@ London

Ini merupakan tulisan pertama saya semenjak tinggal di London, atau bisa dibilang tulisan pertama saya di semester 2 tahun dua ribu sepuluh. Semester pertama tahun 2010 dipenuhi dengan persiapan menikah dan sekolah. Rasanya tidak banyak waktu yang bisa saya habiskan untuk menulis. Alhamdulillah proses menikah telah saya lewati dan Alhamdulillah pula saya diterima di salah satu universitas di London, UK. Sekarang, meskipun tugas kuliah luar biasa banyak, saya mencoba untuk menyempatkan kembali untuk menulis. Senang rasanya bisa menulis kembali.

Karena merupakan tulisan pertama saya di London, saya mau bercerita mengenai ekspektasi saya dan kenyataan yang harus saya diterima di kota ini. Menceritakan bagaimana awalnya saya membentuk persepsi mengenai kota London, yang kemudian ternyata itu hanya mimpi nol besar. Semoga saya bisa menarik pelajaran dari apa yang telah saya alami.

Sebelum saya berangkat ke negeri ini, saya berekspektasi berlebihan mengenai kota ini. Saya tidak banyak bertanya ke teman-teman atau kerabat saya yang tinggal di Eropa seperti apa tipikal dan suasana sosial kota-kota di benua biru ini. Saya pun tak banyak menyimak berita internasional yang menyangkut negeri ini. Yang saya tahu hanyalah Liga Sepakbola Inggris yang penuh gegap gempita dan tampak sangat menarik untuk menjadi bagian darinya. Saya membayangkan London merupakan sebuah kota yang sangat nyaman untuk ditinggali. Mengacu pada kota Singapore yang terkenal akan tingkat kedisplinan yang tinggi, saya membayangkan London juga memiliki budaya sama seperti itu. Saya juga membayangkan London merupakan sebuah kota metropolitan layaknya kota metropolitan di banyak negara Asia atau mungkin seperti kota New York, yang sering saya nikmati di film-film.

Saya salah ternyata! Setelah waktu berlalu detik demi detik menemani kehidupan saya di London, saya menyadari bahwa ekspektasi saya terlalu berlebihan. Tanpa disertai dengan data-data yang memadai untuk dijadikan sebagai informasi, saya  ternyata melakukan kesalahan besar dalam menciptakan persepsi mengenai kota London sebelum saya berangkat. Karena tingkat harapan saya terlalu tinggi, maka ketika kenyataan tidak sampai di titik tersebut atau bahkan sangat jauh di titik tersebut, sudah pasti kekecewaan menjadi teman saya di awal-awal kehidupan di London ini.

Dua prediksi saya yang tepat mengenai London hanyalah cuaca dan biaya hidup. Sebelum berangkat ke negeri ini, saya sudah mempersiapkan diri bahwa kota ini sudah pasti memiliki kondisi cuaca yang sangat berbeda dengan Indonesia dan saya juga sudah mempersiapkan diri bahwa sudah pasti biaya hidup tinggal di kota ini sangat tinggi sehingga ketika kenyataan memang seperti itu, saya sudah bisa mengatasinya.

Akan tetapi, banyak hal yang terjadi di London di luar ekspekstasi saya. Pertama, London ternyata merupakan sebuah kota tua, atau lebih tepatnya kota yang sederhana, yang tidak menawarkan sebuah dunia baru untuk saya. Karakter kota sangat tertata modular disini. Saya menyangka kota ini menawarkan banyak sisi glamor ala New York dan teknologi super canggih ala film Amerika, ternyata saya salah. Kedua, ternyata dunia transportasi disini tidak cukup membahagiakan. Mass Rapid Transit (MRT) seperti tube atau biasa dikenal dengan istilah underground, ternyata menawarkan sebuah cerita klasik. Setiap minggu ada saja jalur tube yang mati karena harus ada perbaikan. Tube juga sering mengalami keterlambatan sehingga kita terkadang harus berpacu dengan waktu. Selain itu, sering kali terjadi strike yang berujung pada dihentikan layanan tube. Kalau sudah seperti, maka bus lah yang menjadi moda transportasi utama, yang sayangnya bisa memakan waktu hampir 2 kali lipat daripada menggunakan tube. Suatu hari dosen saya memperlihatkan peta jalur tubekota London, dan dia bertanya, “informasi apa yang kalian dapat dari peta ini?”. Kita diam dan beliau pun menjawab,”ini adalah sebuah sistem transportasi yang ketinggalan 50 tahun dibandingkan dengan negara maju lainnya”. Dan yang terakhir, saya ambil tiga kasus saja untuk mewakili kekecewaan saya, adalah servis yang ada di kota ini. Saya menyangka di kota ini, jika saya ingin membeli jasa servis, benefit yang saya dapatkan luar biasa, baik dari sisi proses maupun hasil. Ternyata, saya salah lagi. Disini  ketika saya hendak membuka account bank, saya harus membuat janji terlebih dahulu dengan customer servis. Saya tidak bisa, layaknya walk-in customer di Indonesia, datang ke Bank dan langsung membuka account pada hari itu, meskipun saya sudah membawa dokumen yang lengkap. Karena saya pernah bekerja di Bank, saya merasa ini aneh. Kenapa tidak bisa? Saya bertanya dan jawabannya adalah prosedural. Disini semua membutuhkan waktu, yang menurut saya, sangat lama dibandingkan dengan di Indonesia. Membuka layanan internet untuk flat pun saya harus menunggu selama 1 bulan. Saya ingat ketika saya membuka layanan internet di Indonesia, sekitar satu minggu, saya sudah bisa merasakan kehadiran internet. Ya, saya fikir dengan embel-embel “developed county”, negara ini sudah seharusnya menawarkan sebuah kepuasan luar biasa untuk saya. Ternyata saya salah.

