Rasisme

Rasisme.
Suatu hari, ketika sedang dalam perjalanan menuju ke Oxford Circus, saya mendengarkan lagu ‘Ebony & Ivory’ yang memang sudah ada di playlist ipod shuffle saya. Mendengarkan lagu itu rasanya sangat nyaman. Liriknya sangat dalam, “Ebony And Ivory Live Together In Perfect Harmony, Side By Side On My Piano Keyboard, Oh Lord Why Don’t We?“. Harmonisasi nada pada lagu itu pun sangat nikmat untuk dihayati. Perpaduan suara Paul McCartney dan Stevie Wonder semakin menambah kesempurnaan lagu tersebut.

Mendengar lagu tersebut, otak saya melayang menuju kata Rasisme. Konon lagu ‘Ebony & Ivory’ menyimpan makna untuk mengajak manusia memerangi rasisme. Lagu ini hanyalah salah satu dari propaganda di bidang musik dalam rangka menciptakan kehidupan manusia yang saling menghormati, apapun warna kulitnya, apapun sukunya, apapun nasionalisme-nya.

[yframe url=’http://www.youtube.com/watch?v=M3WFLm6qO9o’]

Sepengalaman saya, UK sebagai negara maju, sangat memperhatikan kesamaan hak untuk setiap manusia. Rasisme merupakan musuh bersama yang harus dihanguskan disini. Jika ada seseorang yang merendahkan orang lain berdasarkan warna kulit, suku, agama, dan sejenisnya; maka yang bersangkutan dapat dijerumuskan ke penjara. Jika ingin melamar pekerjaan pun, perusahaan-perusahaan di UK selalu memperhatikan asas Equal Opportunity. Bahkan kini, kasus makian John Terry yang diduga berbau rasisme akan berakhir di pengadilan negeri (bukan di level pengadilan olahraga lagi).

Lagi-lagi, kata Rasisme mengajak saya melamun ke sebuah tim sepakbola kebanggaan saya, yakni Liverpool. Salah satu pemain Liverpool, yakni Luis Suarez, terkena hukuman dilarang bermain 8 laga gara-gara mengeluarkan kata-kata mengarah rasisme kepada salah satu pemain Manchester United, Patrice Evra. Dalam pembelaannya, Suarez menyatakan bahwa kata yang dia ucapkan tersebut bukanlah hal yang jelek di negeri asalnya. Buat saya, pernyataan itu sungguh konyol. Ada pepatah, Lain Padang Lain Belalang. Sudah sepatutnya seorang mampu beradaptasi dan memahami peraturan, norma dan budaya dimana tempat dia bekerja. Sangat salah jika Suarez menganggap kata-kata di negeri dia yang artinya tidak buruk, bisa dengan seenaknya dilayangkan disini. Sebagai contoh, seseorang dari Amrik, datang ke UK, menggunakan mobil di UK dan kemudian dia menyetir di sisi kanan jalan. Oh, sudah pasti dia akan menabrak mobil dari arah yang berlawanan karena peraturan disini mengharuskan pengguna mobil berada di sisi kiri jalan seperti layaknya di Indonesia. Sungguh bodoh jika orang Amrik tersebut berkata, “Di Amrik, pengguna mobil berada di kanan jalan. Jadi maafkan saya jika tidak ‘sengaja’ menabrak mobil anda”. Dia harus mampu memahami kondisi dan iklim dimana dia berada melalui membaca buku, browsing, bertanya teman, dan lain-lain. Ya, menurut saya hukuman 8 laga sudah sangat baik sebagai efek jera untuk ukuran seorang pemain sepakbola. Jika Suarez masih melakukan hal-hal berbau rasisme, sudah sepatutnya dia dilarang bermain 2 musim atau mungkin selamanya. Nilai utama dari sepakbola adalah sportivitas dan fair play. Jika seorang pemain telah ‘melanggar’ hakikat dari sepakbola, lebih baik dia menyingkir dari dunia sepakbola. Sebagai penggemar Liverpool dan sepakbola, saya berharap Suarez telah belajar dari kesalahannya dan saya juga berharap tidak ada lagi ‘Suarez’ lain di olahraga sepakbola.

Rasisme
Luis Suarez

Setelah lamunan mengenai Liverpool berakhir, lamunan saya berpindah lagi ke negeri asal saya Indonesia. Saya berfikir, rasanya negeri saya ini banyak sekali orang rasis. Benar Indonesia memiliki Bhinneka Tunggal Ika, namun kebhinekaan itu saya rasa tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan multi-etnis di Inggris atau Prancis. Di Inggris, bukan cuma masalah orang lokal dari utara, selatan, london atau apa. Tapi rasanya sudah mencakup semua etnis yang ada di dunia ini. Di Indonesia, sering saya mendengar orang yang merasa dirinya pribumi mencemooh orang Indonesia lain hanya karena mereka dari etnis tertentu. Sayang sekali, hukuman untuk orang-orang yang merendahkan orang lain berdasarkan warna kulit atau etnik, belum ada di Indonesia (atau mungkin saya belum tahu). Pernah ada seseorang mahasiswa di Indonesia yang mengejek sesama orang Indonesia di belahan timur dan hukuman yang dia dapatkan ‘hanyalah’ DO. Padahal dia menghina dan merendahkan bagian dari Indonesia. Sangat disayangkan. Saya berharap Indonesia bisa tumbuh tanpa harus kita membenci karena warna kulit, etnis, dan sebagainya. Kita ini satu! Selama darah Indonesia mengalir di dalam tubuh kita, rasanya tak perlu merendahkan sesama saudara Indonesia. Apapun warna kulit kita, apapun etnis kita, saya memimpikan semua warga Indonesia mampu bergotong royong menciptakan negeri yang rukun, harmonis dan maju.

Rasisme

2 Responses

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top