Budaya Perencanaan Yang Baik

Suatu hari, istri saya mengalami sakit gigi. Dia pun menghubungi dokter gigi untuk membuat appointment dengan harapan bisa mendapatkan perawatan segera pada hari itu atau setidaknya dalam waktu dekat agar bisa menghindari perihnya sakit gigi. Namun, budaya disini berkata lain. Appointment baru bisa diadakan seminggu kemudian. Solusi yang diberikan pada saat itu hanyalah  pain killer. Ketika kita tiba pada hari-H, ternyata appointment tersebut hanya untuk  pemeriksaan terhadap masalah gigi. Untuk dilakukan eksekusi atau penyembuhan seperti tambal atau operasi, pasien perlu membuat janji lagi yang memakan waktu satu sampai dengan dua minggu. Hal ini tidak hanya terjadi pada istri saya. Teman saya juga pernah mengalaminya dan dia bercerita, ya alhamdulillah sakit giginya hilang sendiri.

Pertama kali melihatnya, saya cukup terkejut. Dokter gigi disini memiliki jadwal yang sangat jelas, tepat dan detail. Untuk pemeriksaan awal, setiap pasian diprediksi akan memakan waktu 30 menit. Setelah pemeriksaan awal, dokter gigi akan mengetahui solusi apa yang bisa diberikan kepada pasien dan berapa lama waktu yang dibutuhkan. Namun eksekusi tidak akan dilakukan pada hari yang sama. Katakanlah, untuk solusi operasi kecil, dibutuhkan waktu 2 jam. Dokter gigi tersebut akan menjadwalkan waktu 2 jam pada slot waktu yang masih kosong untuk dipilih pasien agar dapat dilakukan operasi kecil. Dokter gigi tidak akan memberikan eksekusi langsung kepada pasien yang baru datang karena sebelumnya dia telah membuat janji dengan pasien lain sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Jadi, pasien yang datang ke dokter gigi tidak perlu berlama-lama menunggu karena jadwal dokter gigi telah tersusun dengan rapi.

Hal ini tidak hanya berlaku untuk dokter gigi. Jika anda sakit flu, anda harus membuat janji dengan General Practitioner (GP) atau dokter prakter disini untuk melakukan pemeriksaan. Dan, bisa saja anda baru bertemu dengan dokter anda 2-3 hari kemudian. Disini semua jadwal tersusun dengan rapi. Jika memang sakit anda tak tertahankan, baru anda akan direkomendasikan oleh GP untuk pergi ke emergency atau perawatan gawat darurat.

Suatu hari saya berkesempatan bertemu dengan salah satu official dari NHS (National Health Services) dan bertanya perihal membuat janji untuk bertemu dokter atau GP. Kenapa harus membuat janji terlebih dahulu jika saya mengalami sakit? Jawabnya, hal itu dilakukan untuk:

  1. Membuat masyarakat lebih peduli terhadap diri sendiri.  Mereka harus rutin berolahraga dan rutin mengecek kesehatan sehingga tidak ada sakit yang sifatnya datang mendadak, meski tak bisa dihindari terkadang ada penyakit datang secara tiba-tiba. Karena itulah ada unit gawat darurat.
  2. Masyarakat harus bisa merencanakan waktu dengan bijak. Jika sejak awal telah merasakan rasa sakit pada tubuh, segerakan menghubungi GP atau dentist. Mulailah dari hal-hal yang kecil dan jangan biasakan menunda sampai masalah/sakit menjadi akut.
  3. Masyarakat diajak untuk tidak manja yang sedikit-sedikit pergi ke dokter.  Masyarakat harus punya kemauan untuk menyembuhkan diri sendiri.
  4. Memudahkan urusan administrasi dan membuat manajemen waktu yang baik.

Saya yakin itu hanya sekian dari alasan fundamental terkait isu appointments. Sistem health services disini sangat rumit dan kompleks dimana saya belum sempat memahaminya secara menyeluruh. Tapi setidaknya hal di atas merupakan pandangan saya sebagai masyarakat umum.

Jika anda berfikir ini hanya berlaku untuk urusan rumah sakit, anda salah. Suatu hari saya pergi ke Bank untuk membuka tabungan baru. Setiba disana, mereka tidak memberikan layanan membuka akun baru melainkan memberikan pilihan waktu untuk saya datang kembali perihal membuka tabungan baru. Mereka harus mempersiapkan waktu untuk saya dalam agenda mereka karena pada saat tersebut mereka telah memiliki daftar pekerjaan yang harus dikerjakan sehingga saya harus membuat janji terlebih dahulu. Menakjubkan!

