Menyebarkan informasi

Suatu hari, di sebuah mesjid di Jakarta Utara, saya hendak melaksanakan ibadah salat Jumat. Pada tempat wudhu, ada 5 keran air untuk wudhu yang penuh dengan antrian. Kita beri nama saja keran A, B, C, D, dan E. Antrian pada kran A, B, C, dan E sangat panjang. Sementara itu, antrian pada keran D kosong. Ya kosong tidak ada yang mengantri. Setiap ada orang baru yang datang dan bertanya, “ini rusak ya?”, kemudian dijawab oleh yang sedang mengantri,”Ya rusak”. Kadang-kadang tanpa bertanya, ada yang menginformasikan, “Kran D rusak”. Informasi ini bergulir begitu cepat sehingga tidak ada orang yang mengantri di keran D. Saya mengamati bahwa orang tidak mau mengantri di keran D karena ada informasi yang terus menerus disebarkan alias ada orang yang tetap menyebarkan informasi berdasarkan informasi yang dia dapat sebelumnya. Karena antrian A, B, C, dan E sangat panjang; saya yang baru mulai mengantri berpikir untuk mencoba menguji kebenaran informasi kerusakan keran D. Toh, kalau memang rusak, saya tetap harus mengantri dari ujung. Saya memberanikan diri dan taraaa, kran D berfungsi, meskipun aliran airnya sedikit lebih kecil dibandingkan keran A, B, C, dan E. Seketika ketika saya memulai wudhu, jalur di keran D kembali terisi.

Momen ini membuat saya berpikir, kenapa orang tidak mau menguji kebenaran informasi itu. Satu, mungkin orang-orang tersebut mencoba mempercayai orang yang sudah memberikan informasi. Ya, sesuai dengan budaya timur kita yang menghormati orang lain. Dua, mungkin orang-orang malu dicap ngeyel (udah dibilangin rusak, masih tetap nyobain). Tiga, mungkin orang-orang tersebut malas saja untuk menguji sebuah kebenaran informasi. Dan masih banyak kemungkinan hipotesis lainnya. Ini yang menjadi dasar saya menulis artikel ‘menyebarkan informasi’ ini.

Menyebarkan informasi

Akhir-akhir ini, kita sering sekali menyaksikan orang-orang menyebarkan informasi tanpa melihat kualitas dari informasi tersebut. Padahal, menurut saya, ketika kita menyebarkan informasi tersebut, kita ikut bertanggung jawab atas isi dari informasi itu. Kita punya peran dalam mengedukasi masyarakat terkait pada penyebaran informasi tersebut. Sayangnya, banyak sekali orang yang menyebarkan informasi tanpa melihat kualitas dan kebenaran dari informasi tersebut. Ketika seseorang sudah menyakini sebuah pilihan, kadang dia akan menyebarkan informasi yang mendukung pilihannya tanpa melakukan kroscek dari informasi tersebut. Sayangnya (lagi), penyebaran informasi ini tidak selamanya berkolerasi positif terhadap tingkat pendidikan seseorang. Tidak selamanya orang yang berpendidikan tinggi pasti selalu menyaring informasi. Saya punya banyak teman yang berpendidikan tinggi dan karir sukses, tetapi mereka seringkali menyebarkan informasi tanpa melihat kebenarannya. Mereka menyebarkan informasi karena informasi tersebut mendukung pilihan mereka. Seperti yang pernah saya tulis di artikel menentukan pilihan, seseorang menentukan pilihan lebih karena sisi emosional dibandingkan rasional. Sangat mengecewakan ketika seseorang menyebarkan informasi dan kemudian tidak bertanggung jawab atas tindakannya dengan alasan tidak berusaha menggali kebenaran atas informasi tersebut. Think before you act!

Saya sendiri termasuk orang yang sangat jarang menyebarkan informasi, terlepas informasi itu mendukung pilihan saya atau bukan pilihan saya. Saya seringkali me-retweet atau share perasaan teman-teman fans Liverpool yang sedang gundah gulana, canda, atau informasi dengan sumber yang sangat jelas. Bagi saya, ketika saya ingin menyebarkan sebuah informasi, saya harus memastikan bahwa informasi tersebut akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Dan untuk mencari kebenaran informasi tersebut, ini membutuhkan usaha dan waktu. Usaha dan waktu inilah yang malas saya alokasikan mengingat saya punya agenda lainnya.

THINK

Bagi saya, ada 5 hal yang harus digali seseorang sebelum menyebarkan informasi. Kelima hal tersebut jika dijadikan akronim adalah THINK. Sebelum kita menyebarkan informasi, berpikirlah (think) apakah informasi itu:

  1. True? (apakah informasi tersebut betul)
  2. Helpful? (apakah menyebarkan informasi itu membantu)
  3. Inspiring? (apakah menyebarkan informasi itu bisa menginspirasi)
  4. Necessary? (apakah menyebarkan informasi itu penting)
  5. Kind? (apakah informasi itu disebarkan dengan baik)

Jadi, berpikirlah (think) akan THINK (True, Helpful, Inspiring, Necessary, Kind) dari sebuah proses penyebaran informasi. Dari 5 hal di atas, saya memegang teguh 2 poin yakni True dan Helpful.

Menyebarkan informasi

True
Pastikan informasi yang ingin anda sebar benar! Caranya bagaimana? Kroscek sumber informasi, silakan melakukan penggalian informasi di mesin pencari, diskusi dengan orang yang lebih ahli (bukan dengan sesama awam), dan banyak membaca buku. Jika anda belum melakukan hal-hal di atas, sebaiknya anda tidak menyebarkan informasi yang anda punya. Jika informasi itu benar, silakan melihat komponen lain.

Helpful
Apakah menyampaikan informasi tersebut dapat membantu seseorang atau sesuatu? Jika informasi yang anda miliki benar, namun tidak memiliki nilai manfaat, simpan untuk anda sendiri. Jika informasi anda benar dan bermanfaat (membantu), silakan dipertimbangkan untuk menyebarkan informasi tersebut.

Jika anda memiliki banyak waktu, silakan melakukan penggalian kebenaran informasi dengan pendekatan THINK sebelum menyebarkan informasi. Jika anda tidak memiliki kemewahan waktu untuk membuktikan kebenaran sebuah informasi itu, simpan informasi itu untuk anda sendiri. Masyarakat kita butuh informasi yang cerdas. Jika anda merasa menjadi bagian dari pencerdas bangsa, berpikirlah dua kali (think & T.H.I.N.K)!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to Top