Sukses melalui kemandirian atau pemberian

Setelah membaca sebuah biografi seorang pebisnis Indonesia, saya jadi ingin menuliskan sesuatu di blog ini. Pebisnis ini menyatakan bahwa hidupnya penuh dengan perjuangan, padahal menurut saya banyak kemudahan yang secara tidak sadar diraihnya yang kelak sangat membantunya meraih kesuksesan. Di artikel ini, saya tidak ingin membahas mengenai si pebisnis ini. Banyak hal yang sebenarnya membantu seseorang dalam meraih sukses, tetapi kadang-kadang luput mendapatkan ‘penghargaan’. Seseorang bisa menjadi sukses melalui kemandirian atau pemberian. Itulah yang ingin saya sampaikan di artikel ini.

Saya membandingkan 2 teman saya. Keduanya sama-sama kuliah di kampus yang sama. Keduanya juga duduk di jurusan dan tahun yang sama. Keduanya juga sama-sama menyelesaikan kuliah dalam waktu 4 tahun. Keduanya sama-sama pintarnya. Keduanya juga sama-sama memulai pekerjaan di level dan kantor yang sama. Keduanya juga hingga kini masih tinggal di rumah orang tua mereka masing-masing. Namun, kini salah satu dari mereka sudah berada di posisi yang lebih baik secara pekerjaan dan apresiasi hidup. Satu hal yang menjadi pembeda mereka adalah latar belakang ekonomi mereka. Si A berasal dari kelas ekonomi menengah-atas sementara si B dari kelas ekonomi bawah.

Sukses melalui kemandirian atau pemberian

Bangun tidur, si A langsung mandi menggunakan shower dengan suhu air yang pas. Menyegarkan sekali rasanya bisa mandi dengan suhu yang tidak terlalu dingin dan juga tidak terlalu panas. Setelah mandi, si A sudah mendapatkan sarapan yang disediakan oleh si mbak. Setelah sarapan, si A pergi ke kantor menggunakan mobil pemberian orang tuanya. AC berhembus dan memberikan kenyamanan bagi si A yang sedang mendengarkan lagu-lagu top 40 dari radio ternama. Tidak banyak energi si A yang terkuras ketika tiba di kantor. Energinya masih fit 95%. Lima persen menghilang karena sedikit ‘letih’ menembus kemacetan.

Sementara itu, si B punya aktifitas yang berbeda. Bangun tidur, si B harus mandi dengan air yang sangat dingin. Tidak hanya itu, terkadang juga air tidak keluar, sehingga si B harus melakukan sesuatu sebelum mandi. Sarapan? Ya kadang ada, kadang tidak ada. Setelah itu, si B harus bergegas ke kantor menggunakan transjakarta yang sangat dibanggakan itu. Si B harus berjalan dari rumah menuju halte melalui halang rintang trotoar dan debu-debu pembuangan kendaraan bermotor. Sampai halte, si B masih harus menunggu entah sampai kapan. Setelah bus tiba, itupun harus berdempet-dempetan dan jelas sangat menguras tenaga. Tiba di kantor, energi si B sudah 80%. Terkuras banyak untuk persiapan di pagi hari. Dari sini saja, sudah terlihat bahwa si A lebih beruntung dari si B. Sama-sama tiba di kantor pukul 8, tetapi si A masih punya energi 95% dan si B 80%.

Si A dan si B pun bekerja sampai dengan malam. Si A pulang ke rumah menggunakan mobil sembari menikmati siaran radio ternama yang penuh dengan canda mengurangi beban stres pekerjaan. Si B pulang dengan transjakarta yang, seperti kita tahu, sangat susah untuk diprediksi kapan datangnya. Sampai di rumah, A langsung mandi (lagi-lagi dengan air hangat) dan disambut makan malam yang sudah tersedia. Sementara, si B sampai rumah masih harus membantu ibunya menyiapkan makanan, mandi  (itupun kalau sempat), dan membantu adik-adiknya. Karena segala sesuatu sudah disediakan di rumah, si A punya waktu kosong di malam hari. Si A masih sempat untuk membaca buku menambah pengetahuannya. Si A banyak membeli buku karena gajinya utuh menjadi milik si A. Si B, setelah makan malam, masih harus membantu ibu mencuci piring. Setelah itu, si B sangat letih. Sayangnya, si B juga tidak punya banyak buku bacaan karena gajinya digunakan untuk membantu orangtuanya.