Sejenak saya berfikir, siapa yang salah? Saya yang berekspektasi terlalu besar atau kota ini yang tidak menyediakan realisasi dari mimpi saya? Sudah jelas, saya yang salah. Seharusnya saya menggali dulu data sebanyak-banyaknya sebagai bahan informasi dalam membentuk persepsi. Gara-gara tidak melakukan hal tersebut, saya mengalami kekecewaan karena ada penggeseran persepsi yang telah saya tancapkan di otak saya sebelum saya berangkat dengan kenyataan yang terjadi. Saya jadi teringat sebuah teori tahapan seorang dalam menghadapi ketidaksesuaian, yang terdiri atas 5 bagian:
1.  Denial
2.  Anger
3.  Bargaining
4.  Depression
5.  Acceptance
Lima tahapan di atas bukanlah proses yang wajib atau harus dilalui dalam setiap perubahan. Ada kalanya dalam perubahan, satu tahap di atas tidak dilewati.

Saya telah mengalami tahap-tahap tersebut dalam proses perubahan persepsi dan kenyataan. Saya tidak menerima dan marah ketika saya merasakan London jauh dari ekspektasi saya. Saya kesal, namun tidak ada yang bisa saya perbuat. Saya tidak mungkin menawar ke pemerintah Inggris untuk bisa menyiapkan moda transportasi yang reliable, dengan clause saya bakal pergi. Saya menyadari, bahwa saya harus cepat masuk ke dalam tahap acceptance. Saya harus menerima dan bisa melakukan adaptasi terhadap perubahan dengan cepat.  Ada sebuah kutipan yang sangat saya sukai, yakni “If nothing ever changed, there’d be no butterflies”. Sebuah keindahan akan muncul jika kita bisa melewati dan mengatasi perubahan. Saya yakini diri saya untuk menerima perubahan persepsi ini dan mencari seoptimal mungkin potensi yang bisa digali dari kekurangan tersebut. Dengan menerima persepsi ini, saya kini sedang menikmati proses pembelajaran di London dan berharap semoga kelak bisa menjadi agent of change untuk bangsa saya.

Sampai berjumpa kembali, indonesia.

9 Responses

  1. hmm….aku cmn pengen tanya di london suasananya sperti apa??
    aku kepengen banget lanjutin sekolah nnti disana…
    apakah disana bagus,…?dan disana benuansa ceria??
    btw disana lgi musim apa??
    trims ea…
    salam dari indonesia untuk london,UK

    1. Hi Clara,
      Suasananya seperti berada di tengah2 kombinasi kota tua dan kota modern. Tidak 100% Metropolitan karena msh bnyk zona yg sangat kental dengan nuansa historiknya, namun juga tidak semuanya masih beraroma. Pokoknya sangat menyenangkan untuk merasakan iklim London dan UK baik dari sisi fasilitas publik, budaya, seni, dan lain-lain.
      Kalau ditanya, apakah sekolahnya bagus, Ya relatif. Setiap sekolah memiliki keunggulan sendiri.
      Ya, cukup worth kok utk menikmati sistem pendidikan disini.
      Nuansa ceria? Hmm, ya saya mah ceria-ceria saja disini 🙂
      Skrg lg musim autumn.
      Salam dari London.

  2. Halo mas giri, salam kenal
    saya lagi nulis cerpen tentang london nih. butuh referensi daerah pemukiman di situ, sama nama jalan-jalan di london. kalo ada sama daerah pemakaman sekalian. trims~ 😀

  3. suka banget sama blog mas giri 🙂 london negara impian saya untuk di kunjungi mas! doain bisa kesana 🙂 jadi saya senang sekali update blog mas giri:D lanjutin terus tentang pengalaman di london ya mas!:D

  4. Sejauh ini tulisan Kak Giri yang paling aku suka mengenai London ya ini. (Sebenarnya aku belom selesai baca seluruh artikel ttg London sih.) Tulisannya ngubah gambaran kota London di otak aku.
    Sm kyk Kak Giri, aku kira London itu kota yang hebat, serba teratur. Ternyata ga juga ya? Kalo liat air di foto yang ada bridge nya itu kok airnya kecoklatan ya? Kotor atau memang begitu?
    Tapi beda sama Kak Giri, aku belum dpt kesempetan menginjakkan kaki aplg hidup di London. Hahaha.
    Lanjutin cerita2 ttg Londonnya ya Kak. Bener2 menambah wawasan org yg belom pernah ke London kyk aku 😀 dan bisa jadi sumber referensi buat nulis.

    1. Hi Della,
      Terima kasih telah berkunjung.
      Silakan membaca terus 🙂
      Ya, sungainya emang coklat, tp ga kotor kok.
      Mungkin karena dangkal, mungkin karena dasarnya tanah, mgkn krn bnyk bakteri coklat, dan mungkin2 yg lainya.
      Sy jg ga kefikiran knp coklat. Hehe..
      Smoga suatu hari Della bisa mampir ke London.
      Salam,
      Giri

  5. Hallo, thanks mas Giri! blognya sangat membantu, saya adalah salah satu penggemar kota London(ya walau blm pernah kesana tp doain aja suatu hr nanti hehe) setelah membaca blog anda, itu jadi mengubah pemikiran saya ttg kota london.Tapi menurut artikel lain yang saya baca, London itu lebih menarik daripada New York.Kalau London aja udah begini, gimana nanti New York ya? hadeehh (–,)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top