. Mgkn Mas Fariez bisa browsing satu per satu website business school di Indonesia. Semoga membantu.
      Salam,
      Giri

    1. Halo mbak Nita,
      Terima kasih link-nya. Mencerahkan :). Kita doakan semoga sukses. Buat teman2 yg sdg mencari MM/MBA di Indonesia, MM UGM patut diperhitungkan.
      Btw, mbak Nita bagian dari MM UGM kah? Mahasiswa? Alumni? Dosen?
      Salam,
      Giri

  12. Pingback: Kuliah Full-Time
  13. selamat pagi mas Giri,
    Saya mau nanya nih, saya mau lanjut s2 major bisnis di eropa atau amerika nih. Syarat-syarat yang saya harus lalui apa saja ya mas setelah saya lulus s1 nanti? apakah harus ada minimal IP atau gimana.
    best regards,
    Fadel

    1. Halo Fadel,
      Terkait syarat2 S2, silakan baca di website kampus dan major yang Fadel ingin tuju. Misalnya Fadel ingin mengambil MBA di Imperial College, ya bukalah website MBA Imperial College. Disitu akan terpapar dengan jelas persyaratan-persyaratan MBA. Terkadang setiap kampus berbeda-beda persyaratannya. Sejauh yang saya tahu, IP tidak menjadi masalah. Bbrp persyaratan umum: Pengalaman kerja > 3 tahun (ada yg 5 tahun), IELTS > 7, GMAT > 550 (ada yg 600), Mengirimkan Personal Statement, CV, dan bbrp berkas spt ijazah lulus S1, dsb. Utk detailnya, seperti yang saya bilang tadi, bukalah website kampus+major yang Fadel ingin ambil.
      Semoga membantu.
      Salam,
      Giri

  14. maaf ikut nimbrung,
    klo mnurut saya mh, yg dpentingkan bukan reputasi PTN/PTS dan gelar MBA/MM nya tapi jaminan karir setelah lulus, apakah jd seorang pengusaha,investor, pegawai, dosen, atau malah jd pengangguran(mudah2n lulusan S2 g d yg nganggur)

  15. Hallo Mas Giri,
    Background kuliah saya adl Teknik Informatika, tetapi setelah lulus saya terlanjut masuk kedalam dunia perbankan khususnya marketing lending. Dari sini saya belajar banyak mengenai bisnis2 nasabah yang saya handel dan juga mengenai beberapa dasar analisa keuangan untuk pengajuan kredit dari nasabah tsb. Setelah lama berpikir akhirnya saya mau mengambil keputusan untuk melanjutkan kuliah S2 khususnya bidang analisa finance, karena sy lbh menyukai analisis dan angka2 ketimbang harus face to face menghandel nasabah.
    Tetapi yang menjadi keraguan saya adl apakah bisa dengan background kuliah S1 saya yg sebelumnya teknik informatika untuk mengambil kuliah S2 finance? Dan setelah saya lulus S2 nanti pekerjaan apa yang kira2 bisa saya dapatkan?
    Lalu menurut mas giri bagaimana dengan S2 finance di Binus? Beberapa teman ada yang mengatakan kalau S2 binus saat ini cukup bagus dan memiliki akreditasi A. Sebenarnya saya tertarik dengan prasmul, tetapi dengan lokasi yang cukup lumayan jauh (Cilandak) dari rmh menjadi kendala.

    1. Halo Lia,
      Terima kasih sudah mampir ke blog saya. Syukurlah jika Lia sudah mulai menemukan passionnya di dunia keuangan. Perihal lulusan S1 teknik kemudian mengambil S2 finance, ya menurut saya itu lumrah terjadi. Jadi kalau ditanya, apakah bisa? Saya jawab dengan tegas 100% bisa. Ada pemimpin2 bisnis perbankan Indonesia yang latar belakangnya teknik seperti CEO Bank Mandiri sebelum Budi Sadikin, yakni Zulkifli Zaini. Pak Budi Sadikin sendiri S1nya dari fisika, kemudian bisa menjadi CEO Bank Mandiri. Utk bisa menjadi sukses, ada 2 hal yang perlu diperhatikan yakni: 1).Karakter dan 2). Kompetensi. Selama ada kemauan kuat, pasti bisa meningkatkan 2 hal tersebut. Dengan latar belakang S1 ditambah S2 finance akan semakin memperdalam kesiapan kompetensi kita di dunia perbankan.
      Pekerjaan yang bisa Lia dapatkan setelah S2? Ya, ada banyak kemungkinan. Bisa menjadi manager atau head di bag operations, corporate finance, corp credit analyst, analyst, dan lain sebagainya.
      S2 finance di Binus? Mohon maaf saya tidak terlalu tahu. Silakan Lia membuka website binus untuk tahu lebih dalam. Menurut saya, jika memang ingin mengambil S2, pilihlah yang terbaik. Jangan sampai hanya karena lokasi yang jauh, kita hanya mengejar yang mudah (lokasinya). Untuk sukses, memang diperlukan perjuangan. Namun perjuangan itu yang membuat seorang semakin kuat. Saran saya, lebih baik mencari sekolah S2 TERBAIK yang sesuai dengan kebutuhan Lia. Sayang jika sudah investasi banyak uang (S2 dimanapun tidak ada yang murah) namun tidak mendapatkan return yang optimal. Pilihlah yang terbaik dan jika mau, bisa mencari kos di sekitar kampus tersebut utk mengatasi kendala jarak.
      Semoga membantu,
      Giri

  16. Wah makasih masukkanya Mas Giri, saya mau tanya lagi nih, kalau background saya teknik informatika apa nanti tidak akan menjadi kendala saat perkuliahan kalau saya ambil finance? Kalau boleh tau biasanya materi perkuliahan untuk finance seperti apa ya?
    Untuk pilihan Univ S2 Finance yang bagus, selain Prasmul apa ada pilihan univ lain? Apa Mas Giri tau mengenai PPM Manajemen? Saya membuka websitenya dan disebutkan Akreditasinya A, dan masuk ke dalam daftar 10 Univ Bisnis terbaik di Indonesia versi Majalah SWA.
    Terima kasih untuk jawabannya.

    1. Halo Lia,
      Saya rasa tidak menjadi kendala. Finance itu sesuatu yang bisa dipelajari selama Lia tekun dan berdedikasi. Meskipun S1 Lia terlihat tidak menyambung; dengan kuliah S2, rajin membaca, dan/atau banyak2 ngobrol dengan orang yang lebih berpengalaman, semua halangan atau biasa disebut ‘knowledge gap’ pasti bisa teratasi. Biasanya lulusan teknik itu punya pola pikir yang sistematis dimana itu sebenarnya sangat dibutuhkan di dunia keuangan. Jadi S1 Lia secara tidak langsung telah membentuk pola pikir anak teknik dan jika ditambahkan dengan bekal S2 yang memberikan banyak pengetahuan dan pola pikir yang baru nantinya akan memperkaya kompetensi dan juga karakter Lia.
      Wah, untuk S2 finance saya juga tidak tahu pasti. Di artikel ini, ada 2 kampus yang menurut top of mind saya ada di peringkat atas, yakni Prasetiya Mulya dan UI, untuk program MM (meskipun di dalamnya ada majoring / konsentrasi keuangan). Saya melihat MM secara keseluruhan, bukan hanya konsentrasi keuangan. Lia juga bisa baca di komentar-komentar, ada yang memberikan pandangan yang bisa memperkaya referensi kampus. Saran saya coba Lia kunjungi website-website program MM atau S2 keuangan yang ada, buka kurikulum, dan bandingkan satu dengan yang lainnya. Universitas dgn reputasi dan memiliki mata kuliah yang sejalan dengan passion Lia, ya silakan Lia daftar kesana.
      Semoga membantu.
      Giri

  17. SBM ITB merupakan PTN pertama yg mngeluarkan MBA. Skrg, sudah di ikuti oleh UGM. untuk UI, masih gunakan MM. menurut saya, kalau kita di dunia profesional, tentu MBA lebih “familiar”. Jika punya kesempatan, jika memilih kuliah di Indonesia, menurut saya sebaiknya salah satu dari 4 top kampus Indonesia, yakni UI-ITB-UGM-IPB. kenapa?. agar kita mendapatkan “kemewahan” networking salah satu dari 4 kampus tsb. klo biaya kuliah, MBA ITB skitar 68 juta dan MM UI sekitar 110 juta. Saya dulu tidak memilih MM UI, karena katanya dosen nya sibuk proyek sampe lupa mahasiswanya shg tesis nya lama selesai. Saya memilih MBA ITB karena ada program MBA CCE (creative and cultural entrepreneurship).

    1. Halo Mas Agung,
      Terima kasih ikut berkomentar. Saya sangat setuju untuk urusan networking bagi lulusan UI, ITB, UGM, dan IPB (karena saya juga alumni ITB). Bahkan benefit networkingnya akan lebih terasa jika lulusan dari 4 PTN tersebut di strata 1 alias S1 dibanding S2nya. Buat temen2 yg mau pilih S1, ya 4 PTN di atas sangat layak diperhitungkan.
      Salam,
      Giri

    2. Halo Mas Agung.
      Salam kenal, saya Dina, saya mau tanya, kalau untuk kuliah di MBA ITB, kira-kira referensi buku2nya apa saja ya? judul buku dan nama pengarangnya? yang berkaitan dengan mata kuliah..mohon bantuannya ya.
      Dear Mas Giri.
      saya nimbrung lagi dan menanyakan hal yang sama..hehe terima kasiih mas Giri 🙂

  18. Halo2, salam mas kalau boleh saya ikutan nimbrung disini.
    Alhamdulillah saya baru saja lulus masuk MM UI th.2014 dan baru saja memasuki masa orientasi.
    Sebelum saya masuk MM UI saya juga search untuk plus/minus dari masing-masing universitas yang ada dan pengalaman dari masing-masing lulusan. Dari hasil survey yang SWA lakukan tahun 2009 menurut saya masih valid sih sampai sekarang, walau tidak ada survey lagi di tahun-tahun berikutnya. Setidaknya memang Top of Mind dari masyarakat masih ke univ/institut tersebut.
    Untuk MM sama dengan MBA, menurut saya memang sama hanya masalah gelar saja. Memang gelar MBA lebih dikenal di dunia bisnis dibandingkan MM terutama untuk dunia kerja internasional. Tapi kembali lagi yang diutamakan tentu skill kita saat di test dalam bekerja nantinya.
    MSM ITB mungkin lebih bisa disamakan dengan Magister Ilmu Manajemen ya di UI karena lebih berorientasi ke ilmu dan lulusannya lebih ke riset atau tenaga pengajar.
    Untuk masalah penghargaan atas kompetisi yang pernah diraih, kalau di atas dikatakan SBM ITB pernah meraih L’oreal estrat betul sekali bahkan berturut-turut dan pernah dalam satu periode meraih sampai 4 penghargaan. Tapi sesuai yang mas Giri katakan mungkin MBA atau MM univ lain pernah meraih penghargaan dalam perlombaan internasional yang lain.
    Saya sendiri kuliah S1 di Teknik Industri Undip dan sebelum resign berada di dunia perbankan 7 tahun. Terlalu tua untuk kuliah lagi? Mungkin saja, tapi pasti ada jalan kok dan teman kuliah tidak ada yang pelit ilmu pastinya untuk membagi pengetahuannya.
    Dosen UI kebanyakan proyek? Menurut saya bisa dialami semua universitas, dan jenjang S2 kita harus lebih pro aktif sih. Kalau dosen memang lebih banyak sibuk di luar, ya kita lebih aktif baca buku pendukung, jurnal atau diskusi dengan teman mahasiswa atau senior yang lain.
    Intinya sih menurut saya :
    1. Kuliah dulu atau kerja dulu, masing-masing ada +/- yang penting kita konsekuen dengan yang dipilih. Ada yang kalau sudah kerja malah nggak fokus kuliah ada juga yang langsung lanjut kuliah malah nyesel. Ada juga yang bekerja dulu, malah dapat S2 ke luar negeri (Harvard, Yale, dll) dibayarin kantor
    2. MM/MBA di univ mana? Silakan disesuaikan dengan pertimbangan masing2. Jika dana masalah maka pilihlah yang biaya paling murah. Jika jarak jadi alasan ya pilih kuliah yang dekat. Oya kalau MM kan ada konsentrasi Keuangan/SDM/Pemasaran/Umum/Perbankan dll. Silakan disesuaikan dengan rencana kedepannya seperti apa.
    3. Ambil di dalam negri atau LN? saya sih lebih pingin ambil di LN, tapi karena bisnis saya ada di DN jadi sambil monitor bisnis maka ambil kuliah di DN lagian lebih murah biayanya hehehe. Tapi kalau mau kuliah di LN banyak sekali kok beasiswa yang ada. Coba saja persiapkan dokumen2 yang diperlukan.
    4. Jaminan nggak setelah lulus S2 MM/MBA lebih gampang dapat kerja dibandingkan cuma S1? Jangan-jangan cuma boros2in uang.
    Gak ada yang jamin S1 akan lebih gampang dapat kerja dibandingkan S2 atau sebaliknya, tapi yang dijamin adalah networking kita lebih banyak dan ilmu yang dipelajari juga bertambahn

    1. Halo Mas Yudhi,
      Inspiratif sekali. Saya sangat senang dengan komentar, opini, dan masukan Mas Yudhi disini. Mudah-mudahan akan lahir ‘mas yudhi-mas yudhi’ lainnya yang bisa memberikan pencerahan juga kepada pembaca. Dengan semakin banyak opini, pastinya akan memberikan masukan kepada insan-insan yang sedang atau mgkn nanti akan mengambil MM/MBA. Ya, saya selalu setuju bahwa kita kalau mengambil S2 jangan hanya mencari gelarnya; galilah ilmu sedalam-dalamnya dan pupuklah jejaring (networking) setinggi-tingginya. Kelak itu yang akan lebih berguna di dunia kerja/bisnis dibanding hanya gelar.
      Terima kasih, Mas Yudhi, sudah mau berkomentar.
      Saya doakan yang terbaik untuk karir dan bisnis Mas Yudhi.
      Salam,
      Giri

        1. Salam Mas Yudhi,
          Sedikit perkenalan, saya alumni ITB dan berencana melanjutkan MBA. Saya sudah buka2 website resmi ITB, UI, UGM dan tertarik ke UI.
          Pertanyaan saya apakah MM-MBA UI benar2 memberi gelar MBA? Berikut kutipan dari website UI yang membuat saya bertanya2 :
          “… Peserta peminatan ini pada akhir studinya akan memperoleh gelar Magister Manajemen dari Universitas Indonesia dan gelar Certificat d’Aptitude a L’Administration des Entreprises (CAAE) yang setara dengan gelar MBA, dari salah satu universitas terkemuka di Perancis. ”
          Makin membuat saya bertanya2, pada website yg sama namun halaman yang berbeda :
          “… Gelar MM akan diberikan oleh MM-FEUI dan MBA dari I.A.E de Grenoble yang diakui di seluruh wilayah Uni Eropa. ”
          Mohon pencerahannya bagi yg memiliki info terkait.
          Terima kasih,
          Salam,

  19. Hallo, salam kenal saya harun.
    sebelumnya ijin nimbrung diblog yang sangat menarik ini.
    saya bru jadi (FG) IPB dan ingin melanjutkan S2 Manajemen Bisnis.
    kira-kira ada nggak ya pembahasan/info tentang MB IPB?
    apakah MB IPB masuk kategori S2 yg bagus?
    mungkin ada pencerahan dari senior2 atau alumni yg baca.
    trims

    1. Halo Harun,
      Terima kasih telah mampir. Mudah2an ada mahasiswa atau alumni MB IPB yang bisa berbagi cerita. Saya sendiri tidak punya info khusus mengenai MB IPB. Semoga sukses ya.
      Giri

  20. Mas,
    1. kalau referensi S2 yang budget nya dibawah UGM, UI, ITB ada gak ? tapi masih tetap berkuwalitas, 🙂
    2. Ada tahu gak, kampus Luar negeri yang membuka kelas S2 diindonesia ?
    Thx – Melky

    1. Halo Melky,
      Terima kasih telah mampir. Wah, jujur saya tidak mempunyai jawaban pasti atas dua pertanyaan Melky. Coba lihat MM Binus, Trisakti, Untar, atau PPM untuk melakukan perbandingan harga. Kampus luar negeri yg membuka S2 di Indonesia? Saya tidak tahu. Tapi banyak kampus di Indonesia yang bekerjasama dengan kampus di luar negeri untuk urusan kurikulum. Semoga membantu.
      Giri

  21. Sama halnya dgn MM/MBA UGM, MM Manajemen Bisnis IPB sedang proses akreditasi dari AACSB yang akan diperoleh pada tahun 2014 ini sehingga akan menjadi sekolah bisnis di Indonesia yang berakreditasi internasional. Lulusan sekolah bisnis UGM pun akan menyandang gelar MBA bukan lagi MM.
    Kemudian info dari http://www.webometrics.info/ bahwa Berdasarkan hasil pemeringkatan yang dikeluarkan Januari 2013, Program Pascasarjana Manajemen dan Bisnis – Institut Pertanian Bogor (http://mb.ipb.ac.id) berhasil mempertahankan peringkat pertama di Indonesia, peringkat ke-2 Asia Tenggara, peringkat ke-6 Asia dan peringkat ke-50 dunia untuk kategori sekolah bisnis. Sebelumnya Juli 2012, MB-IPB menempati peringkat pertama di Indonesia, peringkat ke-3 Asia Tenggara dan peringkat 100 dunia untuk kategori sekolah bisnis.
    Pemeringkatan Webometrics dilakukan dengan cara mengukur website domain institusi berdasarkan beberapa kriteria, yakni visibility, size atau jumlah halaman yang tertangkap situs pencarian, rich file (jumlah file dokumen), dan Google scholarship, yakni jumlah paper terindeks di Google Scholar. Dengan presentasi penilaian visibility untuk 50%, Size untuk 40%, rich file untuk 5%, dan google Scholarship untuk 5%. MB-IPB unggul pada kriteria Rich Files dan Google Scholar dengan masing-masing menempati urutan 16 dan 29 diantara perguruan tinggi negeri dan swasta Indonesia.
    Semoga dengan prestasi ini MB-IPB terus berkarya dalam mengembangkan diri menjadi lembaga sekolah bisnis terdepan dengan status World Class University (WCU).

  22. keren lu gir bisa kelola web walau sibuk dg kuliah.
    ane ada niat s2 modal sendiri nih lagi nabung kira2 biaya s2 mba mulyq pratama berapa ya broer

    1. Ah biasa aja broer. Masih jauh dari keren. Saling mendoakan supaya tetap keren :). Apa kabar, pak?
      Biaya S2 apa nih? Mulya pratama? Prasetiya Mulya kali maksudnya? Ada di websitenya, bro. Cek ke mereka aja siapa tau ada updatean terbaru.
      Salam,
      Giri

  23. bags mas webnya ,semoga mas giri sehat selalu supaya terus bisa bebagi inspirasi lewat web ini 😀 ,,saya mahsiswa s1 fkip bhs inggris yg insya alloh akan di wisuda di thun ini mas..saya berencana ingin mengambil s2 mba…tp saya masih bingung mas,,saya mau ngambil apa nantinya ,,apa keuanagn ato pemasaran.. menurt mas sendiri kalo ngambil keungan prosfeknya ntar gmn mas ? thanks

    1. Terima kasih atas apresiasnya, Mas Hendri.
      Semoga sukses mengambil MBA.
      Mengambil keuangan atau marketing? Prospek dan karir ke depannya utk kedua spesialisasi tersebut sama baiknya. Tinggal saya kembalikan ke Mas Hendri minatnya dimana. Jika suka dengan hitung-hitungan, efisiensi, forecasting, analisis keuangan korporasi; silakan mengambil spesialisasi keuangan. Jika suka hal-hal berbau promotion, pricing, product development; bisa mengambil marketing. Semoga membantu
      Giri

  24. Dear Mas Giri,
    Mau nanya…saya intan…sedang cari2 MBA di luar negeri…cuma saya bingung…beberapa universitas dengan MBA yang saya tuju memiliki requirement lebih dari 2 thn kerja (> 3 thn pengalaman kerja)…sementara saya sendiri baru 2 thn kerja, menurut mas giri..apakah saya lebih baik menunda aplikasi sekolah saya atau saya ambil MSc in marketing saja ya mas?
    saya tertarik MBA karena prospek ke depannya lebih baik..dan nanti saya akan ambil marketing sebagai spesialisasinya..
    namun, melihat bahwa pengalaman pekerjaan saya kurang, serta saya kurang berprestasi2 amat di pekerjaan, jadi agak minder buat apply MBA ..
    kalau untuk kasus saya ini menurut mas gimana ya??apakah pending aplikasi MBA nya atau ambil MSc in marketing saja?
    terima kasih mas giri
    btw..mas giri ambil MBA di mana ya?

    1. Halo Intan,
      Ya beberapa MBA di luar negeri memang mensyaratkan pengalaman kerja > 3 tahun. Bbrp disebabkan karena kebutuhan akreditasi.
      Saran saya, sebaiknya Intan menunda hingga 3 tahun atau bahkan 5 tahun agar lebih mantab ketika mengambil MBA. Menurut saya, MBA lebih kaya dan lebih memperluas perspektif dibandingkan mengambil MSc pada satu displin ilmu tertentu. Percayalah, pengalaman kerja akan memberikan benefit yang sangat besar bagi Intan ketika menyelesaikan MBA. Dengan punya pengalaman kerja yang banyak, Intan akan lebih mudah berkomunikasi dan berdiskusi dengan kolega-kolega mengenai korelasi antara teori dan pengalaman yang pernah Intan alami. Ya, biasanya MBA itu setiap hari kerjanya diskusi.
      Semoga membantu. Sy mengambil MBA di UK.
      Salam,
      Giri

      1. Dear Mas Giri,
        terima kasih insight nya…
        Hmmm..sepertinya harus pending mengambil MBA..
        Mas Giri, kalau untuk di Jepang sendiri MBA nya gimana ya? Apakah sebagus di US dan UK?
        BTW, MBA di universitas mananya mas? barangkali saya mau menyusul..hehe…

  25. Trims Mas Giri atas follow-up-nya…
    Semoga dilihat oleh Mas Yudhi,
    Atau mas Giri dan rekan2 lain-nya ada info terkait gelar ganda UI MM-MBA? Apakag benar2 MBA?
    Karena di website UI disebut gelar yg diberikan selain MM adalah gelar setara setara MBA yang diakui di uni Eropa.
    Terima kasih,
    Salam

    1. Halo Chri,
      Saya tidak tahu perihal double-degree MM-MBA di UI.
      Sebaiknya Mas Chri langsung menghubungi pihak UI untuk mengetahui lebih detail.
      Semoga sukses

  26. Hi Gir,
    Awal tahun 2013 – 2014 ini, Binus Group diakui sebagai Universitas terbaik oleh negara (Kopertis – Dikti) khususnya diseluruh Univ swasta tapi tidak dipublikasikan vulgar. Sejak tahun 2003 Binus sudah diakui di Internasional dan banyak membantu proyek negara khususnya di bidang IT tapi tentunya kita disuruh low profile karena kalah tua dengan univ milik negara dan univ swasta yang sudah makan asam-garam. Tetapi sekarang sudah berubah semuanya lebih open, sebaiknya berkunjung saja ke Univ nya tanya di tempat itu lebih baik.
    O,,ya Gir Referensi kamu sudah saya isi yah untuk di London. Mantan Papa mu (ketemu gede) minta saya isikan, semoga sukses dan berhasil.
    Saya minta semuanya jangan berpedoman pada Univ 100% karena ujung2 nya ya orang nya, tapi ya kalau bisa ambilah ambilah Univ yang sudah punya nama, kalau jauh2 keluar negeri juga percuma kalau univ nya kurang “pas”. Univ hanya kunci masuk ke perusahaan, sisanya kinerja dan attitude.
    Salam,
    Krisna

    1. Hi Kris,
      Apa kabar? Btw referensi london yang mana nih?
      Terima kasih atas informasi dan masukannya, Kris.
      Kapan nih kita bisa ketemuan?
      Sukses selalu!
      Giri

        1. Halo Kris,
          Ok. Terima kasih atas informasinya. Ya, siapa tau ada perusahaan lain lagi. Hehehe.. Sampaikan terima kasih juga ya untuk pak Jozef.
          Ya, nanti kita atur waktulah supaya bisa ketemu. Btw masih di lt.14 kris? Siapa tau sy tiba-tiba muncul di lt.14. Hehehe…

  27. terima kasih mas giri atas jawabannya ,,akan saya coba pertimbangkan :D.. btw mas giri ngambil spesialilasi apa di uk? marketing apa keuangan mas ?

  28. Hi Gir,
    Sudah lupa kita tidak pernah di 14 :).
    Kita di 17. Terimakasih nya untuk Pak Jozef saja yah?, untuk saya terimakasih info nya saja.
    Ha ha ha. Iya siapa tau bisa langsung jadi Div Head ya Gir muncul di sini, kan sekarang sudah mantap. Ha ha ha.
    Selamat jadi orang yang “sungguh – sungguh berkualitas” dan jujur dengan diri sendiri.
    Salam

    1. Haha… Kita ga pernah di 14 ya? Maap maap…
      Ya, terima kasih untuk Pak Jozef dan Krisna atuh lah. Terima kasih untuk semuanya 🙂
      Sekarang udah mantap? Apanya yg mantap? Masih dalam proses belajar. Ya, masih harus banyak belajar dari Om Kris biar menjadi orang yang sungguh-sungguh berkualitas 🙂
      Salam

  29. kk aku lagi browsing tentang s2
    lalu yang muncul blog mu dan aku abis baca tentang s2 ini
    semoga pilihan aku tepatnya dan lulus tes. amiin
    doakan aku

  30. Dear Mas giri,
    Need your advice, Rencananya saya ingin melanjutkan program pasca sarja di MMUI dengan specialisasi Actuary. Bagaimana prospect jurusan ini di kemudian hari?? thanks pak

    1. Halo Mas Joko,
      Menurut saya, profesi aktuaris sangat menjanjikan di masa depan. Semakin kompleks dunia bisnis dan mungkin tingginya kebutuhan akan asuransi dan produk-produk keuangan, ya saya pikir potensi untuk berkembang sangat besar. Bahkan, jika Mas Joko buka website akutaris.org, terlihat bahwa di Indonesia, akan dibutuhkan banyak aktuaris di masa depan. Semoga membantu.
      Salam,
      Giri

  31. Apakah anda tidak pernah mendengar tentang PPM Manajemen? S2 PPM Manajemen? Need your advice and knowledge about that school.. Sekolah tinggi PPM manajemen, untuk MM eksekutif, eksekutif muda dan WIjawiyata manajemen, apalah tidak bagus? Tidak populer atau tidak pernah di dengar sama sekali oleh mas giri? Kalo ga salah biaya MM nya juga aduhai, bisa 100 juta. Mohon segera di komentari pertanyaan saya mas, matur nuhun.

