Malas belanja online

Artikel malas belanja online ini terinspirasi dari pengalaman saya sendiri melakukan belanja online. Setelah beberapa kali melakukan belanja online dari e-commerce Indonesia, jujur saya menjadi malas belanja online.  Ada 2 faktor utama yang membuat saya menjadi sangat malas belanja online. Kedua faktor tersebut akan saya jelaskan lebih detail nanti. malas belanja online

Jika kita merujuk pada artikel-artikel di ranah digital (salah satunya di tabloid Nova), ada banyak sekali keluhan dari para pelaku belanja online terutama pembeli. Isu-isu tersebut antara lain perbedaan antara display dan produk yang diterima, keamanan pembayaran belanja online, penipuan, dan sebagainya. Saya sendiri tidak ada masalah dengan keamanan dan penipuan karena saya berusaha untuk waspada melakukan transaksi online. Saya selalu bertransaksi dari device pribadi saya, memastikan bahwa websitenya ada SSL atau certified secure, dan sebagainya. Untuk produk yang mahal atau perlu saya pegang langsung bendanya, saya biasanya menggunakan sistem COD (Cash on Delivery), bayar langsung di tempat. malas belanja online

Malas belanja online
Belanja online (source: https://www.flickr.com/photos/melenita/15086864676)

Malas belanja online

Ada 2 alasan utama saya kenapa saya menjadi malas belanja:

 1. Tidak Selalu Lebih Murah

Saya pernah membeli mainan bayi di salah satu e-commerce. Saya sempat melihat-lihat di e-commerce lain, barang tersebut sedang habis. Waktu pun berlalu dan suatu hari, saya bermain ke salah satu department store di Jakarta Pusat. Mainan yang saya beli online ternyata ada di department store. Sedihnya, harga mainan yang tertera di department store tersebut lebih murah sekitar lima puluh ribu rupiah dibandingkan dengan yang ada di e-commerce. Sebagai pembenaran, saya berkata dalam hati, “ah mungkin barang ini memang langka dan baru masuk ke department store ini”. Saya coba menjelajah lagi di e-commerce lain dan memang mainan tersebut masih out of stock. Di hari yang lain, saya pergi ke department store lain di Jakarta Selatan dan ternyata mainan bayi, yang out of stock di dunia online, ada di dunia fisik. Dan lagi-lagi, harganya tidak jauh beda dengan yang ada di department store sebelumnya. Dengan kata lain, harganya masih lebih murah daripada beli online. Saya terkejut dan sedih karena saya membeli 2 produk barang mainan. Saya menyesal tidak melihat-lihat dulu di toko baru membeli onlinemalas belanja online

Suatu hari, saya bermaksud membeli Green Lego Duplo Baseplate untuk anak saya. Di sebuah e-commerce yang sangat ternama di Indonesia, harganya Rp 340.000. Saya tertarik dan menaruhnya pada wish list saya. Belajar dari masa lalu, saya berkunjung ke Central Grand Indonesia dan menemukan produk yang sama dengan harga seratus ribu lebih murah. Buat saya, disparitas harganya sangat luar biasa. Semenjak itu, gairah berbelanja online saya menurun drastis. Saya menjadi malas belanja online.

Sebagai perbandingan (meskipun cukup naif karena tidak apple to apple), selama saya di Inggris, tidak ada satupun barang yang saya beli secara online lebih mahal daripada barang yang ada di toko nyata. Barang yang saya beli dari Amazon atau Argos selalu lebih murah. malas belanja online

Malas belanja online

Salah satu pembeda yang cukup nyata adalah biaya kirim. Jika berbelanja online di Inggris, biaya kirimnya bisa gratis meskipun konsekuensi pengiriman lebih lama. Jika mau lebih cepat, harus memilih yang bayar. Di Indonesia, banyak e-commerce yang tidak menggratiskan biaya kirim. Jadi jika harga barang di e-commerce harganya Rp 10 ribu lebih murah, tapi biaya kirim Rp 8 ribu; ya artinya hampir sama dari sisi harga (kecuali mau beli dalam jumlah banyak). malas belanja online

