Menikmati film The Greatest Showman

Saya bukan penikmat film. Saya jarang menghabiskan waktu 2 jam untuk menonton film di rumah atau bioskop kecuali film tersebut benar-benar menarik hati saya. Tetapi film musikal The Greatest Showman yang saya tonton di 2018 sangat berkesan buat saya. Saya menikmati film The Greatest Showman.

Film ini saya tonton sembari menikmati sebuah penerbangan internasional. Film ini (kebetulan) saya nikmati ketika saya sedang lelah-lelahnya dalam pekerjaan saya. Karena itulah, film ini memberikan banyak nilai bagi saya. Saya tidak dalam kapasitas mereview film ini secara profesional atau mendalam. Silakan merujuk ke IMDb atau Rotten Tomatoes jika ingin melihat penilaian dari pengamat film. Setiap orang bebas memiliki penilaian atas seleranya masing-masing dan saya sangat menikmati film ini.

Saya memilih film ini karena beberapa film menarik lainnya sudah saya tonton, mengingat saya sering bepergian menggunakan pesawat. Jujur, saya bukan penikmat film musikal. Jadi pemilihan film ini lebih karena tidak ada pilihan lainnya.

Menikmati film The Greatest Showman
The Greatest Showman
(sumber: http://owleyesmagazine.com)

Film ini sangat menarik bagi saya. Jalan ceritanya mungkin bukan sesuatu yang luar biasa. Pendalaman peran dari beberapa pemainnya juga tidak terlalu istimewa. Kisah biopik Barnum pun bisa diperdebatkan. Namun yang membuat film ini berkesan bagi saya adalah musik dan nilai (sosial) yang terkandung di dalam film.

Bagi saya, musik yang ada pada film ini sangat pas dengan ceritanya, baik dari sisi notasi / pemilihan nada, penyanyi, aransemen, lirik, dan penempatannya pada scene film. Saya ambil contoh, lagu ‘This is Me’ menggambarkan keberanian seseorang menghadapi kerasnya hidup dari berbagai sisi. Lagu ini muncul di saat yang tepat, ketika Barnum sudah terlena akan posisinya dan melupakan teman-temannya, lalu kemudian para grup sirkus masuk menggebrak dan berani melawan ‘penolakan’ publik. Secara aransemen, lagu ini menunjukan gairah dan amarah; dan dibawakan dengan apik oleh Keala Settle yang diiring dengan choir penuh semangat. Mayoritas lagu-lagu pada film ini mudah untuk dicerna (easy listening). Bagaimana bisa saya tidak menikmati film The Greatest Showman?

Yang membuat film ini berkesan adalah nilai-nilai yang terkandung di dalam film ini:

Impian

Impian dan semangat untuk mencapai impian menjadi salah satu bahan bakar utama film ini. Standar seperti film Hollywood lainnya, film ini mengangkat mengenai sebuah impian. Impian seorang Barnum, anak seorang tukang jahit, untuk tidak diinjak-injak, impian untuk hidup bersama dengan wanita yang dicintainya sejak kecil, impian untuk bisa menunjukan kebahagiaan ke mertuanya, dan impian untuk sukses dalam kehidupan. Ketika dia jatuh (bisnis sirkus terbakar habis), dia tidak menyerah untuk kembali bangkit dan menyusun kembali impiannya. Lagu ‘A Million Dreams’ pas menggambarkan nilai ini.

Ketamakan

Ini yang saya suka dari film ini. Bagian dari film ini mengkisahkan mengenai ketamakan seseorang. Ketika seseorang sudah sukses, terkadang dia lupa apa alasan awal dia ingin sukses. Seseorang ingin sukses di karirnya agar dapat membahagiakan keluarganya. Namun, sering kali kesuksesan seseorang malah harus mengorbankan kebahagiaan keluarganya. Dia melupakan alasan utama dia ingin sukses.