    1. Halo Mas David.
      Ya, saya pernah mendengar PPM. Bagus atau tidaknya, silakan Mas David search di Google (ya pengalaman lulusan MM PPM, pndpt org lain mengenai PPM), baca dari website, atau bertanya ke teman-teman Mas David. Di artikel ini, saya hanya merangkum percakapan2 dari website lain dan WoM. Perihal Mas David mau ambil MM dimana, tidak harus meyakini artikel saya. Ini pendapat pribadi. Kl Mas David pny pandangan sndr mengenai bagusnya PPM, silakan disampaikan disini. Bbrp tmn dr MBA UI dan UGM sdh ikut berpartisipasi. Jadi, teman-teman lain yg membaca artikel dan kolom comment bisa tau informasi mengenai PPM.
      Salam.

  32. dan saya sedang bingung diantara 2 pilihan ini? ketika mencari tau mana yang lebih bagus , di blog ini kembali dihadapakan pada dua pilihan tersebut 🙂

    1. Halo Mbak Windy,
      Mohon maaf blog saya tetap membuat bingung dan tidak memberikan jawaban.
      Rasanya ada tips yang saya berikan di bagian-bagian terakhir. Silakan diikuti.
      Semoga sukses mengambil S2.
      Salam,
      Giri

  33. Salam kenal sebelumnya mas, saya mahasiswa yg baru lulus maret tahun ini dan sempat bimbang antara kerja dulu atau langsung menyambung ke S2 dan mengambil sekolah bisnis.
    Setelah membaca blog ini dan comment2 dr teman2 yg lain, hal ini sangat membantu untuk mendapatkan perspektif lain yg selama ini saya tidak dapat dr lingkungan sekitar sehingga saya menjadi lebih semangat dan mantap untuk mengambil S2 bisnis.
    Terima kasih dan sukses selalu!
    Salam.

    1. Halo Adit,
      Selamat telah lulus Maret kemarin.
      Senang artikel dan komentar dari teman-teman bisa memberikan perspektif yang lebih luas untuk Adit.
      Semoga sukses mengambil S2 bisnis.
      Salam

  34. Hi Giri….
    Apa kabar? Ini Giri Lulusan MDP OCBC NISP juga bukan ya?
    Kalo bener berarti 1 almamater 🙂
    Apa jangan-jangan salah orang. hahahahaha.
    Oia, saya juga lagi mau enroll ke S2 BINUS MM Executive.
    Jurusannya ke MM Strategic. How do you think?
    Regards,
    Heidy

    1. Halo Heidy,
      Ya, diriku lulusan MDP ON yang ternama itu 🙂
      Wah, jangan tanya diriku mengenai S2 Binus. Diriku bukan pakar dunia MM. Hehehe…
      Jika kita enroll ke bbrp kampus tertentu, mgkn akan ada perbedaan karakteristik peserta.
      Coba tanya saja ke universitas2 yg jd target Heidy dan minta profile student MM Strategic masing2. Biar keliatan siapa aja pesertanya. Tingkat pendidikan gmn, dari lulusan mana aja, sdg menjabat posisi apa aja, dsb. Ya, sangat penting untuk networking kelak.
      Salam,
      Giri

  35. Siang mas GIRI, mau tanya nih, kalau dari lulusan S.Pd Teknologi Pendidikan trus ambil S2 MM bisa ya mas? kalau bisa bantu rekomen Universitasnya yang didaerah Surabaya/Malang, thank’s

    1. Halo Mas Jhons,
      Dari S1 manapun bisa kok ambil S2. Yang pasti, harus lulusan S1.
      Wah, saya kurang tau uni yang ok utk MM program di daerah Surabaya/Malang. Mohon maaf.

  36. Dear Mas Giri, sekedar informasi
    FEB UGM telah berhasil mendapatkan akreditasi AACSB, untuk seluruh program studi S1, S2 dan S3.
    Berikut kutipannya,
    “Officially AACSB Accredited, Congratulations to Faculty of Economics and Business Universitas Gadjah Mada http://www.feb.ugm.ac.id http://www.ugm.ac.id
    On behalf of Robert S. Sullivan, Chair, AACSB International Board of Directors, it is our pleasure to inform you that the Peer Review Team’s recommendation for accreditation of the business degree programs offered by your school has been concurred with by the Initial Accreditation Committee and ratified by the Board of Directors. Congratulations to you, the faculty, students, staff, and all supporters of the school!
    AACSB will soon distribute a general news release announcing the names of the schools that have recently earned their accreditation in business. We are confident that you are eager to share this important news, and you are welcome to make your announcement immediately. For your announcement, you can find sample press releases and other valuable resources in the Promoting Your Accreditation section on the AACSB website.
    Official correspondence confirming your accreditation achievement will arrive within the next few weeks.
    Again, congratulations from the entire accreditation staff at AACSB.
    Warm regards,
    Suzanne Mintz
    Senior Manager, Accreditation Services
    AACSB International -The Association to Advance Collegiate Schools of Business
    777 South Harbour Island Blvd – Suite 750
    Tampa, FL 33602 USA
    Main: 1-813-769-6500 |Direct: 1-813-769-6514 | Fax: 1-813-769-6559
    E-mail: suzanne@aacsb.edu

  37. kalau dari s.pd ngambil administrasi pendidikan, maka apakah gelarnya jadi s.pd m.a.pd atau m.a.pd doang.. mohon jawabannya..
    terimakasih.

  38. Halo Mas Giri…Apakabar?semoga sehat dan sukses selalu ya
    senang sekali akhirnya bisa menemukan blog yang concern dengan dunia pendidikan dan dikelola oleh orang hebat seperti Mas Giri ini…kebetulan lagi “window shopping” buat lanjut S2 nih mas…
    saya tertarik untuk membahas masalah alumni S2 sekolah2 management atau business school…pernah gak mas giri memetakan atau riset kecil2an…institusi mana sih yg punya kualitas alumni paling berkembang dari segi karier, kompetensi pribadi, dan jejaringnya? dan ketika kita mengambil sekolah bisnis…lebih baik mana ya mas memposisikan diri kita di jalur intrapreneur atau entrepreneur?
    looking forward for your sharing…

    1. Halah… Lebay nih Mas Christian.
      Ini ceritanya nanya beneran ato berpura-pura jd tamu? Hehe…
      Mau ngambil S2, Chris? Ah, sbg orang yang pernah berkecimpung di dunia pendidikan, sudah pasti taulah mengenai S2 business school. Saya sih ga pernah melakukan riset mengenai alumni yang paling cemerlang. Ya, mgkn alumni kampus S1 yg paling sering terdengar ya UI, ITB, dan UGM. Yang paling sering ya. Kl S2 saya tidak begitu tau. Perihal posisi diri, sebaiknya kita mengambil S2 setelah kita tahu cita-cita atau tujuan kita. Ketika memang pgn jadi entrepreneur sukses kelak, carilah MM/MBA yang memang memberikan perhatian lebih kepada pengembangan entrepreneurship, baik dari sisi kuliah, inkubator, experience, dan lain sebagainya.
      Smoga membantu,
      Giri

  39. Serius nih tanya-tanyanya…sebagai calon mahasiswa yg mau “ditraktir” sm kantor, hehheheh
    jadi kan saya harus memberikan justifikasi yang tepat terhadap kampus S2 pilihan nantinya…lagi-lagi harus membandingkan 3 option kampus…perihal alumni, ya diharapkan kampus S2 memiliki ikatan alumni yang kuat networking antar alumni, dengan kata lain punya “wadah nimbrung” utk urusan karier, business, dll.
    Nah yang menariknya perihal posisi diri, ada sempat rekan saya memberikan sharingnya tentang memilih kampus entrepreneur…rekan saya ini memilih kampus yg menurut campaign adalah sekolah para calon entrepreneur….namun ketika rekan saya ini bergabung disana, dia merasa kecewa karena ternyata “isi” dari kurikulumnya (sisi kuliah, inkubator, experience) tidak lebih dari kurikulum sekolah management.
    nah menurut Mas Giri, ada gak sih Mas…sekolah pascasarjana yg murni entrepreneur di negara kita ini? atau kita harus menimba Ilmu ke negeri Orang (seperti Mas Giri) untuk bisa mendapatkan ilmu entrepreneur ini?
    Mohon pencerahannya ya Mas…
    may the force be with you..YNWA

    1. Aiih… sedapnya mau ‘ditraktir’ ama perusahaan. Aset berharga nih buat pertamina. Hehehe…
      Setelah bbrp kali mengunjungi kampus-kampus S2 di Jakarta, yang terlihat sangat memberikan aroma entrepeneurship baik dari sisi kurikulum, pedagogi, dan fasilitas pendukung lainnya, sepertinya MBA ITB. MBA in entrepreneurship ITB sepertinya bisa memenuhi kebutuhan Mas Wahyu Skywalker. Maksudnya terlihat meyakinkan di atas kertas (brosur, website, dll). Saya sendiri ga tau bagaimana realisasinya. Apakah benar2 alumninya menjadi entrepreneur, saya juga tidak tahu. Apakah benar ada inkubator, saya jg ga tau. Mgkn bisa ditanyakan langsung ke sekolahnya. Tp MBA in entrepeneurship sepertinya utk yg full-time. Untuk yang part-time, rasanya semua MM mengarah ke general, yang sebenarnya bisa dipakai juga baik untuk menjadi profesional atau entrepeneur. Ya yang perlu diperhatikan adalah fasilitas pendukungnya: apakah mereka memfasilitasi seseorang utk bnr2 menjadi entrepreneur.
      Ya, banyak sekali sekolah di luar yang menawarkan MBA entrepreneurship. Cuma saya memang ga tau sedetail apa. Bagaimana mereka bisa melabeli ke-entrepreneur-an itu. Karena sy sendiri ga ngambil yg entrepreneurship.
      Semoga membantu, Mas Chris.
      #YNWA

  40. Halo mas giri, wah mantap bgt nih artikelnya. Kalau s2 mm yg di bawah budget itu sih ada, trisakti dan mercubuana.. Sekitar 30 jutaan.. Akreditasinya sih sama2 A (saya kurang paham bdn pemeringkatan akreditasi). Menurut mas giri mn yg lebih baik dr kedua univ tsb, mohon bantuannya ya mas…
    Terimakasihh..

    1. Halo Tina,
      Wah, saya ga berani menjawab pertanyaan, bagusan mana Trisakti dan Mercubuana. Coba saja Tina masuk ke website keduanya, liat kurikulumnya, fasilitas, dan para alumninya. Nah, yang mana yang paling sesuai dgn passion Tina, itu yang diambil.
      Semoga membantu
      Giri

  41. Om Giri..
    mohon pencerahan..
    saya berawal dr IT bina nusantara, karena satu dan lain hal yg tidak perlu saya jelaskan disini, saya pindah ke kampus kecil untuk menyelesaikan s1 saya, dan skrg saya mau melanjutkan s2. Apakah syarat s2 seperti di prasmul hanya untuk univ terakreditasi “A” atau top university? kalau untuk yg berasal dr universitas kecil tidak bisa?
    1lg, disana tertera hrs ada pengalaman kerja, itu pengalaman kerja yg bersangkutan dgn study yg akan diambil? sekarang saya berkerja di perusahaan keluarga, dan tidak ada hubungannya dgn study yg akan saya ambil..
    mohon pencerahannya.
    trims..

    1. Halo Philippe,
      Setahu saya, syarat untuk ambil S2 (MM/MBA) di Indonesia itu harus lulus S1. Tidak peduli S1-nya darimana. Yang pasti, nanti akan ada tes yang menentukan seseorang berhasil diterima sebagai mahasiswa S2 (MM/MBA) atau tidak. Jadi, lulusan S1 darimana tidak penting. Yang penting, lulus S1 dan nanti lulus tes masuknya.
      Utk pengalaman kerja, biasanya itu diharuskan untuk yang kelas part-time. Kl kelas full-time, biasanya tidak diharuskan pengalaman kerja. Perihal pengalaman kerjanya hrs spt apa, bisa Philippe tanyakan langsung ke kampusnya karena mgkn setiap kampus punya objektif yang berbeda.
      Semoga membantu,
      Giri

  42. Sebelumnya trimakasih mas sudah bersedia membls,
    Hampir sama sih mas, nah yg para alumninya sy kurang paham ya, krn kebetulan sy pendatang dr luar pulau jawa..