Seperti yang sudah saya tulis, barang online tidak selalu lebih murah, bukan berarti ‘pasti lebih mahal’. Artinya masih ada (mungkin masih sangat banyak) barang yang lebih murah jika belanja online. Hanya saja, saya selalu sial mendapatkan harga barang yang lebih mahal di e-commerce. Karena itulah, jujur saja, saya menjadi malas belanja online jika harus selalu melakukan perbandingan barang online-offline dulu sebelum bertransaksi. Padahal alasan saya berbelanja online pada dasarnya supaya saya tidak repot. Jika pada akhirnya, saya harus repot-repot segala, artinya ada yang salah. malas belanja online

2. Pelayanan Mengecewakan

Saya pernah memesan ‘HDMI 30Pin Cable to Apple iPad – Putih’ di Lazada Indonesia dengan nomor pesanan 346871372. Dua hari setelah memesan, barang yang datang ke rumah saya adalah Capdase Sport Car Mount Flyer Universal Mobile Holder For Smartphone (OEM). Saya tertegun, kesal, dan marah dengan barang yang saya terima. Apa yang saya pesan tidak saya dapatkan. Saya malah mendapatkan barang yang sama sekali tidak saya butuhkan.

Saya mencoba mengajukan keluhan ke Lazada dan mereka malah meminta saya untuk mengirimkan kembali ke mereka. Saya marah-marah karena saya tidak mau repot-repot ke jasa pengiriman untuk mengirimkan benda yang Lazada (dan/atau network dari Lazada) sendiri salah kirim. Saya minta mereka yang mengambil, bukan saya yang mengirim. Hampir satu bulan, akhirnya ada jasa ekspedisi yang mengambil barang salah tersebut. Saya bersyukur ada yang mengambil. Awalnya, saya was-was tidak akan ada yang pernah mengambil barang yang salah ini alias hanya janji manis saja.

Sebelumnya, pihak Lazada mengatakan akan mengambil barang yang salah tersebut dan nanti akan mengirimkan lagi pesanan yang seharusnya. Tidak ada informasi apa-apa, tiba-tiba Lazada menginformasikan bahwa mereka akan me-refund biaya saya. Saya bingung karena awalnya mereka bilang akan mengirimkan ulang barang yang benar. Setelah saya tanya-tanya, barulah mereka menginformasikan bahwa barang sedang out of stock.

Saya tidak habis fikir, kenapa Lazada tidak menginformasikan kepada saya dulu bahwa barang sudah tidak ada dan baru mereka menginformasikan akan me-refund. Bukan seperti ini, yang tiba-tiba menginformasikan akan me-refund tanpa ada pemberitahuan apa-apa sampai akhirnya saya menghubungi mereka. Saya sangat kecewa dan ini membuat saya malas belanja online.

Malas Belanja Online
Hasil Pesanan Lazada Indonesia

Sebelum kisah ini, saya pernah membeli furniture bongkar-pasang dari salah satu e-commerce (namanya tidak saya sebutkan karena saya sudah berjanji). Saya memesan barang dan melakukan pembayaran dengan Mandiri Clickpay. Dua hari berlalu, tidak ada pengiriman. Padahal di website tertulis pengiriman memakan waktu 2 hari. Empat hari berlalu tanpa kabar dan akhirnya saya menelpon langsung. Baaam… kata mereka, kita belum menerima pembayarannya. Saya sangat kesal karena saya membutuhkan produk itu segera. Saya marah-marah menginformasikan bahwa saya sudah membayar. Akhirnya, setelah mereka lihat di sistem Mandiri mereka, ternyata benar saya sudah melakukan pembayaran. Mereka bilang mereka akan mengirimkan barang dalam waktu 2 hari. Karena saya membutuhkan barang itu segera, saya memohon kepada mereka agar bisa dikirimkan besok. Mereka tetap menyatakan tidak bisa karena aturannya 2 hari meskipun jelas-jelas itu kesalahan mereka. Setelah marah-marah (lagi) dan berbicara dengan managernya, akhirnya sang manager (yang mungkin business owner) bersedia mengirimkan barang tersebut keesokan harinya.

