Budaya telat waktu

Beberapa bulan terakhir, saya sering melakukan pertemuan dengan orang di luar kantor. Terkadang bertemu di kantor mereka, terkadang di restoran, terkadang di kedai kopi, dan sebagainya. Sudah pasti bertemu dengan orang baru selalu menarik dan membawa kesan tersendiri. Tapi yang menarik bagi saya adalah budaya telat waktu.

Dari pertemuan-pertemuan saya 6 bulan terakhir, ini adalah hasil telaah saya:

  • 55% dari total pertemuan: Orang yang saya temui telat
  • 41% dari total pertemuan: Orang yang saya temui tepat waktu
  • 4% dari total pertemuan: Saya telat
budaya telat waktu
Telat
(sumber: https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/0/06/Running_for_the_train…but_too_late%21_%283515046308%29.jpg)

Ya, artikel ini bukan untuk orang lain saja, tetapi sebagai pengingat untuk penulis juga. Saya mengalami telat lebih dari satu kali karena nyasar (meskipun saya sudah menggunakan Google Maps) dan satu kali karena saya terlalu asyik mengobrol pada pertemuan sebelumnya. Saya selalu mengusahakan untuk menginformasikan orang yang akan saya temui bahwa saya telat. Tak lupa, kata-kata mohon maaf saya gunakan sebagai pembuka. Saya selalu menyampaikan bahwa saya akan telat sebelum waktu pertemuan. Misalnya pertemuan mulai jam 14:00 WIB, saya akan usahakan untuk menginformasikan seawal mungkin (jika akan terlambat), atau paling telat setidaknya 5 menit sebelum 14:00 WIB atau pukul 13:55 WIB. Saya sendiri tidak pernah terlambat lebih dari 15 menit dari waktu yang telat ditentukan (ini hanyalah dalih / pembelaan diri dari penulis, maaf).

Budaya Telat Waktu

Hal lainnya yang menarik bagi saya adalah dari 41% pertemuan dengan orang lain tepat waktu, sebagian besar terjadi karena pertemuan diadakan di kantor mereka. Meskipun begitu, ada saja yang telat meskipun sudah diadakan di kantor mereka. Jika saya keluarkan jumlah pertemuan di kantor mereka dari jumlah total pertemuan (artinya hanya memuat pertemuan yang terjadi di tempat netral / bukan di tempat salah satu pihak), maka hasil barunya adalah:

  • 77% dari total pertemuan: Orang yang saya temui telat
  • 18% dari total pertemuan: Orang yang saya temui tepat waktu
  • 5% dari total pertemuan: Saya telat

Ya, jika diadakan di tempat netral, maka 77% dari pertemuan saya berawal dengan keterlambatan orang yang akan saya ajak bicara. Alasannya bisa bermacam-macam, ada yang karena punya pertemuan sebelumnya dan memakan waktu lebih lama, ada yang karena macet, ada yang karena nyasar (seperti alasan saya), bahkan ada yang tidak berkabar sama sekali.

Budaya telat waktu
Persentasi kehadiran tepat waktu pada pertemuan

Budaya telat waktu ini (mungkin) cukup mengakar di sini. Saya pernah membaca salah satu interview eksekutif asing di sebuah koran (koran Bisnis Indonesia kalau tidak salah), ketika ditanyakan mengenai salah satu hal utama yang mengganggu dia di Indonesia, jawabnya adalah jam karet yang lumrah terjadi di antara karyawannya. Bahkan kata ‘jam karet’ digunakan sebagai judul pada artikel interview tersebut. Sepertinya eksekutif ini kesal sekali dengan budaya telat waktu ini.

Saya bisa bilang budaya karena rasanya cukup mengakar di masyarakat kita dan sering terjadi. Bahkan terkadang dianggap bukan sebagai dosa. Orang merasa tidak bersalah jika datang terlambat. Tidak ada kata maaf keluar dari mulutnya. Seolah keterlambatan adalah bagian yang lekat dari masyarakat ini.

Pada artikel ini, saya tidak ingin menceramahi mengenai keterlambatan, mengingat penulis juga telat 5% dari total pertemuan (mohon maaf, ini adalah murni kesalahan penulis). Penulis hanya ingin mengajak, mari kita lebih menghargai waktu. Orang lain sudah hadir tepat waktu, mari kita usahakan untuk bisa datang tepat waktu juga. Atau jika tidak bisa tepat waktu, jangan terlalu terlambat. Lebih baik lagi, jika orang yang akan kita temui, kita kasih kabar jika akan terlambat.

Lebih baik kita yang menunggu daripada orang lain yang menunggu. Namun, alangkah baiknya jika semua tepat waktu dan tidak ada yang menunggu

Kalian bisa menemukan cara-cara agar dapat tepat waktu dengan mencari di mesin pencari seperti Google. Ini salah satu link mengenai cara agar tepat waktu. Masih banyak artikel-artikel mengenai tepat waktu yang dapat kalian temukan di Google.

Mari kita hapus budaya telat waktu dan hadir tepat waktu.
Salam tepat waktu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *