Sang Dirigen: Perjalanan Jahja Setiaatmadja Hingga Menjadi CEO BCA

Sebagai seorang yang pernah berkarir di dunia perbankan dan saat ini berhubungan erat dengan dunia akuntansi, saya sangat tertarik membaca buku Sang Dirigen Perjalanan Jahja Setiaatmadja Hingga Menjadi CEO BCA. Jahja Setiaatmadja merupakan CEO dari salah satu Bank terbesar di Indonesia saat ini dan merupakan lulusan akuntansi dari FE UI. Saya tergoda membaca biografi beliau untuk mengetahui perjalanan karirnya dari mulai akuntan hingga akhirnya menjadi orang nomor satu di BCA.

Sang Dirigen Perjalanan Jahja Setiaatmadja Hingga Menjadi CEO BCA

Jahja Setiaatmadja terlahir dengan nama Tio Sie Kian dan merupakan anak satu-satunya dari pasangan Tio Keng Soen dan Tan Giok Kiem. Pada usia 11 tahun, Tio Sie Kian mengubah namanya dari hasil pilihan sendiri menjadi Jahja Setiaatmadja yang berarti ‘Jahja putra yang setia’.

Jahja lahir dari keluarga yang sangat sederhana dimana ayahnya merupakan kasir di Bank Indonesia. Meskipun bekerja di Bank Indonesia, gaji yang diterima sang ayah hanya pas-pasan untuk hidup. Mereka sering berpindah-pindah tempat tinggal dari mulai menumpang di rumah mertua, menumpang rumah tua sang ayah bersama keluarga besar lainnya, punya ‘rumah sendiri’ di sebuah kebun milik kerabat beratapkan seng, sampai rumah petak.

Semasa kecil, Jahja menderita penyakit Asma berat dan cukup terganggu oleh karenanya. Setiap hujan turun dan udara menjadi dingin, Jahja hampir pasti terserang batuk dan membuat asmanya kambuh. Meski sakit-sakitan, prestasinya sangat menonjol terlihat dari juara kelas yang selalu diraihnya. Jahja beruntung karena pamannya, dokter dan ahli akupunktur, menjalankan praktik penyembuhan penyakit asma Jahja. Sepulang sekolah, Jahja harus kuat menahan jarum-jarum panjang di kaki, tangan, punggung dan titik-tik lain sampai dengan 25 batang jarum. Seiring berjalan waktu, Jahja akhirnya sembuh berkat tangan dingin si Om dan mukjizat dari Tuhan.

Semasa di SD dan SMP, Jahja sangat aktif di acara keagamaan. Selain itu, Jahja juga aktif berolahraga seperi karate, ping-pong, dan voli. Jahja  pernah mengalami trauma jatuh dari bermain becak yang membuat bibirnya robek dan berdarah-darah. Semenjak itu, Jahja menghindari berantem karena takut akan luka yang pernah didapatkannya dan memilih lingkungan pertemanan yang jauh dari kekerasan.

Jahja sudah menggunakan kacamata sejak 4 SD akibat kebiasaannya membaca buku dengan jarak baca yang salah atau karena kurang cahaya. Pada satu hari, ketika masih di sekolah, ada seorang anak dari kelas lain yang iseng melempar batu ke arah Jahja dan teman-teman sekelasnya. Lemparan batu tersebut tepat mengenai kacamata Jahja sehingga menyebabkan beberapa pecahan beling masuk ke matanya. Setelah diperiksa oleh dokter, selain pecahan beling, ternyata dokter menemukan bahwa Jahja memiliki bibit penyakit trachoma yang dapat menyebabkan kebutaan. Peristiwa kacamata pecah ternyata membawa dampak yang sangat besar untuk Jahja. Andai peristiwa itu tidak pernah terjadi, sangat mungkin Jahja akan mengalami kebutaan.

Lulus SMA, Jahja ingin mengambil jurusan kedokteran. Namun keinginan tersebut diurungkan karena keterbatasan finansial yang dihadapi oleh si ayah. Begitu pula dengan jurusan teknik yang diminatinya. Sang ayah menyarankan Jahja untuk mengambil kuliah di jurusan ekonomi karena lebih terjangkau. Jahja pun menurutinya dan kemudian bermaksud berkuliah di Trisakti atau Untar karena kedua kampus tersebut populer di saat itu. Lagi-lagi, karena keterbatasan keuangan, akhirnya Jahja memiliki berkuliah di UI dan berhasil menembusnya.

Buku Sang Dirigen Perjalanan Jahja Setiaatmadja Hingga Menjadi CEO BCA

Buku Sang Dirigen Perjalanan Jahja Setiaatmadja Hingga Menjadi CEO BCA

Selama masa kuliah akuntansi di UI sejak tahun 1974, Jahja sangat fokus belajar dan aktif pada kegiatan keagamaan. Sebagai mahasiswa cerdas dan rajin, Jahja berhasil menyelesaikan masa kuliah lebih cepat yakni 4,5 tahun dari waktu normal 5 tahun. Adanya NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus / Badan Koordinasi Kemahasiswaa) dimanfaatkan Jahja dengan mengambil seluruh mata kuliah tingkat V hanya dalam waktu 6 bulan. Meski singkat (6 bulan), Jahja berhasil menguasai mata kuliah 1 tahun berkat kecerdasan dan kerja keras yang konsisten dilakukannya.

