Mengejar Passion

‘Kalau saya mau berbisnis, haruskah saya mengejar passion saya? Haruskah sejalan dengan passion saya?”. Itu adalah sebuah pertanyaan yang diajukan orang seorang peserta seminar kepada saya dalam sebuah acara di Yogyakarta. Mengejar Passion

Passion. Dalam beberapa tahun terakhir, kata passion menjadi naik daun dalam dunia pekerjaan terutama di Indonesia. Mungkin di luar negeri, kata passion sudah identik sejak dulu. Atau malah mungkin karena saya yang baru ngeh kata itu semakin membahana di Indonesia akhir-akhir ini.  Ada kutipan follow your passion, work with passion, bring passion to work, discover your passion, dan lain sebagainya. Ya, begitu banyak kutipan yang dibuat untuk menunjukan bahwa kita harus mengejar passion kita di dunia pekerjaan.

Saya tidak akan membahas passion itu apa dan bagaimana mencari passion. Rasanya sudah banyak passion coach di Indonesia yang lebih mumpuni menginformasikan hal tersebut. Namun, percakapan saya dengan Sati Rasuanto, Managing Director di Endeavor Indonesia, memberikan sebuah perspektif baru mengenai pekerjaan dan mengejar passion. Dia bilang, tidak bisa kita bekerja hanya dengan mengandalkan passion. Be realistic, katanya. Idealnya, ada 3 hal yang harus kita perhatikan ketika ingin membuka usaha sendiri (menjadi entrepreneur) atau berkarir di dunia profesional. Tiga hal tersebut adalah passion, talent, dan industri. Bekerjalah atau berwirausahalah di bidang dimana kamu memiliki keunggulan pada ketiga hal di atas.

mengejar passion

Berkaryalah dimana kamu memiliki passion terhadap bidang tersebut, kamu juga memiliki keahlian di bidang tersebut, dan di industri yang dapat memberikan nilai buat kamu (misalnya industri-nya memiliki kesempatan untuk berkembang, industri-nya positif, dan lain sebagainya). Mengejar Passion

Sati mencontohkan seorang yang mau menjadi penyanyi. Industri musik (hiburan) kini sedang berkembang pesat sehingga jika seseorang mau menjadi penyanyi, ya mungkin kini saat yang tepat. Namun, pertanyaannya apakah dia memiliki passion dan talent atau tidak. Jika dia punya passion namun tidak punya talent, apakah dia bisa berkembang menjadi penyanyi hebat? Ya, misalnya saya. Saya punya passion menjadi penyanyi, namun saya sadar suara saya pas-pasan. Berat rasanya saya akan menjadi seperti seorang Harvey Malaiholo. Namun, jika saya memiliki talenta pada hal tarik suara, namun dunia bernyanyi bukanlah bagian dari mengejar passion saya, mungkin agak berat juga jika saya ingin menjadi seperti seorang Chrisye (alm.) Passion dan talent harus saling melengkapi untuk memberikan hasil terbaik. Mengejar Passion

Dr. Tina Seelig, Profesor di Stanford University, juga menegaskan hal tersebut. Menurut Dr. Tina, komposisi dari pekerjaan yang hebat (good work) itu adalah Passion, Skill, dan Market. Passion adalah pekerjaan yang kamu lakukan dengan cinta (suka), skill berarti kemampuan untuk menyelesaikan sesuatu, dan Market adalah suatu pihak yang akan membayarmu untuk melakukan sebuah pekerjaan. Sama dengan yang sempat diutarakan dengan Sati. Bedanya Dr. Tina memberikan nama untuk setiap irisan lingkaran. Mengejar passion

three simple ingredients
three simple ingredients (source: http://www.blakeboles.com)

Ketika kamu punya passion dan skill, tapi tak ada perusahaan yang mau membayarmu, itu artinya kamu punya hobi. Namun ketika hobi bisa dilekatkan dengan proses penambahan nilai, maka itu bisa menjadi good work. Kamu punya hobi memasak, jago memasak, dan punya passion di dunia kuliner, namun selama kamu belum mengubahnya menjadi sesuatu yang bernilai (dari sisi ekonomis misalnya dengan membuka restauran – setelah melihat market / pasar atau dengan menjadi chef), maka selamanya itu akan tetap menjadi hobi. Jika kamu memiliki passion dan ada perusahaan yang mau membayar untuk passion tersebut, namun kamu belum memiliki keahlian di bidang tersebut, ya maka itu menjadi pekerjaan impian (dream job). Kalau kamu memiliki skill dan sedang bekerja, namun ternyata itu tidak selaras dengan mengejar passion kamu, maka Dr. Tina mengatakan bahwa itu hanyalah bekerja biasa (just “job”). Untuk bisa bekerja hebat (good work), harus ada kombinasi ketiganya.

Kurang lebih itulah jawaban saya terhadap pertanyaan yang diajukan oleh seorang peserta seminar. Lihat ketiga elemen di atas: cari tahu passion kamu, skill kamu, dan mulailah mengindentifikasi pasar. Semoga ini bisa menjadi inspirasi baik untuk penulis atau pembaca untuk selalu bekerja hebat (good work) meskipun saya sadari mempertemukan ketiga hal di atas tidaklah mudah. Ya, tidak mudah namun sangat mungkin. Semoga sukses mengejar passion! Mengejar passion

(featured image from http://www.123marketing.com)

Mengejar Passion

11 Responses

  1. Assalammu’alaikum.
    Artikel yang benar-benar bagus dan menarik. Benar-benar menambah pengetahuan. 🙂
    Thanks a lot.

  2. Wah baru baca postingannya. Menarik sekali mas Giri,terima kasih sudah mau berbagi info. Senang bisa membacanya 🙂

  3. assalamualaikum mas gir,
    Saya anak baru di dunia blog,dan setelah membaca blog mas gir saya jadi termotivasi untuk mengejar passion saya dalam menulis,saya hanya ingin membagi apa yang saya tulis agar dapat dinikmati oleh pembaca,thanks mas gir for this spirit,mungkin sesekali berkunjung ke blog saya : dewankusmono.blogspot.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top