Dari sini, bisa terlihat kenapa si A punya ‘kemewahan’ yang menyebabkannya bisa melejit dengan cepat secara pekerjaan. Kemewahan energi, waktu, dan finansial dimanfaakan dengan baik si A. Banyak membaca sangat membantunya melewati halangan-halangan dalam pekerjaan. Si B, yang punya motivasi dan semangat yang sama dengan si A, banyak mengalami batu-batu kerikil.

Cerita di atas menggambarkan ternyata banyak sekali hal yang menjadi faktor sukses seorang. Si A bisa saja mengatakan bahwa dia sukses karena dia bekerja keras. Ya betul dia bekerja keras, tetapi jangan lupa dia juga mendapat banyak ‘kemewahan’ yang belum tentu diterima semua orang. Seseorang bisa sukses melalui kemandirian atau pemberian.

Meraih Sukses

Pada artikel ini, saya tidak mengajak orang-orang seperti si B untuk kemudian iri kepada si A. Banyak sekali orang seperti si B, yang berasal dari kelas ekonomi bawah, kemudian bisa melesat menjadi CEO perusahaan multinasional baik di Indonesia, maupun di luar negeri. Setiap orang punya kesempatan meraih sukses melalui kemandirian atau pemberian.

Jika kamu terlahir seperti si A, kamu harus bersyukur. Manfaatkan dan optimalkan segala hal yang kamu miliki, selalu bersyukur kepada-Nya, dan jangan lupa untuk berbagi. Namun, jika kamu seperti si B, kesempatan untuk menjadi orang yang sukses sama sekali tidak tertutup. Banyak konglomerat Indonesia yang mengawali hidup dari keterbatasan.

Menurut saya, berikut adalah beberapa hal yang bisa dilakukan oleh si B (dan juga si A) untuk bisa sukses.

Kerja Cerdas (Work Smart)

Jika seseorang terlahir sebagai si B, maka dia harus mampu berpikir keras untuk mampu kerja dengan cerdas dan pintar. Jika kita melihat kisah di atas, si A tiba di kantor dengan energi 95% dan si B 80%. Jika si B mampu bekerja dengan cerdas, maka dia tidak perlu menggunakan banyak tenaga untuk menyelesaikan sebuah tugas.

Misalnya, si A dan si B sama-sama diberikan tugas untuk menganalisis beberapa kasus sampai dengan siang hari. Katakan si A membutuhkan energi sekitar 40% untuk menyelesaikan tugas itu. Namun, jika si B mampu bekerja cerdas (work smart), mungkin dia hanya butuh 25% untuk menyelesaikan tugas tersebut. Dengan begitu, ketika tugas tersebut selesai pada siang hari, energi si A tinggal 55% dan si B juga 55%. Artinya, meskipun pada pagi hari si A punya energi lebih banyak, namun karena kerja si B lebih efisien, maka dia bisa mengoptimalkan energinya sehingga mereka bisa berada di level yang sama.

Ada banyak sekali bentuk kerja cerdas. Saya akan coba ambil beberapa contoh. Si B selalui memulai hari dengan melakukan prioritasi pekerjaan menggunakan Eisenhower Matrix. Dia me-list apa saja pekerjaan yang harus dilakukan terlebih dahulu dan apa yang harus sudah diselesaikannya pada hari tersebut. Dengan begitu, setiap detik yang dihabiskan oleh si B akan sangat efisien dan tepat sasaran.

Sukses melalui kemandirian atau pemberian
(source:https://athleticperformancetc.files.wordpress.com/2013/02/work-smart1.jpg)

Contoh lainnya, ketika si B diberikan tugas untuk menganalisis beberapa kasus; mungkin dia bisa membaca pola-pola kasus yang ada dan kemudian melakukan kategorisasi untuk kasus yang memiliki kesamaan penyelesaian. Dengan begitu, dia bisa membaca masalah per kategori dan memberikan solusi yang kemudian bisa diduplikasikan dengan cepat. Contohnya lainnya lagi, dengan menguasai shortcut dan setiap detail yang ada pada software-software komputer, si B dapat menyelesaikan sesuatu pekerjaan dengan lebih cepat. Kita ilustrasikan pada software yang biasa kita pakai sehari-hari, yakni Microsoft Word. Ketika si B bisa menggunakan sistem stlyes untuk setiap heading dan paragraf, maka akan menjadi cepat sekali jika si B harus mengganti style dari setiap heading atau untuk membuat daftar isi. Silakan anda berkunjung ke link website berikut: http://www.cherylreif.com/2012/03/27/10-ways-to-use-microsoft-word-more-effectively/ dan tanyakan pada diri sendiri apakah anda sudah memakainya.

Intinya, Dengan bekerja cerdas (work smart), seseorang dapat menyelesaikan sebuah masalah dengan lebih cepat dan tepat.

Kerja Kuat

Ketika si A dan si B ternyata sama-sama bekerja cerdas, maka langkah berikutnya adalah bekerja kuat. Si B harus mau dan mampu untuk melakukan sesuatu yang lebih atau willingness to do more. Bentuknya mungkin kerja sampai larut agar banyak hal yang bisa diselesaikan dalam satu hari. Meski begitu, seseorang harus pandai-pandai menyeimbangkan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan. Jangan karena terlalu larut bekerja, lantas berdampak buruk untuk kesehatan, relasi di dunia kerja, atau bahkan keharmonisan rumah tangga (untuk yang sudah menikah).

Kerja kuat juga saya artikan dengan mempertinggi stamina kerja seseorang. Katakan, kekuatan 100% si A itu ekivalen dengan 10 tenaga kuda. Jika kekuatan 100% si B itu ekivalen dengan 10 tenaga kuda juga, maka berarti kekuatan si A dan si B seimbang. Yang bisa B lakukan adalah meningkatkan staminanya dalam bekerja. Si B harus mampu meningkatkan stamina diri sehingga kekuatan 100%-nya mungkin setara dengan 20 tenaga kuda. Dengan begitu, setiap 10% tenaga yang dihabiskan oleh si A itu akan sama dengan 5% tenaga si B.

Yang dapat menjadi bahan bakar untuk meningkatkan stamina bekerja ini adalah mimpi dan kegigihan untuk meraih mimpi tersebut. Ketika seseorang sudah menyusun mimpi-mimpinya dan memiliki determinasi yang tinggi untuk menggapainya, maka dia akan mendapatkan dorongan tenaga yang maha dahsyat. Kerikil-kerikil kehidupan mungkin akan terasa sakit baginya, namun hal itu sama sekali tidak akan mengurangi usahanya untuk mewujudkan mimpi.

Perkuat kemampuan komunikasi

Ada banyak definisi dari kemampuan komunikasi. Pada kesempatan ini, saya fokus pada 3 kemampuan komunikasi yakni kemampuan untuk menyampaikan sebuah pesan dengan jelas, kemampuan untuk meyakinkan seseorang akan pesan yang ingin disampaikan, dan kemampuan untuk berbahasa internasional. Jika seseorang terus mempertajam dan memperkuat kemampuan komunikasi mereka, terutama 3 kemampuan di atas, saya yakin mereka bisa meraih sukses melalui kemandirian.

Saya punya teman yang saya akui kemampuan komunikasinya luar biasa. Dia dapat menyampaikan sesuatu dengan sangat jelas, dia sangat sangat mampu meyakini seseorang, dan dia juga mampu berbahasa inggris dengan baik. Meskipun tidak begitu pintar, dia pada akhirnya pernah menduduki posisi tinggi di sebuah organisasi berkat kemampuan komunikasinya. Saya salut kepada dirinya. Sayang, karena dia tidak mau terus mengasah kemampuan lainnya terutama hal yang berhubungan dengan technical skill dan leadership skill, dia pada akhirnya harus turun dari posisi tersebut.

