Patuh Hukum

Suatu hari saya menonton sebuah film dan pada salah satu adegannya ada monolog, “Hidup ini keras dan penuh dengan ketidakadilan. Terkadang, menjadi (orang) baik, tidak menjamin keberhasilan”.  Digabung dengan observasi nyata di lapangan, saya terdorong untuk menulis artikel dengan judul patuh hukum ini. Artikel ini sama sekali bukan artikel ilmiah. Hanya artikel ringan dari seorang saya.

Seminggu sebelum ini, teman saya menulis di akun sosial medianya, yang mempertanyakan tingkah laku seniornya yang sudah berpendidikan sangat tinggi namun perilakunya tidak menggambarkan kematangannya dalam bersikap. Dia mempertanyakan korelasi pendidikan dan perilaku. Apakah seseorang yang sudah mengambil S3 lantas perilakunya sangat dewasa.

Disini saya mempertanyakan korelasi pendidikan dan patuh hukum. Apakah dengan tingginya tingkat pendidikan seseorang maka semakin tinggi pula tingkat kepatuhannya terhadap hukum? Apakah seseorang yang lulus S1 lebih patuh hukum daripada seseorang yang hanya lulus SD? Hipotesis ini tidak akan saya pecahkan secara ilmiah. Tidak akan ada peneliatan yang valid dan reliable yang saya sempat lakukan. Biarlah ini menjadi tanya tanpa jawab.

Patuh Hukum

Saya coba ambil perilaku patuh hukum teman-teman saya di jalan raya di Jakarta. Saya punya teman, lulusan S2. Artinya berpendidikan ya? Jika di dalam tol sedang macet, dia akan memilih berkendaraan di bahu jalan biar cepat sampai. Katanya lewat bahu jalan dan tidak lewat bahu jalan, sama-sama tidak dihukum. Enakan lewat bahu jalan, bisa lebih cepat sampai. Patuh hukum? Biar realita yang menjawab.

Saya punya teman lulusan S1 dari kampus yang konon terbaik di Indonesia dan juga memegang S2 dari luar negeri. Dia pun tak segan untuk masuk jalur busway jika jalanan sedang macet. Saya punya teman, lulusan S1 dari kampus terbaik Indonesia lainnya. Baginya pun, lampu merah tak salah diterobos jika tak ada polisi dan tidak membahayakan. Yang paling signifikan dan sering kita lihat di media massa, ya oknum pengguna motor yang sering berhenti di zebra cross, masuk jalur busway, menerobos lampu merah, tidak menggunakan helm, naik trotoar, dsb. Saya rasa sebagian (kecil) dari mereka berpendidikan cukup, baik dari tahap SMP, SMU, D3, maupun S1. Di Jakarta yang keras ini, banyak orang yang melakukan berbagai cara untuk bisa mencapai tujuannya dengan lebih cepat, tak peduli apa ‘biaya’-nya. Jika memang hukum harus dilanggar namun tak berkonsekuensi, ya maka akan dilanggar.

Yang di atas baru mengambil contoh di kehidupan lalu lintas. Selain itu, masih banyak lagi. Membeli barang bajakan, mendownload hal ilegal, tidak membayar pajak, dan lain sebagainya. Ya, biarlah menjadi rahasia publik.

Patuh Hukum
Dredd: I am The Law
(sumber: http://www.promisesgame.com/1/policies/)

Saya sangat sedih melihat teman-teman saya yang berpendidikan tinggi namun tidak patuh hukum. Ketika di sekolah, seorang manusia idealnya diajarkan untuk menghormati manusia lainnya. Kita tidak hanya mengejar nilai rapor, namun juga mengejar nilai kemanusiaan. Di sekolah, seseorang diajarkan untuk menjadi seorang manusia. Bahkan di kurikulum zaman orde baru, kita diharapkan menjadi manusia pancasila seutuhnya. Sangat disayangkan ketika teman-teman yang sudah mengecap bangku sekolahan ini lantas tidak bisa menghormati hukum. Seharusnya orang-orang yang berpendidikan menjadi teladan untuk sikap patuh hukum.

Dari hasil observasi singkat saya, menurut saya tingkat pendidikan seseorang tidak selamanya berbanding lurus dengan sikap patuh hukum. Ketika masyarakat kita sudah dipenuhi ego yang tinggi dan sikap oportunis, hanya benteng penegakan hukum yang bisa menjadi senjata terakhir. Tak peduli berpendidikan atau tidak, selama hukum bisa ditegakkan dengan seadil-adilnya, saya yakin kita semua bisa menjadi masyarakat dan negara yang lebih baik.

Bayangkan jika seseorang yang patuh hukum dan tidak patuh hukum tidak ada perbedaannya?! Seseorang yang menerobos jalur busway atau berkendara di bahu jalan akan sampai di rumah terlebih dahulu dibanding orang yang patuh hukum; dan mereka tidak akan dikenakan hukuman apa-apa. Perlahan, masyarakat kita bisa-bisa semuanya akan menerobos jalur dan berkendara di bahu jalan.

Mungkin benar kata film itu, dunia ini tidak adil. Di dunia yang kejam ini, menjadi orang baik belum tentu berujung keberhasilan. Semoga pesimisme saya ini salah. Semoga…

(featured image: http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Stop_sign.png)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to Top