Selain itu, sistem transportasi di London juga terencana dengan baik. Pada hari ini, saya sudah bisa melihat jadwal maintenance jalur sistem tube (semacam kereta listrik) untuk waktu 3 bulan ke depan. Dengan begitu, saya sudah bisa merencanakan dengan seksama kepergian saya ke suatu tempat dari sisi moda transportasi di kota London. Meskipun begitu, terkadang dalam pelaksanaan sistem transportasi, terdapat kegagalan sistem yang bisa mengakibatkan delay atau gangguan lainnya. Para pekerja disini juga cukup menghargai waktu. Terkadang, dalam satu hari, kita mengetahui apa saja yang akan mereka kerjakan sampai waktu kerja berakhir dan mereka akan mengerjakan tepat waktu guna menghindari waktu lembur. Secara garis besar, masyarakat disini tidak menyukai budaya lembur. Alokasi waktu dalam satu hari sangat penting sebagai bagian dari perencanaan. Tidak hanya karyawan, suatu perusahaan juga dituntut untuk bisa menghargai waktu karyawan yang sangat berharga bukan hanya untuk bekerja, namun juga untuk keluarga dan sosialisasi dengan berbincang-bincang di bar atau mengadakan party.

Masih banyak lagi aspek kehidupan di UK yang sangat erat dengan perencanaan yang matang. Kebiasaan merencanakan dapat bertransformasi menjadi budaya berencana. Berencana merupakan langkah awal menggapai kesuksesan. Sukses adalah ketika seseorang berhasil mencapai apa yang direncanakan. Dalam satu hari, jika seseorang telah merencanakan sesuatu dan berhasil mencapainya, maka kata sukses layak disematkan kepadanya. Ada yang bilang, ‘fail to plan, so you plan to fail‘. Budaya berencana itu akan dimulai dari setiap hal yang mungkin sepele bagi masyarakat negara lain namun menjadi hal yang fundamental disini. Mulai dari sekarang, mulai dari hal-hal yang kecil.  Perencanaan yang baik akan memberikan sebuah platform untuk bergerak dan bertindak dengan perhitungan resiko, biaya dan waktu yang matang sehingga dapat menghindari hal-hal buruk yang sejak awal dapat dihindarkan. Dalam suatu kondisi tertentu, perencanaan harus mampu fleksibel memecahkan persoalan yang ada. Ketika telah berhasil berencana, maka pelaksanaan dan pengawasan/evaluasi menjadi hal penting untuk dilakukan berikutnya sebagai bahan evaluasi untuk proses perencanaan berikutnya. Kehadiran budaya perencanaan yang baik, saya yakin, akan membawa ke arah pembangunan manusia dan negara yang lebih produktif dan efisien.

4 Responses

  1. Terkadang dokter akan segera melakukan tindakan apabila kasus yang ditemui sederhana, contohnya tambalan yang baru saja lepas.

  2. Hello Mas Giri.
    Mohon bantuannya anak saya Dewi usia 24 Tahun akan traveling libur di London arrival tgl 25 July dari Bali, apakah bisa tinggal di Wisma Merdeka?
    Transportasi dari Bandara ke Wisma Merdeka…naik taxi jauh nda ya
    saya hanya khawatir klo dgn transport lain menyulitkan buat dia karena bawa koper………
    Dewi akan enter Belanda visanya baru tgl 2 Agustus…
    Terim kasih atas guidancenya
    Salam Ibu Christina Juwono (Ni Ketut Khirsnawati)

    1. Yth. Bu Christina,
      Untuk memastikan apakah ada room yang available, silakan menghubungi langsung Wisma Siswa Merdeka. Silakan liat kontaknya di http://www.indonesianembassy.org.uk/info_residence.html. Saya sarankan Bu Christina mengirimkan email dan lalu menelpon. Seringkali kalau hanya mengirim email, pembalasannya lambat. Kalau memang ada room yang kosong, mudah2an diperbolehkan.
      Dari Bandara ke Wisma Siswa merdeka lumayan jauh. Jika membawa koper besar dan tidak biasa naik angkutan umum, saya sarankan naik taksi. Jika koper kecil dan suka berpetualang, naik tube (metropolitan) rasanya tidak masalah. Jika naik taksi, banyak sekali tersedia black cab (taksi resmi) di bandara. Ya resikonya mahal. Jika mau murah, bisa order taksi yang bukan black-cab.
      Semoga membantu.
      Salam,
      Giri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top