Kisah lainnya, saya pernah membeli buku dari laman toko buku terbesar di Indonesia. Tertulis bahwa buku yang ingin saya beli In stock. Saya pun memesan dan membayar. Selang beberapa hari kemudian, saya diinformasikan ternyata buku out of stock dan mereka akan melakukan refund. Saya iseng melihat lamannya lagi dan ternyata masih tertulis bahwa In stock alias mereka tidak melakukan pengkinian data segera. Seharusnya ketika mereka tahu bahwa ada produk yang out of stock, mereka harus langsung menggantinya agar tidak ada ‘korban-korban’ berikutnya seperti saya. Sungguh amat mengesalkan jika kita sudah bersemangat membeli buku tapi kemudian semangat kita dijatuhkan dengan alasan persediaan buku sudah habis. Benar-benar membuat saya malas belanja online, bahkan dari perusahaan ternama sekaligus.

Peristiwa-peristiwa di atas membuat saya sangat kecewa dengan pelayanan e-commerce di Indonesia. Ini yang membuat saya semakin malas belanja online. Saya harus selalu marah-marah jika ingin direspon dengan cepat. Jika saya tidak marah-marah, responnya seperti setengah hati.

Saya coba bandingkan dengan e-commerce terbesar di Inggris perihal pelayanan. Saya pernah memesan sebuah produk dan saya salah menuliskan alamat saya. Artinya kesalahan bukan berasal dari e-commerce, tetapi dari saya. Karena mereka memiliki misi untuk memastikan bahwa produk pasti sampai di customer, mereka mengirimkan kembali produk tersebut ke rumah saya dengan alamat yang benar. Hebatnya, produk ini saya pesan dari Inggris untuk dikirimkan ke Indonesia. Mereka tidak peduli produk yang sebelumnya dikirimkan ke alamat yang salah sekarang berada dimana, tetapi sesuai dengan janjinya, mereka memastikan saya mendapatkan apa yang seharusnya saya dapatkan dengan cara mengirimkan ulang langsung dari Inggris. Saya sangat kagum dan angkat topi untuk e-commerce ini.

COD sebagai pilihan terbaik untuk menghindari kesalahan penerimaan barang, menurut saya, juga tidak tepat. COD, pada berbagai kesempatan, malah bisa merepotkan saya. Seperti yang saya utarakan sebelumnya, saya memilih belanja online supaya ringkas, cepat, dan hemat; bukan untuk lambat, repot-repot, dan mahal. Jika pada akhirnya malah lebih mahal dan saya harus repot-repot (apalagi harus marah-marah), lebih baik saya memilih cara yang konvensional.

Buat saya, e-commerce di Indonesia masih dalam proses menuju ke titik yang lebih baik. Masih banyak sisi di dunia digital business yang perlu dibenahi, misalnya dari sisi regulasi (perlindungan konsumen), pelayanan, dan sebagainya. Kualitas e-commerce di Indonesia masih sangat jauh jika dibandingkan dengan negara pelopor bisnis online. Per saat ini, saya berada di titik tertinggi dalam hal malas belanja online.

Pelayanan yang mengecewakan dan harga yang tidak selalu lebih murah membuat saya berfikir untuk berbelanja online. Meskipun begitu, saya tetap akan berbelanja online jika saya rasa memang perlu, seperti membeli barang bekas di Kaskus.  Saya sudah beberapa kali membeli barang bekas di kaskus dan saya merasa cukup puas karena saya langsung bertatap muka dengan sang penjual dan juga harganya bersahabat, meskipun saya harus repot-repot menyesuaikan tempat. Semoga suatu saat nanti pelayanan e-commerce di Indonesia memuaskan dan harganya selalu lebih murah sehingga saya tidak malas belanja online lagi. Semoga itu akan terjadi segera.

One Response

  1. Ada banyak alasan orang belanja di Lazada Indonesia, selain malas keluar rumah akibat macet, juga karena malas antri atau bahkan malas nawar. Memang toko online saat ini menjadi tren baru bagi sebagian besar kaum muda yang melek teknologi. Kepercayaan juga kian tinggi terhadap online stor. Dan asal tahu saja, harga property khusunya ruko buat display barang dagangan saat ini sedikit banyak tertekan oleh maraknya online store dengan pertumbuhan jumlah pembeli yang kian pesat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to Top