Buku Digital di Indonesia

Saya adalah penikmat buku. Buat saya, membaca buku dapat membuat saya lebih tahu akan sebuah isu. Ya, lebih tahu dan bukan lebih pintar. Buktinya saya jadi banyak tahu karena saya membaca banyak buku , tapi percayalah saya tidak jadi lebih pintar karena buktinya saya ya begini-begini saja. Saya membaca buku tentang pengembangan diri (self development), keuangan, politik, biografi, sejarah, teknik, bisnis & manajemen, akuntansi, desain, arsitektur, (pernah juga) novel, fotografi, parenting, komik, dan sebagainya. Selalu menarik untuk membaca sebuah isu atau displin ilmu baru yang belum pernah kita pelajari sebelumnya. Itu bisa memperkenalkan kita dengan cara pandang atau pola kerja yang baru dan juga memperluas paradigma kita.

Saya pun menjual buku-buku koleksi saya karena rak buku saya sudah penuh. Silakan lihat di link berikut: klik jika ingin tahu koleksi buku yang saya jual. Buku-buku yang saya jual rata-rata adalah buku yang sudah saya baca dan tidak akan saya rindukan, meskipun beberapa dari koleksi tersebut sangat menarik untuk dibaca dan dimiliki. Ya, terpaksa saya jual untuk memberi ruang di rak buku saya dan juga karena sebagian sudah ada versi elektroniknya. Ya versi digitalnya. Saya adalah penggemar buku digital.

Sebelum tahun 2010, saya penikmat buku fisik. Namun, sejak saya membeli e-book reader Kindle dari Amazon ketika sedang di Inggris, saya jadi tergila-gila membaca buku digital. Perlahan saya mulai sanggup meninggalkan buku fisik, meski tak bisa saya pungkiri saya tetap membeli beberapa buku fisik yang saya rasa tidak bisa tergantikan dengan versi digital, seperti buku pop-up, buku berwarna yang ukurannya besar (saya beli buku The Beatles, Marvel dan Spiderman yang ukurannya besar dan full colour, terlalu sayang jika saya nikmati hanya seukuran 6 – 12 inci), dan buku anak-anak. Buku-buku serius seperti buku biografi, bisnis, politik, dsb; rasanya hampir sama antara membaca yang versi fisik dan yang versi digital. Hanya aroma kertas dan sentuhan kertas yang membedakan. Sisanya, ya kenikmatan yang sama.

Buku Digital di Indonesia

Salah satu koleksi buku saya

Buat saya, Amazon adalah penyedia buku digital terbaik. Sampai dengan saat ini, saya masih belanja buku digital dari Amazon meskipun membacanya sudah tidak melulu dengan Kindle. Amazon memberikan kesempatan untuk kita dapat mengakses buku digital tersebut darimana saja seperti dari Ipad, dari Smartphone, dan dari PC. Buat saya, ini adalah bookgasm! Sayang, Amazon tidak menjual buku-buku Indonesia (ada sebagian sih yang dijual di Amazon) sehingga saya harus mencari penyedia lain buku digital di Indonesia.

Buku digital di Indonesia

Saya cukup rajin mengakses Scoop untuk mencari buku digital di Indonesia. Saya merasa perlu mengimbangi antara buku US + Eropa (dari Amazon) dan buku Indonesia (dari Scoop). Terkadang buku luar Indonesia menawarkan solusi yang (rasanya) masih terlalu mengawang-ngawang atau susah diwujudkan di Indonesia. Negeri ini memiliki warna budaya sendiri dan saya merasa, beberapa buku-buku Indonesia masih menempelkan aroma tersebut sehingga buat saya, lebih masuk akal jika hendak diimplementasikan di Indonesia. Ya, saya kombinasikan antara membaca buku Indonesia dan luar negeri agar bisa saling mengimbangi.