Kemampuan komunikasi merupakan salah satu kemampuan yang sangat penting terutama di organisasi yang menuntut banyak interaksi antar individu. Saya punya banyak teman yang sangat pintar. Namun, karena mereka tidak begitu baik dalam menyampaikan pesan, meyakinkan orang, dan berbahasa inggris; perjalanan karir mereka seringkali mentok. Punya kemampuan komunikasi yang baik bisa mengantarkan seseorang ke posisi yang menjanjikan, namun itu hanya salah satu faktor yang bisa membuat seseorang sukses. Seseorang harus mau terus mengasah dan belajar kemampuan-kemampuan lainnya agar mampu menghasilkan keputusan-keputusan yang stratetgis, komprehensif dan tepat guna.

Tingkatkan kemampuan interpersonal

Di dalam organisasi, karena kita saling membutuhkan satu sama lain, maka kemampuan interpersonal menjadi sangat krusial. Saya pernah punya 2 teman, kita sebut saja si X dan si Y, yang bersaing untuk meraih sebuah posisi yang lebih tinggi. Pada akhirnya, pimpinan organisasi memberikan posisi tersebut kepada si X. Keduanya sama-sama pandai, mau bekerja keras, dan memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Hanya saja si X memiliki kemampuan interpersonal yang lebih baik. Dia disukai oleh kolega, tim, dan tentu saja si bos.

Dalam artikel ini, kemampuan interpersonal saya fokuskan pada kemampuan untuk bisa beradaptasi di dalam tim, kemampuan untuk berbicara dan bertindak dalam bahasa yang sama, kemampuan untuk mendengarkan, dan kemampuan berempati / menempatkan diri dalam posisi orang lain. Menurut saya, dalam kehidupan bisnis atau organisasi, pada akhirnya yang menentukan karir seseorang adalah kemampuan interpersonal. Sebagai makhluk tuhan yang memiliki perasaan, manusia pada akhirnya akan mengutamakan kenyamanan, yang dimana itu lahir dari pengalaman berinteraksi. Seorang atasan, pada akhirnya, akan memilih anak buah yang dirasa nyaman untuk bekerja sama dengannya: mau diajak melangkah bersama-sama, bisa diajak kerja dalam tekanan yang asyik atau super tinggi, dan bisa berinteraksi dengan hangat.

Jika seseorang cerdas, mau bekerja keras, dan pandai bercakap, namun sikapnya pongah, tidak membaur di dalam tim, terlalu egois, dan memandang remeh orang lain; besar kemungkinan dia tidak akan diterima oleh timnya. Atmosfir kerja yang saling menerima dan saling menghormati pada akhirnya dapat memberikan kinerja yang tinggi untuk sebuah organisasi.

Sukses melalui kemandirian atau pemberian

Seseorang bisa sukses melalui kemandirian atau pemberian. Kita tidak pada porsi untuk men-judge atau menjelekan satu sama lain. Seseorang yang terlahir dengan ‘kemewahan’ dari keluarga berada bisa berakhir di kesuksesan atau kebangkrutan. Banyak kita dengar kisah, anak dari pebisnis sukses, yang pada akhirnya berakhir menjadi pesakitan. Namun, banyak juga kisah anak pebisnis sukses yang kemudian kinerja bisnisnya bisa ‘melewati’ bisnis orang tuanya. ‘Kemewahan’ berupa support sehari-hari, network dan pengaruh dari orang tua yang luas, support modal, dan bahkan pemberian perusahaan sama sekali tidak menjamin seseorang menjadi sukses.

Kita mendengar banyak sekali kisah orang sukses yang terlahir dari keluarga yang memiliki keterbatasan. Etos kerja mereka lah yang mengantarkan mereka untuk menjadi sukses melalui kemandirian. Seseorang harus mau untuk belajar mengasah kemampuannya, sembari tak lupa untuk selalu bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan memberi untuk sesama. Semoga artikel ini menginspirasi kita untuk menjadi orang yang berguna bagi sesama.

Sukses melalui kemandirian atau pemberian.

2 Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top