  43. menurut pandangan saya, sebenarnya mau kuliah dimanapun UI,ITB, UGM, ataupun Prasetya Mulia sama saja bahkan di luar negeri sekalipun. Kampus hanya berpengaruh pada saat pertama kali kita meniti karir selanjutnya performance individulah yang berbicara. Kegigihan/kerja keras, tanggung jawab, semangat dan attitude masing-masing individulah yang menjadikan dia sebagai individu yang sukses dan tentunya berguna bagi masyarakat (setidaknya tidak menjadi masalah baru bagi orang lain)
    saya beberapakali bekerja satu team dengan lulusan luar negeri, beberapa dari mereka sangat pintar, sebagian biasa saja dan ada juga diantara mereka yang menurut saya tidak layak menyandang gelar lulusan luar negeri dan dari universitas terbaik di jagat raya ini. demikian halnya dengan lulusan dalam negeri, banyak lulusan top university negri ini yang tidak layak memiliki gelar putra-putri terbaik bangsa, bukan tidak layak dari segi kecerdasan tp kebanyak dari mereka tidak memiliki rasa tanggung jawab, lebih individualis dan yang lebih parah mereka tidak memiliki attitude yang baik.
    Lihat saja para pejabat negeri ini, mereka adalah putra-putri terbaik bangsa, lulus dari universitas terbaik negeri ini, dan banyak diantara mereka lulusan terbaik dari universitas terbaik dunia, namun banyak diantara mereka yang tidak bertanggung jawab, mementingkan diri sendiri, hasilnya KKN di mana-mana. dan yang paling menyedihkan bagi saya seorang profesor dan guru besar pun terlibat dalam lingkaran korupsi uang negara.
    *sorry kalau diluar topik, tp ini hanya sekedar ungkapan kekesalan hati setelah bekerja bersama lulusan terbaik luar negeri dari universitas terbaik dunia dan lulusan terbaik dari universitas terbaik di negeri ini. kecerdasan penting tp attitude lebih penting

  44. Mas Giri, saya mau tanya, saya baru aja lulus S1 ekonomi dan sudah keterima S2 bisnis di luar negeri, tapi ada keraguan dari beberapa orang yang bilang bahwa akan sulit menempuh pendidikan S2 tanpa memiliki pengalaman kerja terlebih dahulu karena akan kalah bersaing. Apakah benar mas? Mohon pencerahannya.

    1. Halo Adhit,
      Boleh tau ambil S2 nya dimana dan major apa?
      Kl MBA, ya tanpa pengalaman kerja, ya pasti akan sulit.
      Semoga membantu.
      Salam,
      Giri

  45. Halo Mas Giri, terima kasih atas pencerahannya di blog ini.
    Saya berasal dari fakultas seni dan kurang paham tentang bisnis (karena itu juga saya merasa perlu mencari ilmu tambahan di bidang tersebut)
    Apakah Mas Giri familiar dengan jurusan Creative Marketing? saya sedang bingung untuk memilih antara manajemen bisnis dan creative marketing. Kalau dilihat dari penjelasannya untuk jurusan seni lebih cocok masuk ke creative marketing, tetapi setelah membaca beberapa blog, kurikulum, dan review lainnya jurusan manajemen bisnis terlihat lebih menjanjikan, tapi saya tidak percaya diri dapat mengikuti matrikulasi untuk jurusan tersebut.
    Mohon pencerahannya.

    1. Halo Dhani,
      Di jurusan creative marketing biasanya penekanannya pada displin marketing yang kreatif seperti bentuk promosi yang unik, campaign yang menarik, produk yang inovatif, branding, dll. Pada manajemen bisnis, mungkin ilmu marketing kreatif ada tetapi tidak terlalu dalam. Sehingga manajemen bisnis mungkin membahas lebih banyak displin namun tidak terlalu spesifik seperti creative marketing yang membahas sisi kreatif dari marketing secara mendalam. Jadi ya saya kembalikan ke Dhani, apakah memang ingin generalist atau fokus ke marketing kreatif.
      Percayalah! Kalau Dhani bisa melewati tes masuk MM/MBA, itu artinya Dhani sudah dapat mengikuti martikulasi bahkan menyelesaikan MM-nya. Yang diperlukan hanyalah keyakinan dan kerja keras. That’s all. Harus percaya diri. Kamu bisa!
      Giri

  46. Salam Mas Giri.
    Saya bingung antara MM UI dan UGM. Keduanya memiliki keunggulan tersendiri. Ingin meminta saran dari Mas Giri dan teman2 yg telah bergabung.
    UI seperti sentral pendidikan di Indonesia dan jika ada event2 nasional maupun internasional sepertinya lebih sering bekerja sama dengan UI.(pandangan saya sj)
    UGM kini memiliki Akreditasi Internasional (AACSB) yang pasti tidak asal2an juga.
    Kira2 yang mana yang lebih unggul dan bermanfaat ke depan?
    Terlepas dari biaya, kesibukan dosen (lebih ke proses saat kuliah dan manfaat dalam pengembangan diri)
    (sehingga tidak menyesal menentukan pilihan dengan biaya yg tidak sedikit) hahaha…
    Mohon bantuannya teman2.

    1. Hi Tampu,
      Terima kasih telah mampir membaca.
      Boleh tau alasan kamu ingin mengambil MM? Coba liat MM mana yang paling bisa memenuhi alasanmu mengambil MM dan juga passion mu. Liat kurikulum dan juga pedagogi antara UI dan UGM. Saya rasa MM UI dan UGM berada pada level yang sama baiknya. Jadi, tinggal memilih yang sesuai cita-cita Tampu.
      Mudah-mudahan ada teman lain yang ikut memberikan rekomendasi.
      Salam,
      Giri

  47. Terimakasih Mas,
    Tujuan utama saya belajar bisnis dan bisa menjadi pelaku bisnis. Keduanya memiliki apa yg menjadi tujuan saya Mas.
    Saya ujian di keduanya berharap salah satu bisa lulus, dan lulus keduanya Mas.
    Jadi sangat bingung sementara dl registrasinya dalam waktu dekat.
    Mohon Bantuannya.

    1. Halo Mas Tampu,
      Seperti di artikel saya, Kalau dua-duanya lolos coba cari tahu education background S2 atasan-atasan Mas Tampu. Apakah kebanyakan dari UGM atau UI. Kalau masih sama juga, baca dengan super teliti website MM UI, dan UGM, cari tahu kampus mana yang sejalan dengan passion kamu. Karena saya yakin pasti akan ada perbedaan sedikit pada silabus / kurikulum. Siapa tau perbedaan itu bisa memberikan arti yang besar untuk Mas Tampu dimana perbedaan kecil tadi itu bisa saja menjadi passion Mas Tampu. Saya sudah bandingkan kurikulumnya. Terlihat cukup jelas ada perbedaan mata kuliah. Mgkn itu bisa Mas Tampu pertimbangkan.
      Kalaupun Mas Tampu melihat tidak ada perbedaan, mungkin bisa mempertimbangkan faktor lain, seperti lokasi kuliah (mengingat tugas kuliah yang nanti akan sangat banyak), akses ke kampus (stres macet bisa mengurangi kinerja otak), networking opportunity, dan biaya (jika ini menjadi concern).
      Semoga membantu
      Giri

  48. Hi mas Giri,
    Salam kenal saya Dika dan saya baru diterima di Singapore Management University, Master of Science in Management programme, untuk AY 2015. Saya lulus S1 Februari 2014 lalu (Ilmu Komunikasi UI) dan setelah itu bekerja di salah satu subsidiary dua BUMN di bidang oil & gas di Jakarta.
    Pertama-tama aku mau counter pandangan mas Giri yang berpendapat program MSM bersifat research-based sehingga memiliki tendensi untuk mendidik lulusannya menjadi researcher. Saya pernah menanyakan hal ini kepada Admission Manager di SMU.
    Walaupun memang ada satu core module riset pada kurikulumnya, tidak berarti program MSM memiliki tujuan untuk mencetak researcher. Bahkan program MSM di SMU bertujuan untuk mengubah lulusan undergraduate (S1) yang pengetahuan seputar bisnis dan ekonominya terbatas menjadi tenaga kerja siap pakai di kedua sektor tersebut.
    Dalam kurikulum MSM di SMU, case studies, class presentations, field investigations, dan group projects, mengambil porsi jauh lebih besar daripada research assignments (approx. 75-25) sehingga diharapkan apa yang telah diajarkan lebih bersifat praktikal di dunia kerja kelak.
    Selain dari hal di atas, saya setuju dengan mas Giri. Program MBA pada umumnya mensyaratkan pengalaman kerja (min. 2-3 tahun on average), namun MM/MSM tidak. Dengan kata lain, program MBA bisa dibilang menargetkan para profesional yang ingin membawa kariernya selangkah lebih maju, sedangkan program MM/MSM membidik fresh graduates yang masih merasa ilmu yang diperoleh melalui saat S1 belum cukup membekali mereka untuk terjun langsung ke dunia kerja, terutama yang minatnya di bisnis ekonomi.
    Sekadar info alasan saya memilih SMU adalah sudah mendapat akreditasi dari AACSB dan EQUIS, padahal baru berdiri 14 tahun yang lalu. Faculty-nya pun banyak alumni dari sekolah bisnis terkemuka di dunia, termasuk Wharton, Sloan, Stern, Marshall, Columbia, Anderson, Yale SOM, Stanford GSB, Johnson, Krannert, Kellogg, Judge, LSE, LBS, dan INSEAD. Rate job placement mencapai >90% within 6 months after graduation dengan Top 5 Employer Google, Barclays, 3M, Bain & Company, dan Singapore Airlines.
    Tapi at the end of the day saya kan baru diterima, jadi saya belum merasakan secara real pengalaman belajar di sananya. Mungkin nanti saya bisa share lagi once tahun ajaran sudah dimulai 🙂

    1. Hi Dika,
      Terima kasih sudah mampir dan memberikan komentar yang inspiratif. Saya sangat menyukainya. Saya juga ucapkan selamat berkuliah di SMU. Semoga sukses kuliahnya.
      Saya coba respon dari cara pandang saya ya. Saya tidak tahu di Singapore, tapi yang pasti sistem pendidikan di Indonesia itu berbeda dengan di luar negeri. MM di Indonesia tidak sama dengan MM di UK, misalnya. Meskipun sama-sama menggunakan gelar MM, tapi kurikulum dan silabusnya berbeda. Jadi menurut saya, memang agak rancu jika kita membandingkan MM di Indonesia dan di luar negeri, Singapore mungkin contohnya. Saya ga tau seperti apa MM di Singapore, mengingat top business di Singapore rata2 punya MBA.
      MM di Indonesia untuk fresh graduate? Tidak juga. MM kelas part time di UI atau Prasetiya Mulya dirancang untuk yang berpengalaman kerja > 3-5 tahun. Padahal mereka bergelar MM. Ya, sebenarnya MM di Indonesia itu berada di persimpangan akibat peraturan legal dari dikti (tidak boleh menggunakan gelar MBA dgn bbrp pengecualian). MM di Indonesia itu bisa setara dengan MM di luar negeri dan MBA di luar negeri (meskipun di luar negeri MM dan MBA itu berbeda). Jadi, tidak bisa dibilang MM untuk fresh graduate dan MBA untuk yg berpengalaman. Ini semua disebabkan karena sistem pendidikan di Indonesia berbeda dengan di UK (yang saya tahu) dan mgkn dengan Singapore. Jadi, seperti yang saya bilang, agak distorsi jika kita bandingkan sistem pendidikan di Indonesia dan di luar.
      Saya setuju dengan pendapat Dika. Bahwa memang sebenarnya mungkin tidak ada jurusan yang 100% didesain untuk melahirkan researcher. Begitu pula dengan MSM. MSM didesain untuk melahirkan profesional2 yang tangguh. Hal yang sama berlaku untuk MBA. Mereka dibentuk sesuai dengan kebutuhan industri saat ini. Jadi, ya sebenarnya MSM atau MBA tidak diarahkan untuk menciptakan researcher. Hanya saja, menurut pandangan saya, mgkn silabus dari MSM lebih pas jika seseorang, setelah selesai kuliah, ternyata mo menjadi researcher instead of professional. IMHO. Ketika saya mengambil MBA, meski diajarkan ttg research, lebih banyak ujiannya berupa case study dan essay dibandingkan research. Jadi kalau saya menjadi researcher, saya akan mengalami keterbatasan di research methodology karena minimnya aktivitas research. Mungkin, MSM lebih banyak aktivitas researchnya dibandingkan MBA. mungkin ya.
      Ya, menurut saya, sekolah-sekolah bisnis di Singapore termasuk yang terbaik di Asia Tenggara, bahkan di dunia. Termasuk SMU salah satunya. Bisa masuk sekolah top seperti di atas artinya memang menuntut kemampuan yang dahsyat juga dari (calon) mahasiswanya. Ya, saya doakan Mas Dika sukses di SMU dan bisa segera berbagi pengalaman dengan kita.
      Sekali lagi, terima kasih atas diskusinya. Sukses!
      Giri

  49. mas giri, kalo ane dari lulus ampe sekarang gak pernah kerja (pegawai) bisa daftar mba di uk gak ya? ane lulus april 2012, rencana mau daftar buat 2015
    ane sehari hari bisnis, bikin PT yang khusus dongkrak produk kampung ane di sumbar.
    salam mas dari junior (material 2007)

    1. Hi Selvin,
      Memungkinkan kok. Setiap B-School pny kriteria sendiri2 apa saja yg hrs dipelajari/dialami oleh calon mahasiswa MBA selama dia bekerja baik, sbg intrapreneur atau entrepreneur (> 3 thn), sbagai bahan pertimbangan utk menerima calon mahasiswa tsb atau menolaknya. Katakan Selvin mnjd entrepreneur selama 3 tahun dan banyak belajar dari situ, itu bisa menjadi pertimbangan B-School utk menerima Selvin.
      Sukses untuk bisnisnya. Maju terus!
      Untuk Tuhan, Bangsa, & Almamater!
      Giri

  50. Sekedar share web pemeringkatan Eduniversal yg menurut saya menggunakan methodologi yg lumayan lah (http://www.eduniversal-ranking.com/methodology/).
    Kalau kita search by country, utk Indonesia beginilah urutannya:
    – kategori 3 Palmes (Excellent business school with reinforcing intl. influence) : MM-UI (158%), MM-ITB (82%), IPMI 51%)
    – Kategori 2 Palmes (Good business school with strong regional influence) : MM-UGM (84%)
    – kategori 1 Palmes (Business school with considerable local influence): MM-Unair (28%), MM- Prasmul (25%), MM-Undip (16%)

  51. Oh ya saya just FYI, saya lulusan MM-UI dual degree.. To my experience, materi dan dosen MMUI dan IAE Grenoble yg jd partner dual degree lumayan lah….masih gak terlalu ketinggalan dg Harvard, Oxford, LSE, INSEAD, ataupun HEC. Saya bs comment krn kebetulan pernah ikut executive management course dg instruktur dr business school tsb.

  52. Hi halo salam kenal mas Giri dan rekan-rekan lain di sini, sekedar share pengalaman, ketika pertama kali memilih untuk melanjutkan mengambil S2 MM/MBA saya juga sempat membuat research kecil-kecilan yang mengerucut menjadi beberapa nama: ITB, UI, UGM, Prasetya Mulya, IPMI.
    Dari segi biaya IPMI terlalu mahal jadi saya coret dari daftar saya, Prasetya Mulya lebih ke arah entrepeneurship sehingga juga saya coret karena tidak sesuai dengan kebutuhan saya yg memang tujuannya adalah untuk belajar Finance 🙂
    Dari 3 yg tersisa, ITB, UI dan UGM; ITB dan UI yg ada di pikiran saya, ITB karena saya alumni dari sana sehingga memiliki kedekatan / rasa familiar (walau sebenarnya tidak ada hubungannya karena saya akan mengambil program di Jakarta dan bukan Bandung) dan UI karena selama ini -dari yg saya dengar- UI terkenal sebagai universitas terbaik untuk bidang ekonomi. UGM yang paling tidak saya lihat karena dari informasi yg saya dengar saya tidak melihat keunggulan fakultas ekonomi UGM. Namun yg menarik dari hasil research kecil-kecilan saya, ternyata UGM saat itu (2013) adalah kandidat dari universitas yg akan memperoleh akreditasi dari AACSB. Dimana tidak mudah untuk mendapatkan akreditasi dari lembaga presitigus tsb. Dan dari usahanya yg bertahun-tahun, UGM terlihat sangat serius berbenah dalam mengejar akreditasi AACSB. Akhirnya saya putuskan untuk memilih MM UGM, dengan pertimbangan jika berhasil mendapatkan akreditasi dari AACSB maka MM UGM akan menjadi salah satu dari sekolah bisnis terbaik dunia (Tidak sampai 5% sekolah bisnis yg berhasil mendapatkan akreditasi dari AACSB). Dan ternyata pada tahun 2014 ini UGM berhasil mendapatkan akreditasi dari AACSB tsb dan menjadi yg pertama di Indonesia.
    Saya baca di atas ternyata IPB juga dalam proses akreditasi dari AACSB ya? Bahkan dalam researh kecil-kecilan saya, IPB tidak “terlihat”, ternyata IPB luar biasa sekali jika memang sedang mengarah ke sana. Semoga IPB juga berhasil memperoleh akreditasi AACSB sehingga universitas kita tidak kalah dengan universitas LN dan dapat bersaing di dunia international 🙂

  53. Hi Mas Arifin, boleh tanya : Untuk MMUI sendiri denger2 kuliah nya hari kerja yaa maksudnya tidak ada kelas untuk hari jumat sabtu, mungkin bisa di beri pencerahan sehubungan saya berminat daftar di MMUI.
    Thanks mas

  54. Hai Giri, saya mau nanya yah. kalau misalkan saya tertarik untuk melanjutkan S2 di bidang bisnis, dengan keinginan yang saya tuju yaitu lebih banyak implementasi pada dunia kerja, sehingga bisa membuat karir saya meningkat lebih disarankan ke MBA yah?
    tapi kalau saya lihat MBA, tidak semua univ bisa memberikan gelar MBA, apakah MM dengan konsep pelajarannya bisa digunakan di dunia kerja pada umumnya?
    Kemudia juga saya ingin ketika kuliah saya lebih fokus untuk menjalin relasi dengan para executive2 lainnya sehingga saya banyak networking, apakah itu hanya ada pada univ2 yg terakrditasi tinggi spt UI,UGM,ITB,IPB? bagaimana dengan univ2 swasta lainnya seperti Binus, UPH, Untar, Trisakti, Atma Jaya, dll? apakah kita tetap bs membangun relasi dan networking yang kuat di tempat tsb?
    Karena jujur, kalau untuk UI,ITB di jkt saya terkendala dengan waktu dan jarak. Bisa dipastikan saya akan telat masuk kelas terus. bagaimana menurut pandangan anda?
    Terima kasih

    1. Hi Steven,
      Kalau Steven mau, silakan membaca komentar-komentar pada post ini. Cukup banyak membahas mengenai MM dan MBA di Indonesia. Sistem pendidikan Indonesia berbeda dengan di luar negeri. Jadi MM yg ada di Indonesia tidak sama dgn MM di UK, misalnya. MM di Indonesia kebanyakan memiliki kurikulum yg sama dgn MBA di Indonesia.
      Setiap kampus menawarkan networking dengan para C-level baik kampus negeri maupun swasta. Coba saja Steven cari di kampus2 tersebut, para executive spt apa yg sering diundang di Kampus tersebut. Misalnya UI sering mengundang executive di BUMN dan lalu Steven ingin kerja di BUMN, ya kenapa tidak mengambil S2 di UI. Ya, carilah kampus S2 yang sesuai dengan harapan Stevev.
      Semoga membantu.
      Giri

  55. Hi mas mas Semua ,Salam Kenal .Saya memiliki latar belakang pendidikan S1 bidang kesehatan/ alat alat kedokteran , dan saat ini saya banyak berkecimpung dibidang penjualan alat , manajemen pemasaran dan kerjasama dengan berbagai tim dokter maupun praktisi kesehatan lainnya . Minta saran kira kira di mana sekolah bisnis yang punya konsentrasi khusus dalam bidang health service / health management . Makasih

    1. Hi Bung Mame,
      Mohon maaf saya tidak tahu sekolah bisnis mana di Indonesia yang punya konsentrasi khusus di bidang health service. Beberapa kampus di luar negeri, ada yg memiliki MBA dgn konsentrasi di health management. Coba saja Bung Mame cari di Google.
      Salam,
      Giri

  56. SBM ITB,Satu satunya perguruan tinggi negeri yg mendapatkan Predikat A untuk Kategori Sekolah Bisnis & Management Internasional di Indonesia oleh Sucofindo thn 2014 ini.
    System Kuliah Berbeda dengan yg lain & sangat Padat.
    ITB hanya menerima siswa lewat Jalur SNMPTN & SBMPTN,untuk siswa IPA/IPS.
    Persaingannya sangat ketat.
    Semoga Berhasil

  57. Hi Mas, Thanks sebelumnya sudah add LinkedIn saya, Mohon review nya perihal MBA ITB Jakarta spesific di BLEMBA, saya tanyakan hal ini berhubung jadwal kuliah nya yang beda dengan kelas eksekutif kebanyakan (Jumat pagi jam 8 s.d jam 5 ).. Mungkin teman teman disini bisa bantu yang pernah / sedang kuliah di SBM ITB.
    thanks mas

    1. Hi Mas Hastono,
      Rasanya beberapa universitas di Surabaya sudah membuka program MM seperti Unair, Petra, Ubaya, dsb. Saya sendiri tidak mempunyai informasi yang cukup mengenai MM di Surabaya. Mungkin Mas Hastono bisa mulai dengan baca-baca di website masing-masing. Semoga membantu.

  58. Hi mas giri,
    Saya freshgraduate lulus tahun lalu dengan jurusan komunikasi saat ini saya sedang dalam persiapan untuk mengambil MSc di UK ada beberapa pilihan kampus yang menjadi pilihan saya karena beberapa pertimbangan yakni Sheffield hallam, conventry dan UCL, menurut mas giri dianatara ketiga kampus tersebut mana yg terbaik ?
    Terima kasih.152

    1. Hi Andi,
      Mohon maaf saya tidak tahu mana MSc yg terbaik di antara ketiga kampus. Coba Andi search saja di google ranking berdasarkan jurusan MSc yg Andi mau. Lalu jangan lupa berkunjung ke website 3 kampus tersebut. Kalau sempat, coba cari di Facebook atau SocMed lainnya, mahasiswa atau alumni dari 3 kampus tersebut dan ajaklah bicara. Mudah2an mereka bisa memberikan masukan. Semoga membantu.
      Salam.

  59. Mas giri, saya adalah mahasiswa s1 Hubungan internasional, jujur saja saya masih bingung untuk memilih saat penjurusan nanti, tapi saya sempat berfikir untuk mengambil bisnis internasional. Bagaimana tanggapan mas tentang ini, mohon masukannya, untuk saya bisa memikirkan s2 saya nantinya.trimakasih

    1. Hi Melvi,
      Menurut saya bisnis Internasional sangat menarik saat ini. Adanya MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) 2015 dan ke depannya semakin terbukanya akses perdagangan global membuat ilmu mengenai bisnis internasional sangatlah penting.
      Semoga bisa membantu.

  60. Mas Giri
    Saya baru saja lulus Tes S2 Trisakti, trisakti menjadi pilihan saya karena cuma di Trisakti yang menyediakan jam kuliah full di Hari Sabtu saja (Setahu saya), saya coba share di UI dan UGM, kedua PTN tersebut tidak tersedia kelas weekend, waktu kerja saya cukup padat (senin-Jumat), jadi tidak memungkinkan untuk kedua PTN, mohon pendapat Mas Giri mengeani S2 Trisakti karena dari comment di atas, belum ada yang membahas tentang MM Trisakti.
    Terima Kasih
    Akhsan

    1. Halo Akhsan,
      Saya tidak bisa memberi komentar mengenai S2 trisakti karena saya tidak paham secara mendetail. Saran saya, silakan membaca website mereka lebih dalam. Mudah2an jg ada teman yg dari Trisakti mau berbagi.

  61. http://m.republika.co.id/berita/pendidikan/berita-pendidikan/12/08/12/m8mp42-mbipb-sekolah-bisnis-terbaik-di-indonesiaREPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Program Pascasarjana Manajemen dan Bisnis Institut Pertanian Bogor (MB-IPB) berhasil meraih peringkat Sekolah Bisnis terbaik di Indonesia dan Sekolah Bisnis terbaik ketiga di Asia Tenggara menurut versi Webometrics 2012.
    Arief menambahkan, pencapaian peringkat bukanlah tujuan akhir, tetapi jauh lebih penting adalah bagaimana Sekolah Bisnis seperti MB-IPB dibandingkan dengan ‘the best practices’ dalam standar publikasi online Sekolah Bisnis tingkat dunia (world class business school).
    Di samping itu, Webometrics Sekolah Bisnis dapat digunakan sebagai sarana promosi keberadaan dan keterkenalan (keunggulan) Sekolah Bisnis di seluruh dunia. Keunggulan akademik diukur berdasarkan kualitas web atau kualitas publikasi elektronik mereka. Periode penilaian dilakukan dua kali dalam satu tahun, yaitu Januari dan Juli.
    Menurutnya, peringkat tertinggi yang dicapai oleh MB-IPB dibandingkan dengan sekolah-sekolah bisnis lainnya di Indonesia merupakan salah satu parameter untuk mengukur capaian kinerja dari upaya yang selama ini dilakukan.
    Ia mengungkapkan, pada pemeringkatan yang dikeluarkan Januari 2011, MB-IPB menempati peringkat kedua di Indonesia dan peringkat 320 dunia untuk kategori sekolah bisnis.
    Peningkatan peringkat pada tahun ini menggambarkan bahwa publikasi ilmu pengetahuan dan informasi melalui penggunaan website semakin membudaya diantara para pengajar, peneliti dan mahasiswa di MB-IPB.
    Dijelaskannya, ada empat komponen yang menjadi indikator utama dari penilaian Webometrics ini, yaitu: Presence (20 persen), Impact (50%), Openness (15 persen), dan Excellence (15 persen persen).
    Parameter Excellence merupakan jumlah artikel-artikel ilmiah publikasi sekolah bisnis yang bersangkutan yang terindeks di Scimago Institution Ranking dan di Google Scholar.
    Presence adalah jumlah halaman website (html) dan halaman dinamik yang tertangkap oleh mesin pencari (Google), tidak termasuk rich files. Impact merupakan jumlah eksternal link yang unik (jumlah backlink) yang diterima oleh domain web sekolah (inlinks) yang tertangkap oleh mesin pencari (Google).
    Openness (Rich File) merupakan jumlah file dokumen (Adobe Acrobat (.pdf), Adobe PostScript (.ps, .eps), Microsoft Word (.doc,.docx) and Microsoft Powerpoint (.ppt, .pptx) yang online/open di bawah domain website sekolah bisnis yang tertangkap oleh mesin pencari (Google Scholar).
    Dalam daftar 500 besar Sekolah Bisnis terbaik dunia, ada sejumlah kampus dari Indonesia yang masuk daftar Webometrics. Beberapa kampus itu antara lain adalah MB-IPB (Peringkat 100 dunia), Institut Manajemen Telkom (154), Prasetya Mulya Business School (216), Sekolah Bisnis Manajemen ITB (446), MM-UGM (452) dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Malangkuceswara (471).

  62. Pak Giri boleh tanya ya.
    Saya ingin lanjut MM namun sepertinya tidak bisa kalau harus melanjutkan ke universitas seperti ui atau prasmul. Apakah ada perbedaan manfaat (jenjang karir,koneksi, ilmu yg diperoleh terutama ilmu ya pak)maupun kurikulum MM di universitas2 lain dengan ui&prasmul?
    Terima kasih.

    1. Hi Darren,
      Untuk kurikulum, silakan membandingkan langsung silabus MM di UI, Prasmul, dan universitas yang Darren mau. Jangan hanya melihat nama mata kuliahnya, namun lihat juga materi-materi apa saja yang dibahas dan kalau memungkinkan, tanya juga buku pegangan setiap mata kuliah apa. Itu yang nanti bisa memberikan beda ilmu yang Darren peroleh.
      Menurut pandangan saya, 50-75% mungkin kurikulum akan sama. Namun, pengajar dan lingkungan (teman-teman kuliah) akan sangat menentukan seberapa dalam ilmu itu dapat diserap oleh mahasiswa. Misalnya, kampus A dan B sama2 ada kuliah Marketing Management dan sama-sama menggunakan Buku Philip Kotler, namun kualitas dosen (pengajar) akan sangat menentukan seberapa luas materi marketing tsb dapat dikembangkan. Memiliki lingkungan (teman-teman) yang kritis jg akan sangat membantu mahasiswa mendalami ilmu marketing tsb.
      Untuk koneksi, kampus yg memiliki alumnus2 terbaik sudah pasti akan memberikan perbedaan manfaat. UI dan Prasmul sama2 memiliki alumnus yang sangat ternama dan itu akan sangat memberikan nilai untuk mahasiswanya terutama untuk urusan berjejaring (networking).
      Untuk jenjang karir, menurut saya akan kembali ke individunya. MM ini sifatnya hanya seperti senjata. Secanggih apapun senjata yang kamu pegang, tapi kalau kamu gagal memanfaatkannya dengan baik, ya hasilnya tidak begitu menggembirakan. Tetapi jika kamu punya senjata canggih dan tahu bagaimana cara menggunakannya, sudah pasti kamu akan menang di medan perang. Semoga analogi ini bisa membantu.
      Semoga sukses!
      Giri

  63. Thanks buat mas giri aja deh… blog dan komen di sini bermutu.
    Kabar baru neh… webomatrics STOP merank sekolah bisnis. Gini katanya
    “MBA Ranking Discontinued
    The Ranking Web of Business Schools & MBA granting institutions has been discontinued, so it is no longer updated. We realized that these institutions are not transparent enough for being monitored from their web presence. You can still follow our work in the other Rankings Web where we supply additional information about the development of Webometrics discipline.
    Thank you!”
    Mungkin selain sekolah bisnis, kita masih bisa berharap dengan hasil evaluasi webomatric. Sebab mereka masih melanjutkan evaluasinya.

  64. Halo mas Giri, wah saya merasa beruntung menemukan blognya mas Giri. Mau konsultasi sedikit boleh ya mas, mana tahu mas Giri bisa memberi masukan :). Saya merupakan lulusan sarjana kedokteran gigi, namun di akhir masa studi, saya menyadari ternyata menjadi dokter gigi bukan menjadi passion saya (bisa dikatakan saya menyelesaikan studi dengan terseok-seok :)) Setelah lulus saya ingin melanjutkan S2 dengan jurusan business management atau marketing communication, ternyata saya tertarik dengan hal-hal yang berbau bisnis dan PR. Kira-kira menurut mas Giri apakah mungkin seorang sarjana kedokteran gigi melanjutkan pendidikan S2 dengan jurusan tsb? Prospek kerjanya bagaimana ya mas.. Hemm.. Demikian mas Giri, moga mas Giri bisa memberikan masukan ya, terima kasih 🙂

    1. Hi Rara,
      Terima kasih telah berkunjung. Dengan bekal S2 bisnis atau PR, sebenarnya Rara bisa bekerja dimana saja; misalnya memulai dari jenjang karir MT (Management Trainee) di perusahaan-perusahaan besar atau Officer di unit bisnis atau PR. Namun jika ingin mengombinasikan S1 (dokter gigi) dan S2 (bisnis), ada peluang utk berkarir di unit marketing, communication, atau business development di perusahaan yang berhubungan dengan gigi seperti perusahaan farmasi, pasta gigi, sikat gigi (consumer goods), dsb. Saya pny tmn S1nya kedokteran dan S2 bisnis kemudian bekerja di unit bisnis perusahaan farmasi. Ya, S1 dan S2 itu saya asosiasikan seperti senjata. Tinggal bagaimana Rara menggunakan ‘senjata’ tersebut untuk bisa menang di medan perperangan (baca: kompetisi karir).
      Semoga membantu. Salam.
      Giri

    2. Mba Rara yang baik.. sebagai informasi, banyak teman saya yang seorang dokter dan sukses menjadi pebisnis, baik itu bisnis klinik kesehatan maupun lainnya dengan pendapatan tentunya cukup lumayan, ratusan juta setiap bulan.
      Jangan memandang profesi dokter itu hanya dari satu sisi saja, cobalah melihatnya dari perspektif lain, sehingga mba rara tidak salah dengan cara mencintai pekerjaan ataupun suatu profesi.

  65. Salam kenal mas giri, perkenalkan saya alumni dari pertanian unpad.. Sedikit bercerita, 2 tahun ke belakang (saat saya sedang kuliah) saya sudah menjalankan bisnis di bidang jasa transportasi dan sekarang begitu sudah lulus saya sedang start up bisnis di bidang pertanian.. In sha allah ke depan (target 3-5 tahun ke depan) saya punya mimpi udah kembali melanjutkan studi s2 jurusan bisnis di amerika (stanford sloan business school, harvard business school, pennsylvania, princeton atopun yale).. Tapi di salah satu persyaratan nya saya lihat ada experience work 3-7 tahun dan salah satu persyaratan yang katanya paling susah adalah score GMAT.. NAH, pertanyaan saya adalah
    1. Apakah dengan pengalaman bisnis yang saya rintis sendiri termasuk dalam kategori ‘work experience’ yang diinginkan oleh masing2 kampus tsb?
    2. Saya ingin meminta saran dari mas giri bagaimana caranya untuk belajar dan membagi waktu antara menjalankan bisnis dan belajar secara mandiri untuk melengkapi syarat score toefl dan GMAT
    3. Lembaga kursus apa dan buku apa yang sekiranya bagus untuk mempelajari toefl dan GMAT di sela2 menjalankan bisnis
    Sebelumnya saya ucapkan terima kasih bin hatur nuhun (sesama penghuni bumi pasundan) 🙂

    1. Halo Mas Andro,
      Terima kasih telah berkunjung. Berikut jawaban saya atas pertanyaan Mas Andro:
      1. Bisa iya, bisa tidak. Pertama, tergantung kampusnya. Ada kampus yang mengharuskan pengalaman kerja itu berarti bekerja di organisasi terstruktur, tapi kalau punya bisnis sendiri, persyaratan lama kerjanya bisa bertambah banyak. Kedua, tergantung kompleksitas bisnis Mas Andro. Kalau emang kompleks dan berbobot, bisa dihitung pengalaman kerja oleh kampus.
      2. Selama belajar rutin, GMAT & TOEFL tidak menjadi masalah. Apalagi Mas Andro memiliki waktu 3-5 tahun untuk kelak bisa sekolah lagi. Saran saya, biasakan berbicara bahasa Inggris secara rutin, mungkin untuk conversation atau korespondensi. Biasakan juga seminggu sekali, sisakan waktu 3-6 jam untuk belajar dan coba-coba tes GMAT.
      3. Kalau TOEFL, ada banyak pilihan Mas. Contoh untuk yg pny nama itu seperti EF, IDP, Wall Street, dll. Untuk GMAT, coba Kaplan Indonesia, Pascal, dll. Belajar di lembaga kurses sangat membantu Mas Andro karena biasanya kuliahnya terstruktur dan ada media untuk diskusi.
      Salam,
      Giri

    1. Which college do you mean? I am not sure whether they could accept foreign students or not. Better for you to visit their website for further information. Cheers.

  66. Selamat pagi mas giri..
    saya berniat kan ingin melanjutkan kuliah saya..
    tapi saya agak takut kalau kemampuan saya ga bisa menyelesaikan s2.
    sebenarnya s2 itu sesulit apa sih mas. Saya setiap cerita ke teman2 saya kek nya mereka kaget gitu loo..
    ada yang sampe bilang saya niat banged mau kuliah s2 dll..
    saya rasanya jadi kek pengen mundur…krna saking takutnya sama pelajaran yang mungkin akan saya hadapin nanti.
    Tolong bantuannya untuk menjelaskan apa2 saja atau bagaimana proses belajar di s2 ya mas. Makasih.

    1. Halo Meritha,
      Susah saya menjawab sesulit apa S2. Bagi saya, modal paling utama untuk mengambil S2 adalah niat. Jika memang niatnya sangat bulat dan kelak akan lahir komitmen, biasanya S2 dapat dilewati dengan baik. Tapi jika dari niatnya saja sudah tidak yakin, nantinya komitmen belajar rendah, sering tidak masuk kuliah, lalu nilainya hancur dan akan sulit menyelesaikan sekolah. Jadi, Meritha perlu meyakinkan diri sendiri apakah yakin harus mengambil S2.
      Sesulit apa itu menurut saya relatif. Jika Meritha setiap kuliah, menyimak dosen; lalu rajin membaca buku, mengobrol dengan teman dan dosen, sering mengerjakan latihan soal, dan selalu mengupdate diri dengan pengetahuan terbaru; saya yakin S2 pasti bisa dihadapi dengan lebih baik.
      Untuk proses belajar S2, saya rasa tergantung dari kampus mana yang ingin dituju. Tapi intinya, selama ada niat, insyaAllah akan ada jalan.
      Semoga membantu.
      Salam,
      Giri

  67. Hi Mas Giri, Terima kasih telah memberikan insight melalui blog ini. Saya sangat terbantu dengan adanya informasi yang di sajikan dalam blog ini dalam memilih perguruan tinggi yang mempunyai program MM dijakarta ini. Harapannya blog ini dapat digunakan sebagai media bertukar informasi dan bertukar ilmu. Saya saat ini sedang mengambil program pasca sarjana (MM) disalah satu Univ Negeri di jakarta, Apabila mas giri berkenan, boleh saya minta saran terkait dengan thesis yang akan saya susun dan pengalaman mengikuti student exchange di UK atau eropa yang rencananya mau saya ikuti nanti.
    Matur nuwun ya mas

    1. Halo Mas Joko,
      Terima kasih sudah mampir membaca. Pertama saya doakan semoga sukses menyelesaikan MM-nya. Saya merasa terhormat dimintakan saran, meski saya merasa saya belum tentu orang yang tepat untuk memberi saran. Namun, saya siap membantu selama memungkinkan. Bagaimana saya bisa membantu Mas Joko?
      Salam,
      Giri

  68. Assalamu’alaikum
    Salam kenal mas giri, Saya pengen ambil MBA tpatny MBA-ITB di Rasuna Said thn 2016 Insha Alloh. Jujur aj, Saya ambil MBA INI krn adany prubahan aturan mngenai SKS Magister dr 36 mnjadi 72 SKS. Hal ini Saya khawatirkan krn lamany studio bisa 4 thn spt S1. Tpi, Alhamdulillah trnyata utk 2016 ITB msh 36 sks.
    Sejauh ini, Saya nilai ITB msh mnjdi my top priority krn msh d jkt dan masuk akreditasi A utk ABEST21. Saya ambil MBA Salem negeri krn secara Materi tdk jauh dr Materi MBA International dan kelebihan lainnya adl study case ny msh melihat business case dalam negeri
    Menurut mas, klo MBA di dalem negeri itu bakal diakui ato tdk klo kerja d LN, at lease ijazah MBA ny
    Trimakasih atas tanggapannya

    1. Waalaikumussalam Mas Adri,
      Terima kasih sudah mampir. Terima kasih pula atas informasinya.
      Menurut saya, ijazah MBA dari Indonesia diakui oleh HR dari perusahaan di luar negeri dalam artian mereka akan merecognise Mas Adri sebagai lulusan sekolah bisnis (MBA) dari Indonesia. Namun, pada ujungnya, gelar MBA bukanlah satu-satunya pertimbangan perusahaan LN untuk menerima seseorang bekerja atau tidak. Semoga membantu.
      Giri