Sayang, perkembangan buku digital di Indonesia menurut saya sangat lambat. Banyak sekali buku-buku best sellers di toko buku Gramedia yang belum ada versi digitalnya. Rasanya, hanya sedikit buku-buku best sellers tersebut yang ada di aplikasi Scoop, WayangForce, atau Scanie. Mungkin beberapa penerbit belum nyaman merilis buku digital karena berbagai halangan seperti ancaman pembajakan, investasi yang mahal, dan sebagainya. Dalam sebuah seminar,  Haidar Bagir (pemilik Mizan) mengatakan bahwa omzet penjualan mereka dari buku digital di Indonesia masih seperseribu dari buku fisik. Artinya penjualan buku digital masih sangat rendah dibandingkan dengan buku fisik. Padahal minat baca di Indonesia sudah cukup rendah (rasio baca 1:1000 dan menurut Ketua Pengurus Pusat Ikapi Lucya Andam Dewi, Indonesia berada di urutan ke-60 untuk minat baca masyarakatnya dari 65 negara). Meskipun begitu, Haidar Bagir mengatakan bahwa mereka tetap berinvestasi besar di buku digital karena menurutnya ini memang butuh waktu dan beliau yakin ke depan, perkembangan buku digital di Indonesia akan semakin baik.

Selain jumlah buku digital di Indonesia, saya juga sedikit sedih melihat aplikasi membaca buku digital di Indonesia. Alih-alih fokus di buku digital, Scoop malah membuka laman TokoBuku menjual buku fisik. Saya yakin mereka melakukan ini karena ada dorongan yang kuat misalnya bisnis buku digital di Indonesia yang lambat sehingga mereka harus menutupinya dengan pengadaan buku fisik, dsb.

Amazon menawarkan proses memiliki buku yang sangat nyaman, dari mulai hendak membeli buku sampai dengan selesai membaca buku. Pertama, kita dapat melihat review dari para pembaca lainnya mengenai buku yang akan kita beli di Amazon. Lalu, Amazon memberikan kesempatan untuk kita bisa melihat halaman depan, halaman belakang, dan bahkan beberapa halaman sebagai penarik untuk membeli buku. Dari review dan kesempatan membaca sedikit tadi, kita sudah bisa menebak semenarik apa buku ini. Ketika membeli buku digitalnya pun, kita diberi pilihan untuk kelak bisa membacanya dari Kindle, Tablet, Smartphone, dan PC. Bahkan, kita diberi waktu (meskipun tidak lama) untuk mengembalikan buku digital tersebut andai ternyata tidak sesuai dengan yang kita cari. Hebat bukan? Ketika membaca pun, kita bisa mengatur besaran ukuran huruf, tipe huruf, latar belakang halaman buku, spasi antar baris, dan meng-highlight kalimat tertentu (mungkin seperti men-stabilo kalimat tertentu di buku fisik). Bagaimana dengan aplikasi buku digital di Indonesia? Ya mungkin masih dalam proses menuju kesana.

Saya sangat berharap kelak perkembangan buku digital di Indonesia sangat maju. Dengan buku digital, saya cukup membawa 1 iPad saja dan saya bisa membaca lebih dari sepuluh buku. Jadi ketika saya bosan membaca buku A, saya tinggal intermezzo membaca buku B atau buku C. Saya tidak perlu membawa buku A, B, dan C semuanya. Semoga penerbit-penerbit semacam Kompas, KPG, Grasindo, Gramedia Pustaka Utama, Mizan, dan Elex Media Komputindo terus mengembangkan lini bisnis buku digital mereka sehingga kelak semua buku fisik ada versi digitalnya. Semoga ini dapat berdampak positif pada minat baca masyarakat Indonesia.

19 thoughts on “Buku Digital di Indonesia

  • Terima kasih atas informasi mengenai perkembangan buku digital di Indonesia. Kebetulan saya sedang mencari situs yang menjual buku berbahasa Indonesia dalam bentuk digital. Sayang sekali, tidak semudah membeli buku-buku berbahasa Inggris dan bahasa lain di Amazon.
    Dan sama seperti mas Giri, saya termasuk yang menempatkan buku di mana saja: di iPhone dan di iPad ada buku di aplikasi iBooks, lalu di Kindle tentu saja, sambil masih membawa buku dalam bentuk fisik kalau bepergian (biasanya karena lupa bawa charger Kindle).
    Salam.

    • Hi Mas Cahid,
      Pertanyaannya sangat baik, mas. Kalau ditanya keinginan, ya pasti ada. Tapi yang pasti bukan saat ini karena ada prioritas lain yang harus saya utamakan pada saat ini. Membangun bisnis butuh fokus dan fokus itu yang belum bisa saya berikan saat ini.
      Saya doakan Mas Cahid sukses. Saya siap membantu sesuai dengan kapasitas dan waktu saya. Semoga karya mas bisa menjadi pendobrak!
      Salam,
      Giri

    • Hi Mas Cahid,
      Saat ini saya ada prioritas lain yang harus saya utamakan. Saya doakan Mas Cahid sukses. Saya siap membantu sesuai dengan kapasitas dan waktu saya. Semoga ada investor lain yang bisa hadir berkolaborasi lebih erat dengan Mas Cahid
      Salam,
      Giri

  • akuu mulai suka sama buku, tapi paling suka sama buku buku non fiksi,
    kalo lagi pengen punya buku tapi belum kebeli, aku biasnya buka aplikasi play book di hpeee hiihi,
    Tapi tetep masih pengen beli buku fisiknyaa 😀

    • Halo Priatna,
      terima kasih informasinya. Menarik sekali dibuat dalam bentuk pdf. Sayang, buku2nya mayoritas hanya terbitan Tempo. Mungkin bisa berkolaborasi dengan penerbit lain 🙂
      Salam,
      Giri

  • Buku-buku Indonesia yang di amazon juga banyak yang belum digital sih..
    Well, prosesnya emang agak lama pastinya..Apalagi ini mengubah kultur membaca disni..
    Pake kertas aja susah, apalagi pake tablet yang biasa dipake buat ngegame..

  • Saya samapai di web mas ini karena pertanyaan yang sama di hati. Tapi, menurut saya, buku2 di amazon itu banyak self publishing. Mengapa kita sebagai warga Indonesia tidak mencoba menghadirkan warna baru di amazon, atau apakah amazon sendiri yang tidak menerima naskah Indonesia atau bagaimana? Thanks

    • Hi OD,
      Terima kasih telah berkunjung.
      Saya pernah melihat beberapa e-book kindle dari Indonesia. Rasanya memungkinkan untuk post ke sana. Saya sendiri tidak tahu mengenai prosedur memasukkan naskah di Amazon. Ya, harapannya kalau anak bangsa bisa membuat app sendiri, kenapa kita harus memasukkan ke Amazon? :). Semoga bangsa Indonesia terus membangun dan berkembang.
      Sukses selalu!
      Giri

  • Terimakasih , mas Giri, atas pencerahannya.
    Saya lagi cari2 info ttg buku berbahasa Indonesia di Kindle dan kebetulan ketemu info ini.
    Ternyata susah yaa ..
    Buat saya yang tidak tinggal di Indonesia, pulang mudik yang belum tentu setahun sekali, pasti saya manfaatkan untuk ke Gramedia beli buku2, tapi akibatnya koper saya overweight, selain penuh juga dengan bumbu2 masak Indonesia.
    Ada beberapa buku karya Pramoedya yang ada di Kindle, tapi ya itu saja. Kapan ya buku2 bermutu lainnya bisa ditemukan di Kindle..

    • Halo Mbak Novie,
      Terima kasih sudah mampir. Aplikasi GetScoop sekarang membaik, banyak buku bagus sudah ada disana dan mereka punya paket premium (kayak unlimited di Kindle). Bahkan beberapa buku bagus pun masuk ke dalam paket premium. Jadi dengan membayar sekian ribu per bulan, kita bisa membaca majalah dan buku bagus sepuasnya.
      Ya, secara aplikasi, scoop mungkin belum secanggih Kindle. Tapi, mudah2an bisa ke arah sana. Untuk koleksi buku pun, tidak semua buku yg dijual toko buku fisik seperti Gramedia ada di Getscoop. Tapi menurut saya, koleksi bukunya sudah lebih baik daripada beberapa tahun yg lalu.
      Salam,
      Giri

  • Promosi buku digital sangat sangat kurang disampaikan kpd masyarakat khususnya mahasiswa,…
    Solusi terbaik agar minat baca melalui buku elektronik ini dapat meningkat adalah dgn cara yg sangat sederhana,yaitu dgn cara door to door
    Atau istilah lainnya Jemput Bola. Dgn menggunakan hal spt itu maka informasi mengenai lambatnya perkembangan minat baca utk e.book. dpt diketahui krn adanya kontak langsung dgn masyarakat. Info dari mereka dpt dijadikan masukan bagi mereka yg menginvestasikan di Usaha buku elektronik
    Demikian pendapat sederhana yg bisa saya sampaikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.