Menikmati Dewa 19

Tulisan ini terinspirasi oleh video Gofar Hilam berjudul “#Ngobam Ari Lasso | Durasi Hampir 2 jam!“. Di video tersebut, Ari Lasso banyak bercerita mengenai kisah pribadinya dan kisahnya bersama Dewa 19. Setelah menonton video ini, saya jadi teringat masa-masa saya menikmati Dewa 19: Menikmati karya-karya Ahmad Dhani, Erwin, Andra, dan Ari.

Berkenalan dengan Musik Dewa 19

Pada saat Dewa 19 mengeluarkan album pertama, saya masih duduk di kelas 2 SD. Saya tidak pernah mendengar lagu-lagu Dewa 19 pada saat itu. Namanya juga masih anak SD, lagu yang didengar ya lagu anak-anak (pada masa itu, lagu anak-anak sangat berlimpah). Begitupun pada album ‘Format Masa Depan’ yang rilis pada tahun 1994 yang tidak pernah saya dengarkan saat itu. Saya mulai mendengar lagu Dewa 19 pada album ‘Terbaik-terbaik’, tepatnya ketika video klip ‘Cukup Siti Nurbaya’ dan ‘Cinta ‘Kan Membawa Kembali’ banyak berseliweran di TV swasta. Dulu, video klip sering muncul mengisi kekosongan setelah sebuah acara selesai namun belum masuk ke acara berikutnya. Meskipun beberapa kali terekspos ke lagu Dewa 19, saya belum menikmati Dewa 19. Pada saat itu, saya belum begitu tertarik pada dunia musik.

Album ‘Pandawa Lima’ yang kemudian menjadi album pertama Dewa 19 yang saya dengarkan secara utuh. Kebetulan, ketika album ini muncul, saya sudah menaruh ketertarikan pada dunia musik. Saat itu, saya sedang mengambil les kursus gitar klasik di Swara Indah Music School. Lagu Kirana yang menjadi pembuka album Pandawa Lima dan menjadi pembeda pada lagu-lagu Dewa 19. Saya ingat, ketika sedang mengikuti program pesantren dari sekolah, kakak-kakak panitia acara getol sekali mendengarkan lagu Dewa 19. Lagu Kirana ini akhrinya menempel sekali di otak saya. Berulang-ulang kali kaset Dewa 19 ini saya putar: side A, side B, side A, side B; cover album pun saya baca dengan seksama dan berulang-ulang. Album Pandawa Lima ini sukses besar di pasar dengan banyak lagu yang menjadi video klip seperti ‘Aku Disini Untukmu’, ‘Satu Sisi’, dan ‘Kamulah Satu-satunya’.

Album Pandawa Lima yang kemudian membawa saya mulai dapat menikmati Dewa 19. Baru setelah ini, saya sering mendengar lagu-lagu Dewa 19 pada album-album sebelumnya. Bersama teman, pernah juga kami nge-band membawakan lagu Dewa 19. Meskipun begitu, Dewa 19 bukan band lokal favorit saya saat itu. Pada masa SMP, saya sangat mengidolai band Gigi.

Memasuki tahun 1999, Dewa mengeluarkan album ‘The Best Of’ yang menjadi tanda perpisahan dengan Ari lasso. Saya yang sedang menikmati Dewa 19 ragu ketika pada tahun 2000, Dewa 19 muncul dengan vokalis baru, Once. Meskipun begitu, saya ingat saya langsung membeli kasetnya ketika lagu ‘Roman Picisan’ keluar. Namun sayang, pada awalnya, saya tidak menyukai album dengan judul ‘Bintang Lima’ ini dan saya menjual kaset saya ini ke teman. Buat saya, album ini terasa kurang nge-rock, kurang garang. Begitupula dengan album-album berikutnya ‘Cintailah Cinta’, ‘Laskar Cinta’, dan sebagainya; yang tidak pernah saya beli lagi kasetnya.

Munculnya era MP3 dan DVD bajakan (meskipun ilegal – jangan ditiru!) membuat akses ke lagu-lagu Dewa 19 semakin mudah dan saya menjadi mendengar lagu Dewa 19 kembali. Saya ingat, jaman SMA dan kuliah, saya sering mendengar lagu-lagu Dewa 19 dan Dewa dari album pertama sampai dengan album ‘Cintailah Cinta’. Tidak hanya lagu-lagu populer yang saya dengar, tapi hampir semua lagu Dewa pada album tersebut saya dengar. Album Laskar Cinta dan setelahnya relatif tidak pernah saya dengar.

Warna Musik Dewa 19

Saya sangat menikmati Dewa 19. Lagu-lagu Dewa 19 menarik dari sisi komposisi, harmonisasi nada, dan lirik. Meskipun saya bukan pemusik profesional, saya merasa lagu-lagu Dewa 19 sangat berkarakter.

Pada era Ari Lasso, pilihan nada lagu-lagu Dewa relatif sederhana dengan dentuman rock yang kental. Susunan chord seperti pada lagu ‘Kangen’ relatif umum (verse-nya hanya D-Bm-G-A), begitu pula pada lagu ‘Aku Milikmu’ (verse berkisar C-G-C-G). Ya, satu lagi paling hanya 7-8 chord. Chord progression-nya sederhana. Pertama mendengar lagu ‘Takkan Ada Cinta Yang Lain’, saya langsung menaruh perhatian khusus. “Lagu ini enak!”, hati berkata. Kuncinya minor, notnya simple tapi nendang! Begitu pula dengan lagu-lagu di album Terbaik-terbaik, yang menurut saya album paling ngerock di Dewa 19 tapi tetap sederhana. Masuk ke album Pandawa Lima, kompleksitas lagu yang rumit mulai muncul seperti pada lagu ‘Kirana’, ‘Aku Disini Untukmu’, ‘Cindi’; meskipun masih ada lagu yang ringan seperti ‘Kamulah satu-satunya’ atau ‘Aspirasi Putih’ (tapi tetap dengan lirik yang kuat).