  69. Halo Mas Giri
    Saya ingin bertanya pendapat Mas mengenai IPMI International Business School baik untuk jenjang S1 maupun S2 nya.. Menurut Mas Giri, Apakah IPMI memiliki kualifikasi seperti Prasmul, UI, dan ITB??
    Terima Kasih

    1. Hi Winny,
      Terima kasih telah berkunjung. Saya kurang tau banyak mengenai IPMI dan merasa tidak layak untuk memberikan pandangan mengenai IPMI. Saran saya, silakan Winny kunjungi website mereka, dan lakukan perbandingan dengan UI, ITB, dan Prasmul. Jika informasi di website dirasa kurang, sebaiknya datangi langsung kampus IPMI agar Winny bisa mendapatkan informasi lebih detail dan merasakan seperti apa pelayanan yang diberikan IPMI.
      Semoga membantu.
      Salam,
      Giri

  70. Halo Sdr Giri,
    Perkenalkan nama saya David, tulisan ini sangatlah bermanfaat dan menginspirasi untuk melanjutkan program studi MM di tempat yang terbaik,
    Mengingat banyaknya perguruan tinggi yang menyelenggarakan program MM ini lantas daya saing perguruan tinggi untuk meningkatkan kualitas program MM ini pun semakin ketat, lantas Badan Akreditas Nasional- Perguruan Tinggi pun menjadi acuan minimum kita untuk melihat standar dari program studi MM yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi
    Melihat komentar diatas,perguruan tinggi yang menjadi tempat terbaik untuk melanjutkan studi ke program MM adalah UI,UGM,ITB,Prasetiya Mulya
    diluar dari perguruan tinggi tersebut, saya ingin menanyakan perguruan tinggi lain untuk program MM, yaitu Bina Nusantara(Binus University) yang biasa kita kenal dengan IT,SInya, namun perkembangan demi perkembangan, Binus membuka sekolah khusus untuk konsentrasi bisnis(Binus Business School) dan Program MM Binus University menurut BAN-PT pun terakreditasi A,
    Saya ingin meminta pendapat yang terbuka dari Sdr Giri,
    Bagaimana menurut Sdr Giri?
    Apakah Binus layak untuk menjadi pertimbangan melanjutkan studi program MM?
    Terima kasih

    1. Halo David,
      Salam kenal. Terima kasih telah berkunjung dan mengapresiasi.
      Menurut saya, semua universitas layak menjadi pertimbangan untuk melanjutkan studi program MM, apalagi universitas yang sudah punya nama seperti Binus. Saya sendiri tidak mengetahui banyak mengenai MM Binus. Benar Binus sangat terkenal dan kuat di IT-nya. Namun rasanya MM Binus juga sangat layak untuk diperhitungkan. Silakan David kunjungi Binus, baik secara online atau offline, untuk mengetahui lebih detail program MM-nya. Jika punya waktu, silakan pula berkunjung ke kampus2 UI, UGM, ITB,atau Prasmul untuk melakukan perbandingan, baik perbandingan kurikulum maupun fisik kampus termasuk pelayanan mahasiswa. Setiap sekolah bisnis menawarkan rasa dan keunggulan masing-masing. Saya yakin Binus Business School juga memberikan pengalaman yang mungkin tidak akan didapat di sekolah lain.
      Semoga membantu.
      Salam,
      Giri

  71. Halo Mas Giri,
    saya ingin menanyakan, sebelumnya saya s1 SI di sebuah universitas binus, dan karena berbagai macam masalah termasuk finansial, akhirnya saya memutuskan pindah ke kampus kecil yang tidak terakreditasi baik seperti Binus, dan durasi s1 saya 7tahun, dengan pengalaman kerja sebagai asisten manajer marketing di sebuah perusahaan(saat ini saya sudah resign karena menurut saya di perusahaan tsb tidak ada jenjang karir yang baik ke depannya dan ingin mencari jenjang karir yg lebih baik)Dan saat ini saya sedang berjuang mencari pekerjaan sesuai passion saya di dunia manajemen/keuangan, dan saya selalu terbentrok dengan requirements perusahaan tersebut yang biasanya membutuhkan kualifikasi kandidat sesuai dengan jurusannya (contoh: Minimal S1 manajemen/akun) dan juga ditambah terbentur masalah IPK yang minimal 2.75 dari skalan 4.00, karena saya tidak mendapatkan pekerjaan dibidang itu karena alesan tersebut, akhirnya saya sempat berpikir untuk memperbaiki CV saya yang sebelumnya s1 7tahun dijurusan Sistem Informasi dengan IPK kecil, dengan mengambil Magister Manajemen di IPB, bagaimana menurut mas Giri? Karena saya perlu berdiskusi dengan banyak orang termasuk mas Giri(yang sudah paham dengan dunia ini).
    Apakah sekiranya membantu untuk mendapatkan bidang pekerjaan yg sesuai dengan passion saya(tidak berhubungan dengan SI/coding dll)? atau hanya mempertinggi tempat jatuh saya? sebagai info, saya pria yg baru saja berumur genap 26tahun. dan apakah semisal saya lulus s2 di 28 akan mempengaruhi mendapatkan pekerjaan(karena batasan maksimal umur)?
    Terima kasih mas Giri.
    Regards,
    Unnamed

    1. Halo Mas,
      Menurut saya, punya S2 itu tidak MENJAMIN seseorang bisa mendapatkan kerja sesuai keinginan nya. Mempunyai S2 bisa MEMPERBESAR PELUANG seseorang untuk mendapatkan pekerjaan yang dia mau. Pada ujungnya, akan kembali pada sikap dan pengalaman kerja pelamar, kebutuhan organisasi / perusahaan, dan ketika Interview. Di beberapa perusahaan, terkadang usia bisa menjadi kendala.
      Mas harus mempertimbangkan dengan seksama rencana Mas. Mas bisa saja mengambil S2 dan lalu mencoba melamar untuk bekerja di industri perbankan, mengingat bank-bank di Indonesia banyak sekali membuka lowongan MDP (Management Development Program) atau MA. Ini biasanya dibuka untuk berbagai latar belakang pendidikan dan biasanya batasan usianya maksimal 28 (lulusan S2). Kadang-kadang bahkan maksimal usia 25 tahun. Mas harus periksa dengan hati-hati. Nanti di perbankan, mas bisa belajar banyak mengenai manajemen/keuangan. Ini bisa dijadikan batu loncatan untuk bisa bekerja di industri lain atau Mas bisa terus bertahan di dunia perbankan.
      Semoga membantu.
      Salam,
      Giri

  72. halo mas giri, dan siapapun yang membaca komen saya
    Pertama saya mau mengucapkan terimakasih atas sharingnya. sesungguhnya sebaik baiknya manusia, adalah manusia yang bermanfaat untuk sekitarnya, salah satunya dengan berbagi ilmu dan pengalaman 🙂
    yang ingin saya tanyakan, mungkin mas giri/ yang lainnya bisa bantu saya.
    ketika final goal saya mau ambil s2 MM/MBA adalah karena factor “ingin melanjutkan bisnis keluarga” beserta “ingin agar rencana startup bisnis yang saya buat dapat terealisasikan” saya tertuju pada 4 opsi, yakni:
    1. Prasmul Business School, dikarenakan isu2 yang breeder bahwasanya Prasmul adalah sekolah bisnis terbaik untuk enterpreneur.
    2. SBM ITB, belum ada alasan personal. namun secara ranking sepertinya termasuk dalam ranking teratas.
    3. MM UGM, karena akreditasi AACSB pastinya.
    4. MM UI, teman saya pernah sharing terkait opsi yang diberikan UI untuk thesis/business couching selama 1 tahun untuk membantu 1 UKM mengelola bisnis. (praktik lapangannya lumayan menarik).
    Sehubungan dengan 4 pilihan saya, saya masih condong ke Prasmul. Mungkin mas Giri atau yang lainnya bisa bantu saya memberikan persepsi masing masing terkait final goal yang saya ingin raih?
    thank you in advance!

    1. Halo mas Alpvy,
      Terima kasih telah berkunjung kesini.
      Di prasetiya mulya, ada seorang dosen bernama Bu Lenny Sunaryo, PhD yang sering menulis mengenai bisnis keluarga. Mas bisa membaca artikel-artikel beliau di kontan atau SWA. Misalnya bergabung dengan Prasmul, Mas Alpvy bisa tanya banyak ke beliau sehingga akan banyak belajar. Mgkn di universitas lain ada juga dosen yang concern terhadap bisnis keluarga, tapi sayangnya saya tidak tahu. Mungkin mas bisa search di Google.
      Seingat saya, di Prasmul, tugas akhirnya berupa BP (Business Plan) sehingga akan memberikan banyak knowledge bagi Mas Alpvy jika ingin berbisnis kelak karena akan banyak terlibat dari sisi marketing, operations, HR, finance, dan bahkan strategi. Mas Alpvy coba kunjungi website ITB, UGM, dan UI: apa tugas akhir mereka; dan lalu bisa membanding-bandingkan. Semoga ini membantu.
      Selamat mengambil MM/MBA. Sukses!
      Salam,
      Giri

  73. Terima kasih mas Giri, jawabannya mewakili semuanya.
    Ada yg saya ingin tanyakan lg, untuk kasus seperti saya (UNNAMED) apa opsi lain yg terbaik jika sudah melanjutkan MM selain bekerja di bank seperti (MDP) yang kebanyakan terpentok di usia (max 28), dikarenakan sesuai estimasi saya, inshaa Allah saya akan mendapatkan gelar MM di umur 29?
    Biasanya/ kebanyakan orang mengambil MM itu bekerja sebagai apa?(Selain yang entrepreneur yang saya maksud)
    Saya post 2x karena saya baru membaca diatas ada yg menanyakan IPMI dan mas Giri telah merespon.

    1. Halo,
      Agak berat memang jika mau mengganti fungsi di pekerjaan (misalnya dari IT ke Keuangan) sementara usia sudah 29 dan tidak punya pengalaman di fungsi yang diinginkan. Karena jika untuk posisi fresh graduate di dunia keuangan, perusahaan kebanyakan mencari yang memang masih muda. Sedangkan untuk posisi experienced, sudah pasti mereka mencari seseorang yang sudah punya pengalaman kerja yang sesuai. Saran saya, ya terus mencoba. Meski berat, namun bukan berarti tidak bisa kan? Siapa tau dengan mengambil MM nanti kenal dengan seseorang dan seseorang itu bisa membantu kamu mendapatkan yang dimau. Sekolah MM itu bukan hanya untuk mengejar gelar dan ilmu, tetapi juga kesempatan networking.
      Mengenai lulusan MM, apakah menjadi Entrepreneur atau profesional, saya rasa mungkin informasinya ada di website atau brosur masing-masing kampus MM. Jika tidak ada, ya artinya harus menghubungi kampus ybs. Saya sendiri tidak punya data mengenai lulusan MM di Indonesia menjadi apa. Tapi kalau di luar negeri, lulusan MBA yang menjadi entrepeneur biasanya hanya sekitar 7-20% dari total mahasiswa. Ya tergantung kampusnya. Sisanya menjadi profesional, baik di bidang keuangan, konsultasi, marketing, dsb.
      Semoga membantu.
      Salam,
      Giri

  74. Salam buat Mas Giri,
    Setelah saya amati diskusi ini,menarik dan dapat menambah informasi saya. Saya sangat senang.
    Saya lulusaan MFarm dengan konsentrasi (bisnis farmasi) dari universitas pancasila.
    Dulu saya mencari info mengenai MM juga, namun biayanya cukup mahal di Prasetya Mulya, UI dan PPM.
    Karena saya rencananya ingin melanjutkan ke Doktoral Unpad untuk strategi pemasaran yang biayanya lumayan terjangkau menurut dosen pembimbing saya Dr Handono Ishardyatmo, SE,Ak, MM
    Just info aja Mungkin rekan2 bisa coba juga di bisnis farmasi universitas pancasila, bila rekan2 lulusan sarjana kimia, farmasi, apoteker, pertanian, biologi. Untuk mata kuliahnya mirip dengan MM.
    sekarang ini banyak kampus mengarahkan mahsiswanya untuk menjadi entrepreneur dan kampus menawarkan konsentrasi pascasarjananya kearah sana dikarenakan kebutuhan pasar.
    Itu saja info tambahan dari saya.
    Sukses buat semuanya
    Salam,
    Eko Rachmat Priyadi, SP, M.Farm

  75. Trims mas Giri untuk jawabannya. Sehat dan sukses selalu Mas Giri. Terus menulis dan mengangkat tema yang minim info di Indonesia, mas. hehehe

  76. Assalamualaikum Mas Giri, Perkenalkan nama saya Aldi sekarang kerja di salah satu Instansi di Indonesia dan saya mau nanya entah kelewat membaca atau kurang teliti, saya mau tanya, saya punya keinginan untuk lanjut S2 di LN Insyaallah, nah sebelum membulatkan tekad dan keinginan, pertanyaannya, bagi mas Giri kira2 peran vital MBA itu untuk masyarakat apa ? seberapa bergunanya MBA itu untuk orang banyak ? dan nyambung gak kalau saya yang awalnya S1 Teknik Informatika lalu lanjut ambil MBA Mas ? makasih mas mohon responnya ya wassalamualaikum… 🙂

    1. Hi Aldi,
      Rasanya terlalu berat jika ditanya apa peran MBA untuk masyarakat. Jawabnya mungkin hampir sama jika saya tanyakan apa peran vital S1 Teknik Informatika untuk masyarakat. Akan sangat kembali ke individu.
      Namun secara singkat, peran MBA sangat vital untuk kehidupan berorganisasi terutama organisasi bisnis karena lulusan MBA akan mempunyai pemahaman yang mendalam dan luas pada elemen-elemen penting organisasi bisnis seperti Organisation Development, HR, Marketing, Operations Management, Strategic Management, Leadership, dan sebagainya. Seorang pemimpin dengan latar belakang MBA mempunyai kelebihan untuk dapat mempertimbangkan banyak aspek sebelum mengambil keputusan strategis.
      MBA sangat terbuka untuk lulusan S1 dari jurusan manapun. Jadi tidak masalah Mas Aldi S1-nya TI dan S2-MBA. Akan membuka wawasan dan cakrawala pengetahuan untuk Mas Aldi. Semoga membantu.
      Salam,
      Giri

      1. Terimakasih simple dan tegas jawabannya mas giri, satu lagi mas. Begini saya search kan di internet benarkah saat ini MBA itu terbagi dari beberapa cabang mas yang artinya ada Konsentrasi tersendiri di MBA tersebut, seperti ada MBA Hubungan Internasional, MBA Ekonomi, Keuangan dll… ? makasih Mas…

        1. Ya, betul sekali Mas. Sekarang banyak MBA/MM di Indonesia maupun global yang menawarkan konsentrasi di bidang keilmuan khusus seperti entrepeneurship, finance, dan marketing; atau bahkan di bidang industri tertentu seperti aviation, healthcare dan sebagainya. Silakan cari informasinya per kampus jika tertarik mengetahuinya.

