Sapaan

Sapaan, menurut kamus besar bahasa Indonesia, berarti kata atau frasa untuk saling merujuk dl pembicaraan dan yg berbeda-beda menurut sifat hubungan di antara pembicara itu seperti Anda, Ibu, Saudara. Menurut Badan Pengembangan dan Pembinaan bahasa, kata sapaan adalah kata yang digunakan untuk menegur sapa orang yang diajak berbicara (orang kedua) atau menggantikan nama orang ketiga. Contohnya: “Sudah makan, Pak?”, “Mau kemana, Bu?”, dan seterusnya.

Saya pribadi tidak menyukai kata sapaan. Adanya penggunaan kata sapaan membuat kita bisa melupakan nama seseorang kapanpun setelah kita berkenalan. Misalnya saya baru saja berkenalan dengan Pak Herkatipawan. Nama yang susah bukan? Setelah berapa menit, saya bisa saja melupakan namanya. Apa yang akan saya ucapkan jika saya hendak menegur dia kembali untuk pamit? Jawabannya mudah, saya akan berucap “Pak, saya pamit dulu ya”. Sekalipun saya lupa nama dia, kata sapaan menyederhanakan proses komunikasi. Saya tinggal menyebut ‘Pak’, tanpa perlu meyebut namanya.

Selain itu, kata sapaan, menurut saya, sangat identik dengan perspektif seseorang menilai sesuatu. Suatu hari saya berbicara dengan orang yang lebih tua dari saya. Dalam kontek formal, saya rasa wajar dia menggunakan kata sapaan ‘Pak Giri’. Nah, yang menjadi ganjalan adalah ketika dia masih menggunakan kata sapaan ‘Pak’ dalam konteks informal meskipun saya sudah berulang kali menyatakan bahwa saya masih muda. Ketika saya tanya kenapa, jawabannya “Oh, saya kira Pak Giri sudah 35 tahun”. Akibat dia salah menilai usia saya, dia menggunakan kata sapaan yang salah. Alih-alih memanggil “dik”, dia memanggil saya “Pak”. Ya, meski wajah seseorang memang terlihat tua, tetapi penggunaan kata sapaan yang salah bisa membuat seseorang tertekan (ini tidak berlaku untuk saya. Saya menikmati wajah yang dewasa ini).

Sapaan

Di barat sana, budayanya beda lagi dalam memanggil nama pada konteks informal. Rata-rata mereka akan memanggil nama kita tanpa kata Sapaan. Saya memanggil orang yang usianya 60 tahun (dia memang mengakui umurnya segitu), hanya dengan namanya. Saya memanggilnya “Steve”, tanpa embel-embel “Mister” di depannya. Saya pun demikian, dipanggil hanya nama saja “Giri”, bukan “Mr. Giri atau Mr. Suhardi”. Karena itulah ketika saya berkenalan dengan orang baru, saya benar-benar harus memutar otak untuk mengingat nama orang tersebut. Saya bingung harus ngomong apa jika hendak menegur dia kembali tapi saya sampai lupa namanya.

Jujur, saya sangat menyukai pola komunikasi orang barat. Menggunakan kata sapaan belum tentu berarti kita menghargai seseorang yang lebih tua. Di UK, saya memanggil orang yang jauh lebih tua hanya dengan panggilan nama (seperti Hi Bruce, Hi Daniel, dan lain-lain). Meski begitu, saya tetap menghormati mereka sebagai dosen saya, atasan saya, maupun kolega saya. Di Indonesia, seorang memanggil gurunya, atasannya, atau koleganya ‘Pak’, namun belum tentu dia bisa menghormati orang yang dituakannya.

Buat saya, penggunaan kata sapaan dapat membuat posisi antar pembicara belum tentu setara. Kehadiran kata “Pak” bisa membuat posisi seorang seolah-olah berada di bawah posisi pembicara lainnya. Kehadiran sapaan “Pak” membuat seseorang memberikan batas imajiner dan bisa membuat seseorang berperilaku jaim. Selain itu, kata “Pak” membuat kita menciptakan hirarki berdasarkan usia. Di negeri bule, semua orang kita panggil sama, hanya namanya saja. Kesetaraan itu buat saya memberikan rasa nyaman untuk berdiskusi. Ketika berdiskusi, yang membuat hirarki biasanya lebih kepada pengetahuan, bukan masalah usia. Semoga Indonesia menjadi bangsa yang menghormati  hirarki pengetahuan daripada hanya sekedar hirarki usia (senioritas).

Sapaan

2 thoughts on “Sapaan

  • setuju dengan ini: Adanya penggunaan kata sapaan membuat kita bisa melupakan nama seseorang kapanpun setelah kita berkenalan
    Tapi sepertinya budaya ketimuran yang ada di Indonesia untuk menghormati seseorang dengan sapaan pak, ibu, mas, mbak masih diperlukan. Sebagai orang Indonesia saya bangga kok menggunakan itu. Lagi pula sebagai pembeda bangsa ini dengan bangsa yang lain.
    Salam kenal mas 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.