Memasak

Sebelum sekolah di UK, saya tidak pernah melakukan, yang namanya, kegiatan memasak. Pernah ngekos di Bandung, ya kerjaannya beli lauk dan sayur di kantin atau warung makan. Yang pernah saya lakukan di dapur, ya masak mie (membuat mie goreng), masak nasi (itupun menggunakan rice cooker), dan masak air panas (manasin sih sebenarnya). Pernah membuat nasi goreng, itupun pake bumbu jadi. Nasi yang udah siap makan tinggal ditambah bumbu instan. Jadi deh. Intinya sih ga pernah memasak.

Saya baru terlibat kegiatan masak-memasak ketika tinggal di UK. Jika harus membeli makanan secara rutin di kantin di UK, sudah pasti isi dompet akan terkuras dengan cepat. Keadaan yang memaksa saya harus bisa masak. Istri saya lah yang menjadi pembimbing dan pengajar. Di bawah arahannya, saya jadi tahu yang namanya menumis, deep fry, diungkep, dll. Saya juga jadi tahu beberapa jenis bahan masakan dan tentang proses memasak. Meskipun begitu, bukan berarti saya jadi sering memasak ya di UK. Tetap istri yang lebih sering memasak. Saya kadang-kadang saja dan lebih banyak bertindak sebagai co-chef.

Memasak

masakan istri

Seiring dengan berjalannya waktu, kini banyak para chef pria muncul di media massa. Di UK, chef-chef seperti Gordon Ramsay, Jamie Oliver, Heston Blumenthal, Marco Pierre White, dan Gino D’Acampo rutin sekali tampil di acara-acara TV. Di Indonesia juga mulai chef-chef pria tampil menawan di layar TV. Mungkin memang sudah waktunya para pria lebih rutin memasak di dalam kehidupan rumah tangga.

Masakan saya rasanya biasa-biasa saja, kalau tidak mau dibilang tidak enak. Ya seadanya. Kalau masak, ya mengandalkan resep masakan yang ada misalnya resep dari orang tua atau resep dari internet (seperti resep keluarga nugraha) kemudian ditambah dengan improvisasi-improvisasi liar. Jadi kalau masak masakan enak, lalu disuruh buat lagi, ya sudah pasti rasanya tidak akan sama. Wong pake improvisasi-improvisasi intuitif. Ya mirip-mirip bermain musik Jazz. Penuh improvisasi dan penghayatan.

Alhamdulillah masakan istri saya enak. Selain lezat, syukurnya ya beragam pula. Pernah buat nasi hainan, soto betawi, batagor, steak, dan lain-lain. Buat saya, makanan dibilang enak itu kalau ketika jumlahnya makanannya masih banyak, perasaan senang yang muncul karena ada sebuah masakan yang menarik. Dan ketika masakan enak itu jumlahnya berkurang alias habis, muncul perasaan sedih karena masakan yang enak itu telah habis. Berlaku sebaliknya, jika ada makanan yang tidak enak, ketika makanan itu masih banyak, ada perasaan sedih, “waduh banyak banget. Gimana mo ngabisin ya? udah gitu, rasanya gini lagi”. Dan ketika masakan tidak enak tadi habis, ya muncul perasaan senang “alhamdulillah makanan itu habis juga”. Ya buat saya sesimpel itu. Saya coba gambarkan kurva masakan enak seperti di bawah ini.

Memasak

Saya coba contohkan masakan enak. Istri saya pernah membuat macaroni schotel. Saya mencicipi sedikit ketika macaroni schotel-nya sudah jadi. “Sedapnya”, ucap saya dalam hati. Ketika melihat jumlahnya masih banyak, perasaan saya senang sekali. “Alhamdulillah beberapa hari ke depan ada makanan enak untuk lunch” (maklum, macaroni schotel-nya dibuat dalam ukuran besar). Seiring waktu, macaroni schotel itu pun berkurang dan habis. Sedih sekali rasanya hati ini.

Saya pernah makan di sebuah restoran timur tengah di daerah Oxford Street (lupa namanya). Iseng saya mencoba jenis makanan yang belum pernah saya coba. Walaah. Ketika dihidangkan dan saya saya cicipi, “iih,, rasanya aneh banget”. Dengan jumlah porsi yang cukup besar, saya tidak punya pilihan untuk menghabiskannya karena saya sudah membayar hampir 10 poundsterling. Perasaan saya sangat senang ketika saya berhasil makanan yang tidak enak itu menurut saya.

Seiring berjalannya waktu, kemampuan masak saya berkurang (dari tidak mampu menjadi sangat tidak mampu lagi). Semoga kelak saya kembali bisa memasak dan sanggup menghasilkan masakan yang enak dimana sangat disenangi ketika masih banyak dan dirindukan ketika sudah habis. Ketika saya berhasil mencapai titik itu, mudah-mudahan saya bisa membuka bisnis restoran. Ya, doakan saja.

Memasak

3 thoughts on “Memasak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.