  77. Salam kenal mas giri, saya aryan freshgraduated Pendidikan Ekonomi dari PTN Lampung. Rencananya bulan ini saya mau lanjut S2 ke Undip antara magister akuntansi dan magister manajemen, kira2 mana yg lebih baik peluang kerjanya ya mas? Pertanyaan ke duanya, kalau saya kuliah s2 akuntansi kira2 apakah sy bisa kuat menjalani perkuliahan yang notabene tidak linear dengan s1 saya selama ini? Ketiga, apakah Kalau diterima, saya mesti menjalani program matrikulasi terlebih dahulu? Ke empat, bagaimana proyeksi kerja buat magister sains ilmu manajamen UGM untuk bekerja di perusahaan? Karena sy juga ada rencana daftar ke sana pada Minggu ini? Terima kasih banyak mas, semoga mas giri berkenan menjawabnya.

    1. Halo Aryan,
      Salam kenal. Sebenarnya Aryan tinggal menanyakan ke diri sendiri, cita-cita apa yang Aryan ingin raih. Jika memang ingin berkarya di dunia akuntansi, ya silakan ambil magister akuntansi. Jika ingin di bagian manajemen, silakan ambil magister manajemen. Menurut saya, peluang kerjanya sama baiknya.
      Jika tidak linier, memang berarti ada usaha (effort) tambahan yang harus dilakukan oleh Aryan untuk mengejar ketertinggalan. Apakah Aryan bisa kuat? Ya, saya kembalikan lagi ke Aryan apakah Aryan MAU dan MAMPU untuk mengejar ketertinggalan itu. Kalau memang MAU dan MAMPU, ya lanjutkan. Lebih baik mundur selangkah demi bisa maju tiga langkah atau lebih. Untuk matrikulasi, silakan Aryan liat ke kampus masing-masing. Ada kampus yang tidak mengharuskan matrikulasi, ada kampus yang mengharuskan persyaratan minimal kerja berapa tahun di bidang keuangan, dan sebagainya. Berbeda kampus maka berbeda kebijakan juga.
      Saya tidak dalam kapasitas menjawab mengenai proyeksi kerja untuk magister ilmu manajemen UGM. Saya rasa lulusan MSi Manajemen dari kampus-kampus terbaik akan punya bekal kuat untuk mendapatkan kerja yang diharapkan.
      Semoga membantu.
      Salam,
      Giri

  78. Hi..salam kenal mas Giri. Aku galau antara lanjut S2 atau nggak
    tujuanku lanjut S2 adalah untuk berwirausaha dan mempunyai perusahaan kecil2an sendiri. Apakah diperlukan untuk lanjut S2 atau tidak…rencana ingin ambil S2 manajemen bisnis

    1. Halo Mona,
      Sebenarnya saya sudah pernah memberikan masukan di komen-komen sebelumnya mengenai ambil S2 atau tidak. Jika memang Mona memiliki modal dan waktu yang cukup, saya sarankan mengambil S2 bisnis. Manfaat yang bisa Mona raih dari S2 adalah ilmu bisnis yang komprehensif (sehingga bisa belajar banyak best practice untuk berwirausaha) dan juga mengembangkan networking yang akan sangat penting utk bisnis Mona. Semoga membantu.
      Salam,
      Giri

  79. Halo mas giri saya mau tanya untuk tau info bank buka2 program management development program atau young leader itu bagaimana ya? Terima kasih.

    1. Halo Desta,
      Tentu saja bisa. Banyak sekali contoh orang sukses yang mengambil MBA dengan latar belakang seperti sains, kedokteran, teknik, dan sebagainya. Selamat mencoba. Sukses!
      Salam,
      Giri

      1. hai mas giri,
        boleh minta saran kalau untuk fresh graduate s1 manajemen lebih cocok untuk ambil MM atau MSM ya? saya sebetulnya ingin ambil MM karena katanya lebih aplikatif dengan dunia kerja, tapi saya takut jadi minder karena MM rata2 sudah punya pengalaman kerja sedangkan saya belum sama sekali, bagaimana menurut mas agar saya tidak salah mengambil pilihan. thanks for your advice
        salam

        1. Halo Mas Bima,
          Di beberapa universitas, selain mereka punya kelas MM untuk yang sudah punya pengalaman kerja, mereka juga punya kelas MM untuk fresh graduate. Di UI, namanya MM Reguler (pagi). Di prasmul, namanya MM Regular. Di PPM, namanya MM Wijawiyata. Dan sebagainya. Jadi Mas Bima tidak perlu takut untuk mengambil MM. Untuk pilihan MM atau MSM, silakan membandingkan kurikulum dari MM dan MSM yang Mas Bima targetkan. MSM mungkin lebih ke magister keilmuan, kalau MM mungkin lebih ke magister terapan. Silakan dipilih sesuai dengan cita-cita Mas Bima. Semoga menjawab.
          Salam,
          Giri

  80. terima kasih telah berbagi informasi Pak, betah sekali membaca tulisan-tulisan disini, jadi tambah wawasan.. semoga selalu di beri kesehatan dan sukses selalu..

  81. hai mas giri,
    boleh minta saran kalau untuk fresh graduate s1 manajemen lebih cocok untuk ambil MM atau MSM ya? saya sebetulnya ingin ambil MM karena katanya lebih aplikatif dengan dunia kerja, tapi saya takut jadi minder karena MM rata2 sudah punya pengalaman kerja sedangkan saya belum sama sekali, bagaimana menurut mas agar saya tidak salah mengambil pilihan. thanks for your advice
    salam

    1. Halo Mas Bima,
      Di beberapa universitas, selain mereka punya kelas MM untuk yang sudah punya pengalaman kerja, mereka juga punya kelas MM untuk fresh graduate. Di UI, namanya MM Reguler (pagi). Di prasmul, namanya MM Regular. Di PPM, namanya MM Wijawiyata. Dan sebagainya. Jadi Mas Bima tidak perlu takut untuk mengambil MM. Untuk pilihan MM atau MSM, silakan membandingkan kurikulum dari MM dan MSM yang Mas Bima targetkan. MSM mungkin lebih ke magister keilmuan, kalau MM mungkin lebih ke magister terapan. Silakan dipilih sesuai dengan cita-cita Mas Bima. Semoga menjawab.
      Salam,
      Giri

  82. Halo Mas Giri,
    Sebelumnya terima kasih buat tulisannya yang sangat informatif ini. Ada beberapa hal yg saya ingin tanyakan ke Mas Giri, saya fresh graduate dan sudah lumayan lama belum mendapatkan pekerjaan, menurut Mas Giri sebaiknya apakah saya terus berusaha dan menunggu untuk mendapatkan pekerjaan terlebih dahulu atau lanjut S2 aja ? lalu untuk jurusan S2, bagaimana pendapat Mas Giri tentang manajemen teknik industri ? kebetulan saya S1 teknik, masih bingung antara manajemen teknik atau manajemen umum.
    Thanks

    1. Halo Nabila,
      Terima kasih sudah berkunjung. Ya, menurut saya, mengambil S2 harus diniatkan teguh oleh Nabila, tidak sekedar hanya pelarian dari belum mendapatkan pekerjaan. Tapi memang, memiliki gelar S2 memperbesar peluang Nabila untuk mendapatkan pekerjaan, meskipun tidak menjamin 100%. Banyak perusahaan yang mencari new hire yang punya S2.
      Untuk S2 manajemen teknik industri, saya kurang begitu paham. Kalau Nabila mengambil S2 MM/MBA, mungkin kurikulummya lebih mengarah ke applied knowledge in business. Tidak masalah seseorang lulusan S1 teknik atau bukan, mereka bisa melanjutkan ke S2 MM/MBA.
      Salam,
      Giri

  83. Salam kenal mas Giri,
    Terima kasih atas post-nya yang sangat menarik. Saya ingin bertanya tentang mini MBA / short-course / summer school. Apakah mas Giri ada referensi dan rekomendasi tentang ini?
    Kebetulan posisi saya saat ini tidak memungkinkan untuk MBA karena berbagai pertimbangan, salah duanya adalah keluarga dan perusahaan.
    Saya saat ini late-20s dan have a PhD in Computer Science. Kurang lebih 1-2 tahun terakhir saya semakin menyadari dunia akademis bukan passion saya, dan serius untuk terjun ke dunia bisnis.
    Terima kasih

    1. Halo Mas Yanu,
      Terima kasih telah berkunjung. Saya tidak punya referensi yang kuat untuk mini MBA di Indonesia. Tapi setahu saya, Binus atau Kontan Academy punya mini MBA. Mungkin bisa Mas Yanu cek ke websitenya. Prasetiya Mulya punya divisi ELI (Executive Learning Institute) untuk kelas profesional. Mas Yanu juga bisa berkunjung ke website ELI Prasmul. Mereka tidak punya mini MBA setahu saya, tapi punya beberapa short course yang mungkin bisa menjawab kebutuhan Mas Yanu.
      Selamat menemukan passionnya, Mas. Semoga sukses!
      Salam,
      Giri

  84. salam kenal ms giri, senang sekali bisa baca blog ms giri ttg informasi mm/mba,, sepertinya sya butuh masukan dari teman2 pembaca dan juga ms giri, sya lulus 2013 jurusan teknologi pangan, kemudian ambil kerja jadi pegawai honorer di suatu tempat pemerintahan sebagai asisten peneliti, selama sya bekerja sya juga mencoba untuk tes cpns tpi tidak pernah lolos (nilai tes wawasan kebangsaan selalu kurang), dan setelah sya mengikuti kerja di pemerintahan selama 4 tahun rasa2nya tidak sesuai dengan apa yg saya inginkan (4 tahun ternyata waktu yang lama untuk menyadarkan sya, karena sya merasa sangat nyaman di zona tersebut walaupun tidak ada jenjang karir yang jelas selama sya di sna) dan awal tahun 2018 saya resign dan memutuskan untuk berniat ambil S2 bidang manajemen bisnis, mnrt ms giri dan teman2 pembaca jika berkenan, apa pilihan sya untuk mengambil s2 di umur sya yg 28 ini banyak minusnya daripada positivenya? dan sya berniat untuk ambil kuliah full time, apakah networking lebih banyak di kelas2 yang part time? atau uang yg terkumpul untuk biaya s2 digunakan untuk bisnis saja? atau sya cari kerja dan di sambi dengan kuliah s2? mohon masukannya, thks

    1. Halo Prima,
      Terima kasih telah berkunjung ke blog saya.
      Menurut saya, tidak ada yang salah mengambil S2 di usia 28. Banyak yang mengambil S2 di usia lebih tua. Tidak pernah ada kata terlambat. Biasanya, kuliah full time diisi oleh mahasiswa yang baru lulus (fresh graduate). Biasanya loh! Kebanyakan seperti itu, meskipun ga selamanya informasi ini valid. Kalau kelas part time, biasanya diisi oleh yang sedang bekerja atau ada fokus lain di sehari-harinya. Menurut saya, sesuai dengan tujuan Prima mengambil S2. Jika ingin mengambil S2 untuk networking dengan yang sudah bekerja, boleh mengambil part time. Namun, jika ingin fokus untuk belajar (toh ada kesempatan networking juga dgn mahasiswa lain), ya boleh mengambil full time.
      Perihal investasi tersebut ingin digunakan untuk S2 saja, bisnis saja, atau S2 + bisnis; silakan Prima pertimbangkan kembali dengan mempertimbangkan impian Prima. Semuanya ada sisi kelebihan dan kekurangan. Cari yang mana yang paling mendukung Prima dalam mencapai mimpi Prima. S2 + Bisnis membutuhkan lebih banyak biaya dan waktu. Namun, jika itu memungkinkan bagi Prima, ya kenapa tidak.
      Sukses selalu dengan pilihannya.
      Salam,
      Giri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to Top