Menikmati Dewa 19
Menikmati Dewa 19
(sumber: https://www.fimela.com/news-entertainment/read/2307220/8-tembang-lawas-dewa-19-yang-bikin-kamu-rindu-masa-lalu)

Memasuki album ‘The Best Of‘, saya merasa sedikit ada perubahan pada lagu Dewa 19 terutama pada lagu ‘Elang’ dan ‘Persembahan Dari Surga’. Chorus dan Reff pada lagu-lagu baru ini relatif menawarkan sesuatu yang baru dibanding Dewa 19 sebelumnya. Benar saja, album ‘Bintang Lima’ membawa perubahan, yang bagi saya, sangat signifikan. Karakter suara Once berhasil menerjemahkan komposisi yang baru dari Dewa. Lagu ‘Roman Picisan’ misalnya. Total chord ada 9, lagunya kaya nada, chord progression-nya asyik, dan aransemennya unik (sangat berbeda dengan band-band lokal pada saat itu, bahkan berbeda dengan album-album Dewa sebelumnya). Lagu ‘Kosong’ punya total 13 chords. Lagu ‘Pupus’ menegaskan rasa yang baru dari Dewa, dengan solo guitar + outro dari Andra yang legend banget. Siapa yang bisa sangka, Dewa bisa muncul dengan lagu ‘Arjuna’ yang menurut saya cukup nyeleneh dari gaya Dewa pada umumnya.

Dewa era Once dan era Ari Lasso sangat berbeda. Tidak hanya pada karakter vokal mereka sebagai penyanyi, tetapi harmonisasi lagu dan komposisi Dewa 19 juga berbeda. Bagi saya pribadi, jika ditanya ingin punya suara seperti siapa jika bisa menyanyi, saya akan menjawab Once. Suara Once relatif bisa dibawa kemana-mana dan suaranya empuk. Terlepas pada jumlah penjualan album, kedua formasi ini menurut saya asik pada zamannya masing-masing. Menikmati Dewa 19 itu menyenangkan!

Kejeniusan Sang Kiboris

Ahmad Dhani adalah salah satu orang penting di balik sukses Dewa 19. Banyak musisi hebat yang mengatakan bahwa Ahmad Dhani adalah seorang jenius. Saya sangat sependapat. Album Cintailah Cinta, yang lagu-lagunya relatif kompleks tetapi dapat diterima dengan baik oleh masyarakat, diciptakan oleh Ahmad Dhani. Lagu-lagu transisi Dewa dari Ari ke Once yakni ‘Elang’ dan ‘Persembahan dari Surga’ juga karya Ahmad Dhani. Lagu-lagu popular dan rumit pada album-album pertama juga banyak dibuat oleh Ahmad Dhani seperti ‘Kangen’, ‘Tak Kan Ada Cinta Yang Lain’, ‘Cinta ‘Kan Membawamu Kembali’, dan lain-lain.

Sebagai arranger dan produser, karya-karya Ahmad Dhani spektakuler. Tidak ada hasil sentuhan Ahmad Dhani yang menurut saya terdengar kosong. Perpaduan bunyi-bunyi alat musik, fill in, serta permainan piano / keyboard Ahmad Dhani sendiri selalu menghasilkan karya musik yang kaya.

Tidak hanya untuk album Dewa, beberapa lagu ciptaan Ahmad Dhani juga berhasil dinyanyikan oleh musisi lain dengan baik seperti Rahasia Perempuan – Ari Lasso, Anggun – Elfonda Mekel (Once), sebagian lagu Ratu di awal, Dewi-Dewi, atau salah satu Diva Indonesia, Reza Artamevia. Karya-karya Ahmad Dhani di Ahmad Band dan The Rock juga tak kalah menarik. Lagu ‘Perempuan Paling Cantik di Negeriku Indonesia’ tak hanya menampilkan judul yang menarik tetapi juga aransemen musik yang mengarah patriotis.

Kejeniusan Ahmad Dhani mungkin tak luput karena referensinya yang kuat terhadap karya The Queen, yang bagi saya adalah band terbaik sepanjang sejarah. Mungkin jarang atau tidak akan pernah lagi kita menemukan sebuah karya seni seperti ‘Bohemian Rhapsody’.

Menikmati Dewa 19

Sampai dengan artikel ini ditulis, saya masih sangat menikmati Dewa 19. Banyak lagu Dewa saya masukkan dalam Apple music library saya. Berharap suatu hari ada buku biografi Dewa 19 yang super lengkap menceritakan Dewa 19 dari berbagai sisi seperti alasan sebenarnya Syuman diberhentikan, kisah Erwin Prasetya keluar dari Dewa (padahal Erwin adalah bassis inspirasi saya), dan lain-lain. Dewa 19 adalah kepingan penting dari sejarah musik Indonesia terutama perkembangan band musik di Indonesia bersama dengan band-band fenomenal lainnya seperti Koes Plus, God Bless, Slank, Sheila on 7, dan banyak lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top