Ketika Barnum sukses dengan bisnis penyanyi opera Jenny Lind, dia melupakan dan menelantarkan bisnis sirkus yang membesarkan namanya. Ketika dia sudah bergabung dengan kaum elit, dia menghalangi teman-temannya (yang tumbuh bersamanya) untuk bergabung karena takut akan malu. Ketamakan akan penghargaan dan pengakuan membuatnya lupa terhadap hal-hal yang pernah besar bersamanya. Ketika telah besar, manusia pada hakikatnya ingin lebih dan lebih. Ada kalanya kita harus mengukur sampai seberapa cukup itu cukup.

Lagu ‘Never enough’ yang dibawakan oleh Loren Allred sangat pas untuk menggambarkan ketamakan seseorang. Lirik yang puitis dan gaya nyanyi dengan suara tinggi benar-benar membawa saya menikmati film The Greatest Showman ini.

“All the stars we steal from the nightsky
Will never be enough
Never be enough


Towers of gold are still too little
These hands could hold the world but it’ll
Never be enough”

Norma dan Nilai Sosial

Nilai ini merupakan hal yang paling berkesan bagi saya dalam menikmati film The Greatest Showman. Ketika Barnum mengumpulkan orang-orang ‘aneh’, publik awalnya tidak menerima. Seiiring berjalannya waktu, publik (digambarkan kelas bawah) bisa menerima sirkus tersebut, meskipun tetap ada penolakan untuk menyuruh orang-orang ‘aneh’ tadi pergi. Para oknum ini tidak nyaman dengan orang-orang yang dianggap aneh. Ini sesuatu yang menurut saya lumrah terjadi di kehidupan sekarang. Ketika ada orang atau sekelompok orang yang dianggap ‘aneh’, secara naluri, kita akan berusaha memproteksi diri dan menganggap keanehan ini sebagai suatu yang harus direspon secara hati-hati, entah itu ditolak mentah-mentah, diterima sebagian atau seutuhnya.

Dalam film ini juga digambarkan bahwa kaum atas menikmati opera dan kaum bawah menikmati sirkus ‘sampah’. Ini batasan-batasan sosial yang muncul secara spontan di masyarakat. Batas imajiner ini terkadang membuat orang tidak bisa menghargai pilihan satu sama lain. Ketika seseorang memilih A, dia dianggap bagian dari kelas tertentu dan akan ditolak / dihina dari kelas lainnya.

Yang menarik juga kisah ketika Phillip (Zac Efron) jatuh cinta dengan Anne Wheeler (Zendaya), momen ketika orang tua Phillip menghina (mempertanyakan) kenapa dia berpasangan dengan orang yang bukan dari kelas yang sama. Atau, ketika dilihat oleh orang tuanya, Phillip memilih melepas tangan Anne pas sedang bergenggaman tangan. Ada batasan yang terbentuk dari pola pandang sosial yang mengakibatkan pengelompokan-pengelompokan atas dasar-dasar tertentu. Sungguh tidak nyaman berada di kelompok ini.

Lagu ‘This is Me’ menjadi nilai kuat yang menggambarkan segerombolan orang yang berusaha untuk mendobrak batas-batas tersebut. Sebuah kritik terhadap keadaan yang kini lumrah terjadi di kehidupan bermasyarakat.


Banyak hal yang bisa dipelajari dalam film ini. Film ini menjadi pemacu semangat saya ketika saya sedang di bawah. Saya diingatkan mengenai realita kehidupan yang memang keras. Saya diingatkan terus mengenai sebuah impian (dan kegigihan untuk menggapainya), diingatkan agar dapat terus menjadi lebih baik dan diingatkan bahwa di luar sana, ada peran yang bisa kita ambil untuk memberikan manfaat yang lebih besar kepada masyarakat. Ada peran untuk mengedukasi masyarakat, mengurangi batasan-batasan imajiner yang tidak bermanfaat.

Yang belum menonton film ini, mari menonton. Mari bersama-sama menikmati film The Greatest Showman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top