Lulus kuliah, Jahja sempat bekerja sebagai junior accountant di Pricewaterhouse. Meski hanya digaji Rp 60.000/bulan, Jahja menunjukkan ketekunannya dalam bekerja. Ia tidak pernah menolak jika diberikan pekerjaan tambahan dan tidak pernah mengeluh. Untuk menambah penghasilan, Jahja tidak ragu untuk sambilan menyewakan kaset video milik rekannya. Tanpa diduga, kegiatan menyewakan video ini mempertemukan Jahja dengan Rudy Capelle (alm), Direktur dari PT Kalbe Farma pada saat itu. Setelah satu tahun di Pricewaterhouse, Jahja pindah ke Kalbe Farma karena network yang dimiliknya. Karirnya terus menanjak sampai menjadi senior manager atau chief accountant. Pada tahun 1989, Jahja bergabung dengan Indomobil menjadi direktur keuangan. Jahja selalu rendah hati dan mensyukuri nikmat yang diperolehnya.

Berada di grup Salim, membawanya kemudian menerima tawaran menjadi Wakil Kepada Divisi Keuangan di BCA. Meski turun dari posisi direktur menjadi wakil kepala divisi, fasilitas yang diperolehnya tidak kalah mentereng. Jahja mengatakan bahwa ini proses ‘mundur untuk bisa lebih maju lagi’. Enam tahun kemudian, Jahja diangkat menjadi Kepala Divisi treasury dan pada tahun 1999, ia diangkat menjadi direktur BCA. Pada tahun 2005, Jahja diangkat menjadi Wakil Presiden Direktur BCA dan akhirnya menjadi Presiden Direktur BCA pada tahun 2011 sampai dengan sekarang.

Perjalanan karirnya mencapai puncak tentulah tidak mudah. Jahja bahkan bisa bekerja selama 12 jam sehari. Loyalitasnya kepada BCA sangat tinggi terlihat dari karirnya selama 21 tahun di BCA sebelum diangkat menjadi Presiden Direktur. Bagi Jahja, memimpin sebuah organisasi itu seperti menjadi sang dirigen dalam satu orkestra. Ia mengingingkan terciptanya suatu harmonisasi kerja di BCA, seperti halnya seorang dirigen  menginginkan perpaduan berbagai alat musik yang harmonis saat memainkan sebuah lagu. Untuk membangun harmonisasi itu, sangat diperlukan komunikasi yang hanya bisa dijalankan jika dipimpin oleh seorang dirigen yang tepat.

Selama masa kepemimpinan Jahja di BCA, sangat banyak kemajuan dan prestasi yang diraih BCA seperti menjadi Bank swasta dengan aset dan laba terbesar. Tidak hanya itu, Jahja juga dianugerahi berbagai penghargaan personal seperti CEO of The Year dan Top Admired CEO.

Kehidupan Keluarga

Buku ‘Sang Dirigen Perjalanan Jahja Setiaatmadja Hingga Menjadi CEO’ ini juga memuat kisah Jahja berkenalan dan bertemu dengan sang istri, Winny. Buku ‘Sang Dirigen Perjalanan Jahja Setiaatmadja Hingga Menjadi CEO BCA’ ini menceritakan bagaimana Jahja bisa mencuri hati sang istri dan juga mertua melalui karisma dan sikap pengertiannya. Tak lupa, kisah anak-anaknya juga dibahas di buku ‘Sang Dirigen Perjalanan Jahja Setiaatmadja Hingga Menjadi CEO’ ini. Kedua anak Jahja, Liza dan Enrica, juga mengambil kuliah jurusan akuntansi karena dorongan sang ayah. “Dengan menguasai akuntansi, setelah bekerja, kamu akan mengetahui seluk-beluk perusahaan. Jurusan management memang tampak keren, tetapi biasanya tidak punya skill khusus”, saran sang ayah. Jahja merupakan ayah dan kepala keluarga yang baik. Meski sangat sibuk, Jahja selalu menginginkan kehidupan yang balance antara pekerjaan dan keluarga.

Review Buku

Buku ‘Sang Dirigen Perjalanan Jahja Setiaatmadja Hingga Menjadi CEO’ ini mengajak kita memahami dan menyelami perjalanan karir seorang Jahja Setiaatmadja dari kecil hingga menjadi the best CEO dan the best Opa. Kerja keras, komunikasi, selalu menghormati orang, dan tidak pernah menyerah adalah nilai-nilai yang bisa kita peroleh dari isi buku ‘Sang Dirigen Perjalanan Jahja Setiaatmadja Hingga Menjadi CEO BCA’ ini.

Bagi saya, kisah luar biasa seorang Jahja Setiaatmadja tidak dibahas terlalu mendetail dalam buku ini. Terjadi beberapa pengulangan kisah dari artikel khusus ‘kisah dari sahabat’ ke dalam bab tertentu dalam buku sehingga membuat saya bertanya-tanya, “bukannya tadi saya sudah membaca cerita ini?”. Jika melihat buku biografi orang hebat lainnya, buku ini rasanya terlalu tipis. Tidak banyak pengetahuan bisnis yang dibagi oleh penulis pada buku ‘Sang Dirigen Perjalanan Jahja Setiaatmadja Hingga Menjadi CEO BCA’ ini. Meski begitu, dari buku ini kita bisa tahu bahwa tidak ada hasil yang indah dapat diraih tanpa pengorbanan dan kerja keras. Jahja Setiaatmadja sudah menunjukkan hal tersebut. Dengan membaca buku ‘Sang Dirigen Perjalanan Jahja Setiaatmadja Hingga Menjadi CEO’ ini, kita bisa belajar dari pengalamannya mengarungi kehidupan yang keras ini demi mencapai kesuksesan.

Saya menjual buku bekas Sang Dirigen Perjalanan Jahja Setiaatmadja Hingga Menjadi CEO ini di akun tokopedia saya (klik berikut: link)

3 thoughts on “Sang Dirigen: Perjalanan Jahja Setiaatmadja Hingga Menjadi CEO BCA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *