Hidung Bule

Hidung Bule.
Artikel sebelum ini, Rasisme, terinisiasi dari lamunan ketika sedang di tube. Lagi-lagi ide artikel ini berasal dari lamunan ketika sedang berada dalam tube. Semakin lama saya di tube, rasanya semakin banyak saya memahami kehidupan.

Suatu hari, sepanjang perjalanan dari Ealing menuju Oxford Circus, saya memperhatikan wajah-wajah orang bule di depan saya. Dan pada hari itu, fokus saya tertuju pada organ wajah bernama hidung. Kebetulan di tube ini sedang ada beragam orang, dari etnik Kaukasia sampai Asia. Saya memperhatikan hidung-hidung orang asing di tube ini dengan hati-hati dan berusaha untuk tidak terlihat sedang ‘mengintip’. Pada artikel ini, saya ingin membicarakan hidung bule dan hidung orang Indonesia secara umum. Mungkin ini hanya sebuah totum pro parte yang tidak bisa dijadikan sebagai simpel yang reliable. By the way, saya sangat yakin ada ilmu atau studi yang mempelajari mengenai struktur wajah manusia. Jadi, kemungkinan artikel ini sangatlah dangkal jika dibandingkan dengan studi tadi. Namun, ya buat saya, ya tetap menarik memperhatikan hidung-hidung orang bule.

Untuk mempermudah penjelasan, akan saya gunakan analogi pada gambar berikut dengan axis X menyatakan lebar hidung dan axis Y menyatakan tinggi/kemancungan hidung.

hidung bule

Jika saya perhatikan, hidung bule itu cenderung mengandung asas vertikalisme (jika dalam posisi tidur).  Dengan kata lain, X-nya cenderung kecil sedangkan Y-nya cukup tinggi, bahkan kadang-kadang sangat tinggi. Ibarat dalam ilmu urban, pembangunan lebih digalakkan  secara vertikal seperti pembangunan apartemen puluhan lantai, atau kantor pencakar langit. Ya, jadi hanya memakan space / lantai dasar yang kecil akan tetapi pembangunan  ke atas lebih maksimal. Di lain pihak, jika saya memperhatikan hidung orang Indonesia (termasuk saya), seolah-olah mengandung asas horizontalisme, dengan kata lain nilai X-nya cenderung tinggi sedangkan nilai Y-nya rendah. Ibarat ilmu urban, ya pembangunannya melebar ke samping, tidak vertikal ke atas. Sejenak saya berfikir, wah dari wajah saja, orang bule ini sudah berfikir vertikalisme. Hebat sekali ya. Wajar sekali jika negeri-negeri barat lebih banyak membangun gedung, kantor, atau apartemen secara vertikal guna tetap menjaga kehadiran ruang terbuka hijau di sisi horizontal. Berbeda sekali, misalnya dengan Jakarta, yang pembangunan kotanya selalu melebar ke samping alhasil rasio ruang terbuka hijau kurang dari 10%. Saya berfikir lagi, apa mungkin ini gara-gara hidung ya.

Lalu saya memperhatikan bagian lain yakni lubang hidung mereka. Dengan menganut asas vertikalisme, saya melihat lubang hidung bule cenderung lebih luas dibandingkan dengan orang Indonesia. Karena sege-gedenya nilai X+Y hidung orang Indonesia cenderung masih kalah ama X+Y orang bule. Nilai Y mereka bisa 2.5-4 kali orang Indonesia. Sedangkan nilai X orang  Indonesia maksimal mungkin hanya 2 kali mereka. Ini yang membuat luas hidung dan lubang hidung bule lebih besar. Lagi-lagi saya bertanya dalam hati, wah dengan lubang hidung yang lebih luas, mungkin wajar jika orang bule itu lebih cepat panas dalam bekerja. Semakin luas lubang hidung, semakin banyak input O2, dan mungkin semakin cepat pula darah mengalir ke otak. Mungkin pula, itu yang membuat para pemain sepakbola Eropa memiliki stamina dan kadar Oksigen dalam darah lebih tinggi. Ah, mungkin ini pertanyaan yang tak harus dijawab.

Ketika hendak mencapai Oxford Circus, saya kembali berfikir, mungkin wajah orang bule itu lebih proporsional dan lebih mengikuti kaidah golden section. Karena itulah wajah bule lebih laku di Hollywood, bahkan yang berbau kebule-bulean laku keras di Indonesia. Saya berfikir seperti bukan tanpa alasan. Jika kita melihat wajah orang bule dari depan (tepat berhadapan wajah ke wajah), hidung mereka cenderung pipih dan tidak ‘makan tempat’ sehingga wajah mereka terlihat lebih elok. Jika kita lihat dari agak menyamping (tapi bukan sisi samping wajah), hidung mereka yang mancung membuat artikulasi wajah lebih ramai.  Bahkan jika kita melihat dari perspektif mata burung, hidung mereka yang nilai Y-nya sangat tinggi, tetap memberikan lekukan signifikan pada wajah. Itu yang mungkin membuat mereka terlihat lebih ganteng atau cantik secara universal. Hmm, saya yakin pasti ada alasan ilmiah dibalik pemikiran saya yang konyol ini.

Meski begitu, saya tetap bangga menjadi orang Indonesia. Buat saya, orang yang paling cantik di dunia tetap orang Indonesia, ya istri saya. Karena cantik itu bukan cuma urusan wajah.

Hidung Bule

7 Responses

  1. Interesting observations :D. Curiganya memang hidung yang lebih besar itu juga membuat mereka lebih mudah bernafas di udara dingin (sekedar kesimpulan pribadi yang sempat megap2 ketika harus jalan agak jauh di suhu -11C).
    Setuju juga tentang artikulasi wajah, meskipun sadar nggak sih, kalau orang bule itu sudut wajahnya lebih tegas? Rasa2nya orang Asia lebih rounded soft gitu (ini juga sadar gara2 ada teman bule yang memuji wajah saya yang terlihat soft, katanya) dan hal ini juga membuat wajah Asia nggak kalah menarik (mungkin 😉 ).
    Jadi ingat dulu pernah liat website ini: http://www.faceoftomorrow.com/ isinya composite wajah2 orang yang digabung secara digital di beberapa kota besar dunia. Wajah “rata-rata” begitu ternyata jadi wajah yang lumayan sempurna.

  2. Please produce the English version of this article OMG Giri so funny… I’m seriously cracking up. I get the satire but it’s seriously so funny!!

  3. Siapa yang paling cantik giiiir???? Uhuk2..
    Btw itu golden section kali maksudnya.
    Bagaimana dengan bolongan hidungnya pak giri?

  4. bangsa arab juga hidungnya tinggi-tinggi,sehingga sudut-sudut wajah mereka juga tegas seperti yang Anda katakan diatas (artikulasi wajah),mungkin ini juga sebabnya orang arab relatif tegas/agak galak.orang arab & bule itu berasal dari ras yang sama (http://id.wikipedia.org/wiki/Kaukasoid.jadi tak hanya bule saja,bangsa arab pun hidungnya tinggi-tinggi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top